
*****
Aku benar benar binggung apa yang harus aku lakukan....ku coba mencari cara untuk yang terakhir kalinya, kali ini kulihat ada sebuah botol miras di atas nakas samping tempat tidur yang terbuat dari bambu nakasnya pun dari kayu bekas.
Segera aku menyembunyikan botol tersebut di sebelah kakiku, aku berniat memukulkan ke tempat tidur berani dia menyentuhku tak segan segan aku tusukkan ke tubuhnya. Aku sudah seperti orang kesetanan, tak perduli jikalau aku nanti di penjara asalkan tak di setub*hi oleh b*jingan itu.
Cekrek...
suara pintu di bukak olehnya, rasa hormat rasa kasihan sesama manusia hilang sudah....semakin muak aku melihat wajahnya. Diapun tersenyum sinis berjalan ke arahku. Kini dia hanya memakai kolor yang sudah kumal. Terlihat panu di mana mana, aku semakin jijik dibuatnya. Rasanya ingin muntah saja.
"Kamu sudah siap sayang....melayani aku....akan kubuat kamu seperti melayang di udara. Pejamkan matamu, turuti apa kataku jangan pernah memberontak lagi percuma ...nggak ada yang dengar ...!?". Perintah Pak Rudi semakin memojokkan Gendhis.
Aku hanya bisa menangis menahan rasa getir di dada. Mataku terpejam ketika tangan kasarnya menyentuh bibirku. Seketika aku meludah di mukanya.
"cuih....cuih....cuih...." Tiga kali aku meludah dan mengenai muka dan badanya. Pak Rudi bukanya marah malah tertawa lepas.
"Terus saja meludah aku nggak jijik. kamu malah semakin membuatku penasaran ..dibuatnya..!!?".
Lelaki setengah baya ini malah menjadi njadi entah setan apa yang sudah merasukinya
Aku menangis histeris dan tak sanggup melihat Pak Rudi mau melancarkan aksi b*jatnya. kulayangkan di kepalanya botol kosong bekas minuman keras darah segar keluar dari kepalanya. Entah apa yang membuat aku sekuat ini yang tadinya lemah menjadi kuat seperti ada kekuatan yang datang untuk membantuku. Yang tadinya botol niatnya aku pecahin di ranjang ini tanpa berfikir langsung aku pecahkan di kepalanya.
Tetapi dia masih tegar meskipun banyak darah yang keluar sekarang dia mau menusukku untung aku tangkis hanya tanganku saja yang tergores tidak terlalu parah. Aku berlari menjauh darinya semakin binggung aku di buatnya selangkah lagi akhirnya dia tumbang juga. Mudah mudahan dia hanya pingsan bukan meninggal.
__ADS_1
******
Sinyal handphone timbul tenggelam ada sebuah pesan masuk segera Bos Galih mengeceknya. Ternyata pesan Video dari Gendhis. Bos langsung berteriak "ada kiriman Video dari Gendis !!??". Segera membuka whatshap ternyata sinyal tenggelam lagi.
"Aku juga ada Video Gendhis, punyaku sinyalnya juga tenggelam..!!". Firman dan Adit juga mendapat kiriman yang sama dari Gendhis dan semua orang yang Gendhis kenal memang Gendhis kirimin. Namun keluarganya mungkin belum membacanya.
Firman meminta mobil berhenti sebentar tiba tiba perutnya sakit pingin buang hajat. Padahal jaraknya sedikit lagi sampai kira kira 500 meter lagi. Mobil pun minggir ke tepi ada sungai kecil di belakang semak semak Firman membuang hajatnya. Bos Galih tak berhenti berusaha beliau naik di atap mobil menggoyang goyangkan ponselnya.
"Tring....". Pesan Whatshap berhasil mengunduh akhirnya video berhasil masuk ke galeri tak butuh sinyal lagi. " Alhamdulillah ..". Terangnya semua menanti video dari Gendhis, apa yang sebenarnya di kirim.
"Ayo semua cepat.....ini sangat bahaya ...
lihat berapa kilo lagi di map gogle ..!?". Tanya Bos Galih sembari melompat tutun dari atap mobil.
"Bos punyaku kok nggak bisa di buka Videonya...!? . Sinyal ini tenggelam lagi...Bos Galih menceritakan apa yang di omongkan Gendhis dari awal sampai akhir.
"Kalian Jangan takut aku lihatkan wajah kakak keponakanku sudah lari terbirit birit mereka. Kalau merteka berani melawan kita bakalan di pecat secara tidak hormat..!!??". Komjenpol (Komisaris Jenderal Polisi)Pangkat Komisaris Jendral Polisi merupakan pangkat ke-2 tertinggi di kepolisian, dan setara dengan Letjen atau letnan jendral di TNI. Bintang 3
"Tetapi Bos bagaimana kalau Bos memberitahu foto itu waktu Bos bersama kakaknya itu mereka langsung menembak kita semua...!!??". Terang Adit ketakutan dengan polisi di depan sana.
Aku punya rencana kita berbohong saja kepada mereka. Bilang saja sebentar lagi sampai ...pasti nggak ada pemikiran sampai menghilangkan barang bukti.
"Benar Bos..." kita semua serempak berkata kata dan setuju dengan ide Bos Galih.
__ADS_1
Segera mereka turun dari mobil yang baru saja berhenti. Bos Galih langsung menunjukkan foto kakak keponakanya yang pangkatnya sangat ditakuti oleh kelima polisi yang berjaga jaga di sana ...Dan memberi informasi bahwa kakaknya sedang dalam perjalanan kesini. Karena sinyal mangkanya nggak di vidioin. Mereka langsung memberi hormat..
"Siap pak.." Serempak kelimanya memberi hormat dan mempersilahkan kami masuk. Mereka sempat beradu pandang dan binggung.
Kami segera berlari dan menuju rumah yang di bilang Gendhis dalam videonya tadi. Tiga orang diluar segera menghadang kami, salah satu dari mereka berlari kecil menuju pal polisi. Merekapun berbisik bisik dengan polisi kelihatanya bertengkar. Polisi itupun segera pergi meninggalkan tempat ini.
Kelihatanya mereka berdebat untuk menyerah saja terapi teman Pak Rudi memilih bertarung pantang menyerah sebelum kalah.
Teman mereka berlari dan berbisik kepada mereka entah apa yang sedang diomongkan mereka karena volumenya sangat kecil.
Mereka segera mengambil pistol dari kotak di mobil yang terparkir di garasi samping agak jauh . Bos Galih segera memberi kode supaya kita segera bergerak sebelum pistol itu di bagikan ke teman mereka.
Kami empat belas orang segera berpencar semua segera mencari perlindungan. Bos Galih, Firman, dan Adit memasuki ruangan dimana mereka di sekap. Ketika pintu di bukak semua berteriak menangis histeris..."Kemana Gendhis..!!??". Bos Galih langsung berteriak setelah melihat Gendhis tidak ada di tempat.
Ada seorang lelaki duduk di depan keempat wanita tawanan mereka....Bos Galih meraih kemeja bagian krah dan membentaknya.
Lelaki salah satu teman Pak rudi hanya tersenyum sinis, akhirnya mereka berduel hebat
Sementara Adit dan Firman berhasil mengunci pintu supaya ketiga lelaki di luar tidak bisa masuk. mereka hanya khawatir dengan. pistol yang di bawanya.
kalau saja mereka tidak membawa pistol pasti mereka sudah menang. Suara tembakan diluar seperti suara petasan, tetapi kelihatanya anak buah Bos Galih semburat entah bersembunyi di mana...
Debby berteriak sembari menunjuk pintu menuju ke bawah tanah.." Ayo bantu Gendhis dia berada di bawah sana....bersama baj* ngan itu Rudi yang sungguh seperti b*nat*ng.
__ADS_1
Bos Galih semakin bringas mendengar ucapan Debby dan melayangkan tinju beberapa kali ke wajah teman Pak Rudi. Darah segar mengalir di hidungnya. Diapun tersungkur di kaki Fitri, Rera dan Vanya. Ketiga wanita ini juga menginjak injak badan yang sudah kesakitan sembari meringkuh miring di lantai.
Bos Galih segera membuka pintu itu dan berlari ke bawah langsung memeluk Gendhis dan mereka berdua menangis tak kuasa menahan haru. Gendis memeluk erat karena keajaiban datang diluar nalar. kali ini nasibnya terselamatkan. Sementara Adit melihat di tangan dan leher Pak Rudi masih ada denyut nadinya apa nggak untuk memastikan masih hidup atau sudah meninggal.