
******
Nasi telah matang,kamipun segera makan berdua,Almayra masih asik bermain di taman belakang rumah bang Sardan,ia sudah makan di suapin mama tadi.
Melihat bang Sardan makan dengan lahapnya,segera aku vidioin kukirim ke mama,Bang Sardan tertawa kecil dengan senyuman khas ganteng dan kalemnya,seperti artis ari wibowo.
Hatiku berdegub kencang,melihatnya membuat getar getar kecil tergugah di hatiku,membuat kekaguman tersendiri, salah tingkah aku dibuatnya,"ach Gendhis,hatimu harus konsisten dengan Debby dan Fitri".Celotehku ku tabok sendiri pipi kananku...".
"Ngapain Ndis ?,muka sendiri kok di tampar,ngomong apa tadi nggak dengar kecil sekali ngedumelnya".
"Itu bang!,em.....ada nyamuk nakal hinggap tanpa permisi,ha...ha..!".
Tangan bang Sardan tak sengaja mengelap nasiku yang belepotan dan mengusapnya,dengan tisu....,hati siapa?yang tak meleleh,diperlakukan seromantis ini!!??.
Selesai sudah kami makan, dan aku Segera merapikan meja makan,dan berusaha menyembunyikan wajah merahku yang sebenarnya senang diperlakukan seperti ini.
Sini Ndis kita berbincang bincang di teras belakang,sembari mengawasi Almayra yang asik dengan permainannya .
Ndis..??bagaimana kabar mantan kamu sekarang? cerita donk,waktu itu kan belum selesai kamu cerita...!!.
Oh Iya Bang,mertuaku yang jahat sekarang udah sakit sakitan di dalam penjara kabarnya sih begitu?aku takut mau nengok,trauma nggak berani takut dengan gurunya Suhu Ajimat, jadi aku nggak mau lagi menemui mereka,takut di guna guna atau dia berbuat jahat lagi kepadaku sudah cukup,aku dan Almayra diperlakukan sedemikian buruknya.
Tiba tiba bang Sardan memijit keningnya...,dan keringatpun mengucur "Kenapa bang pusing?...,badan abang panas".Bang Sardan hanya terdiam dan,kemudian pingsan,akupun panik!!.
Segera kuraih ponsel ku telefon Gadhis,dan aku Segera memanggil ambulan..!.
setengah jam sudah aku dalam kepanikan,Almayra terus memegang tangan Bang Sardan, dan menangis dia merasa bang Sardan sebagai sosok seorang papa bagi putri kecilku,sayangnya melebihi papa kandungnya.
kuusap rambut ikal anakku dan kubisikkan om Sardan baik baik saja,hanya kecapean mungkin tidur sebentar setelah badanya enggak capek pasti ngajak Alma main lagi!.
Aku terharu melihat ketulusan bang Sardan ke Almayra begitu besar,sampai anakku takut kehilangan dia.
Suara sirine terdengar semakin. dekat,aku pun bergegas lari ke depan membukakan pintu,2 perawat masuk memeriksa bang Sardan,setelahnya membawa Bang Sardan ke mobil,Gadhis datang bersama ayah dan mama kami pun mengikuti mobil ambulan dari belakang.
30 menit kamipun sampai di pelataran rumah sakit tepatnya di depan UGD,segera mereka membawa masuk bang Sardan,kami menunggu di ruang tunggu,sekitar 10 menit dokterpun keluar ruangan.
"Keluarga saudara Sardan".Dokter memanggil saudara pasien.Aku segera beranjak menemui dokternya.
__ADS_1
"Iya Dok saya...!!".
Pasien belom sadar,mungkin beberapa saat lagi akan sadar,kita keruangan saya dulu bu ada yang mau saya sampaikan..!!.
Segera kami berjalan beriringan ke ruangan pak Dokter,dan beliau menjelaskan penyakitnya,meskipun tanpa tes ,kemarin sudah di periksa lengkap,jadi bang Sardan sengaja menyembunyikan penyakitnya dari kami semua.
Kasihan sekali,bang Sardan seketika kakiku dan sekujur tubuhku lemas,dokter menyarankan agar kami sekeluarga memberi semangat dan dorongan untuk kesembuhan bang Sardan.
"Bu Gendhis..kalau pengalaman kami saudara Sardan umurnya tidak lama lagi,namun kita hanya manusia,Tuhanlah penentu segalanya,jadi saran saya di usia yang masih ada,terus beri dukungan,dan dorongan untuk bisa sembuh..!!".
"Terima kasih Dokter kami akan membantu Bang Sardan melewati masa masa ini..!!".
Kulangkahkan kaki menuju ruang tunggu,dalam hati kecilku aku bertanya apakah harus kurahasiakan penyakitnya Bang Sardan,atau aku beritahu keluargaku.
Aku putuskan sembari menunggu Bang Sardan siuman,aku akan memberi tau keluargaku,kami akan sama sama memberikan semangat untuk Bang Sardan.
Sakit apa kak Bang Sardan..!,tanya Gadhis.
Mataku berkaca kaca,seperti ada sesuatu yang tercekik di leher,semua mata tertuju padaku aku binggung,bagaimanapun bang Sardan sudah ku anggap sebagai bagian dari kami.
"Sa...sakit kanker otak stadium akhir...!!".
Mama Artha membulatkan matanya,semua lemas mendengar Bang Sardan sakit parah.
"Iya ma kita semua harus menguatkanya".
"Keluarga saudara Sardan",suster memanggil dari ruang ICU.
"Iya .....saya keluarganya sus"....,saudara Sardan sudah siuman,dia memanggil manggil nama Gendhis,.
"Saya Gendhis Sus..!!".
Segera aku berlari kecil menghampiri Bang Sardan,diikuti keluargaku.
Tak tega rasanya melihat alat alat yang dipasang di sekujur tubuhnya,dengan air mata menetes Bang Sardan melihat kami semua.
Sudah bang kami sudah tau penyakit Abang nggak perlu disembunyikan lagi,Kita hadapi bareng bareng bang ya...,semangat pasti abang bisa melewati ini semua.
__ADS_1
"Terima kasih Ndis,kamu adalah orang yang sangat membantu aku dari menjadi orang baik,sampai aku sakit kamulah yang mendampingi aku,tak tau lagi aku harus membalasnya dengan apa ...??!!".
Jangan berkata seperti itu bang kalau bukan karena abang, aku juga tidak akan mengetahui seperti apa nasibku sekarang,yang penting sekarang abang sehat dulu,kita hadapi sama sama bang,aku siap nemenin abang sampai kapanpun.
"Iya jangan Pikirkan itu kita kan sudah mengangap kamu seperti anak kami sendiri,kalau ada apa apa bilang jangan di simpan sendiri,kami siap mendampingi kamu benar kata Gendhis",Mama Artha memberi nasehat,kami sekeluarga bakalan suport abang Sardan sampai sembuh.
Suster masuk ke dalam ruangan,mengingatkan supaya bergantian satu orang saja di dalam sini tidak boleh lebih,demi kenyamanan bersama,semua keluar tinggal aku sama bang Sardan di ruangan sekarang.
"Ndis aku boleh minta tolong...??".
Apa Bang?..
Tolong carikan aku pengacara?.
Untuk apa Bang pakai pengacara..?
Ada sesuatu hal yang harus aku omongin,nanti pada waktunya kamu akan tau sendiri,entah rahasia apa yang Sardan sembunyikan dari Gendhis,sampai sampai berurusan dengan pengacara.
Baiklah Bang nanti aku coba hubungi temanku yang pengacara.
Aku turuti saja kemauan Bang Sardan,dan aku tidak mau tau urusan apa itu,yang penting bang Sardan cepat pulih dari kondisinya yang seperti itu!.
Segera kucari nomor Temanku Roy pengacara yang biasa menangani masalah di kantor Bos Galih.
Dret....Dret....
"Assalamualaikum ".
"Waalaikumsalam",hay Ndis ada yang bisa saya bantu?
Iya bang ada kerabatku yang butuh bantuan abang?apa persoalannya aku tidak mengerti nanti Bang Roy tanyakan sendiri ke Bang Sardan kerabatku!.
Baiklah besok setelah makan siang temukan aku dengan dia kasih alamatnya!.Sang pengacara yang bernama Roy langganan Gendhis yang biasa menangani kasus kantor,jejaka tetapi dia agak agak b*nc* ,selalu menang dalam menangani kasus kasus besar maupun kecil.
Mudah mudahan Bang Sardan tidak memiliki masalah serius,dan segera membaik,aku sangat bahagia mengenal sosoknya,dia bisa menjadi sosok jadi Papanya Almayra,bisa jadi kakakku sosok yang aku rindukan dari dulu ingin punya kakak lelaki.
Rupanya tuhan mengirimkan malaikat,seperti Bang Sardan di kehidupan keluargaku.
__ADS_1
Tuhan panjangkan umurnya,sehatkan badanya,angkat penyakitnya,dia lelaki yang sangat baik,tak terasa mataku menetes,mengingat diagnosa dokter tentang penyakitnya,segera aku menyeka mataku jangan sampai Bang Sardan tau kesedihanku!!.