
*****
Seminggu sudah Gendhis,Debby dan Fitri berada di rumah sakit,semenjak bang Sardan tau kalau Gendhis juga mencintainya,semakin lengket mereka berdua membuat Debby dan Fitri curiga.
"Fit gelagat mereka berdua mencurigakan ya",bisik Debby .
"Aku juga merasa seperti itu ...".Fitri menimpali.
"Hai kalian bisik-bisik apa sih ...",Gendhis memicingkan mata keheranan melihat dua sahabatnya berbisik.
Mata Bang sardan langsung tertuju kepada kedua sahabatnya dan tersenyum tipis.
"Enggak kok Ndis,kami lapar kepingin makan bakso lagi ...benar ..nggak Fit..!?",Debby sengaja mengalihkan pembicaraan lain bukan tentang kecurigaanya terhadap hubungan keduanya karena segan sama bang Sardan.
"Ayo pesan-pesan saja selama ada abang di sini kalian minta apa saja yang kalian mau",,timpal Bang Sardan.
"Terima kasih bang...!ini hari terakhir kita di rumah sakit, besok sudah pulang betulkan Ndis",Debby meyakinkan dan bertanya lagi pada Gendhis.
"Iya Bang Alhamdulillah ...".kata Gendhis membalas.
Aku izin mau terapi dulu kalian pesan aja,ini Ndis .Bang Sardan memberikan uang pecahan 50 ribuan sebanyak 10 lembar.
Ya Allah kenapa tiba tiba kepalaku pusing banget serasa mau pecah,akhirnya Bang Sardan berbalik arah menuju kamarnya.Dalam hatinya bergetar hebat merasakan penyakitnya kambuh.
Sesampainya di kamar dia rebahan,sembari memencet bel darurat,supaya suster atau perawat cepat datang menolongnya.
Sembari merintih kesakitan sendirian"Aku sudah tidak kuat ya tuhan....,sakit sekali,aku sudah siap menghadapmu meskipun aku belum sempurna dan banyak dosa"serasa sudah ada firasat, saatnya bang Sardan kembali menghadap kepada sang pemilik jiwa yang menurut manusia belum sempurna,tetapi kita tidak pernah tahu menurut yang kuasa seperti apa ,semoga husnul hatimah.
Salah seorang perawat masuk dan mengecek suhu badan panas 39 derajat,suster memanggil rekanya dan langsung membawa Bang Sardan ke ruang ICU.
Salah satu perawat berlari keruangan Gendhis dan temanya,memberitau Bang Sardan kambuh dan pingsan.
Semua tau kalau Gendhis adalah sanak saudara bang Sardan,seketika itu buliran menetes dari kedua mata Gendhis dan teman temanya,mereka menyadari dari tadi bang Sardan menahan sakit yang amat menyiksa,sungguh mereka sangat menyesal.
"Debb,Fit,kenapa kita tadi tidak menanyakan keadaan bang Sardan ya..??",sabar Ndis mudah mudahan tidak terjadi apa-apa sama bang Sardan iya,kita berdoa kepada tuhan semoga baik baik saja. Debby dan Fitri mencoba mengguatkan Gendhis.
__ADS_1
Segera mereka bertiga bergegas,alhamdulillah infus di tangan masing-masing sudah di lepas,tinggal menunggu dokter memeriksa terakhir kalinya baru boleh pulang.Peraturan di rumah sakit ini.Seharusnya sudah tidak apa-apa sayangnya Pak Dokter masih libur,karena bertepatan hari minggu terpaksa kami sabar menanti hari senin.
Setelah berjalan kira-kira 100 meter,ketiganya sekarang berapa di luar ruangan ICU,tepatnya di depan kamar bang Sardan di rawat,semua selang dan peralatan yang begitu banyak terpasang sungguh pemandangan yang sangat membuat hati sesak di dada.
Gendhis langsung meraih ponsel dan menelfon mama Artha,Ayah Rangga,Gadhis memberitau keadaan bang Sardan.
"Bu Gendhis...!".Tiba-tiba ada suster memanggil nama Gendhis.
"Masuk bu,bang Sardan meminta ibu ke dalam",dengan kaki sedikit pincang akibat kecelakaan waktu itu masih meninggalkan sedikit luka.
Segera Gendhis memegang tangan Bang Sardan, dan kedua mata bang Sardan maupun Gendhis menetes bersamaan.
"Semangat Bang,aku disini menantimu kita akan hidup bersama suatu saat nanti,Almayra juga sudah menganggap abang papanya,mama ayah,Gadhis semua membutuhkan abang",Dengan tangis serak Gendhis meminta bang Sardan semangat.
Gendhis maafkan abang,terima kasih atas semua kebaikan kamu selama ini,titip pesan sama nenek sartijah,aku belum sempat berpamitan sama nenek,sampaikan terima kasih dan maafku.
Bang Sardan menarik nafas panjang,monitor sedikit berbunyi tit....tit.....,segera Gendhis menuntun dengan bacaan"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah",saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan (Rasul) Allah.
Kedua mata diusap kebawah,terlihat bahagia ketika semua alat di lepas,wajah tampan dan cerah."Semoga husnul khotimah bang...!ditempatkan di syurganya Alloh..!!,amin".Gendis berucap sembari menahan tangis.
Suster menepuk pundak Gendhis" Sabar bu ya,kami sudah berusaha semaksimal mungkin,hari ini terakhir bang Sardan di sisi kita,tuhan lebih sayang sama bang Sardan.
kedua temanya berteriak histeris,terdengar jelas teriakan mereka hingga membuat keluarga Gendhis yang baru datang tersentak kaget.
"Abang Sardan..!!".
"Abang! Innaillahi wainailahi rajiun...bang Sardan!".
Seketika ayah memeluk Gendhis,sementara mama dan Gadhis juga berteriak histeris,Untungnya Almayra tidak ikut,dititipkan di tante Siska.
Debby dan Fitri ikut merangkul Gendhis,mereka masih tercenggang tidak percaya, baru beberapa menit yang lalu masih berbicara,itulah kuasa tuhan tidak menunggu waktu kalau sudah ajalnya tiba seketika itu juga di panggil.
"Ayah tolong telefon Nenek Sartijah,ada amanat yang harus aku sampaikan,aku tak kuasa menyampaikan berita duka ini!".
Segera Gendhis menyerahkan handphone miliknya ke Ayah Rangga, suara Ayahpun terdengar parau menelfon,dan
__ADS_1
memberitau apa yang terjadi pada bang Sardan ke nenek Sartijah.
Tut....tut....tut....
3kali panggilan tidak di jawab.
"Yah cari nama Nawang....mungkin diangkat...!!.Dengan tangis yang tak henti,Gendhis memberi saran.
Dret...dret....dret....
"Hallo Assalamualaikum,ini saya ayahnya Gendhis..!!.apa benar ini Nawang?!.
"Iya om benar saya Nawang..!".
"Tolong kasih tau keluarga terutama nenek Sartijah,Sardan sudah di panggil yang maha kuasa,kami sekarang masih berada di rumah sakit,rencana jenazah di bawa pulang ke rumahnya,dan di kebumikan di dekat komplek milik perumahan khusus almarhum Sardan",Ayah Rangga menjelaskan secara detail kepada Nawang.
"Maksudnya Om,bang Sardan meninggal dunia..!"masih dengan pertanyaan yang tidak percaya Nawang memperjelas berita ini.
Benar...beliau sudah tidak merasakan sakit lagi,sudah tenang di syurganya Alloh,insyaallah husnul khotimah..nak.
Nawang terdengar berteriak histeris mendengar berita ini,dengan suara tak kalah parau segera menjawab berita ini.
"Baik om saya dan keluarga akan segera menuju rumah jenazah bang Sardan".
"Ya tuhan padahal baru 3hari yang lalu kita telefon dan aku sama nenek sartijah baru mau menjenguk abang,tapi tuhan lebih sayang abang", tak henti hentinya tangisan Nawang berderai membasahi pipinya yang putih bersih.
Nawang membangunkan Nenek Sartijah,dan seisi rumah kebetulan ini memang jam tidur siang mereka.Nenek Sartijah pun langsung menangis histeris.
"Sar...Sardan ....anakku..!!..secepat itu engkau meninggalkan aku nak....".
"Huwa...huwa....",tangis pecah antara Nawang sama Nenek Sartijah.
Mereka segera berjalan lemas,bersiap siap menuju rumah Bang Sardan,seakan tak kuat berjalan mendengar berita ini.
Nenek Sartijah bergumam dalam hati, darah ini seakan tak mengalir, detak jantung seakan berdetak kencang,dan anganku berlari-lari
__ADS_1
hanya terfikirkan kenangan dari kecil bersama,Sardan.
Ken dan kakek Danu juga bersiap-siap dan hanya bisa pasrah mendengar berita ini,berusaha menguatkan Nenek Sartijah yang sudah terlihat lesu dan fikiran tertuju kepada almarhum,begitulah manusia hanya bisa ikhlas ketika sang pemilik raga telah memintanya kembali.