
******
Gendhis tertunduk menunggu jawaban dari Mama Imel dan Ayah Basa. Panggilan Ayahnya Bos Galih. Ayah Basa menyudahi pembicaraan mereka dan segera mengajak makan.
"Beri waktu kami ya untuk berfikir sekarang ayo kita makan dahulu. Ayah sangat lapar menanti kalian.
Bos Galih segera mengambilkan piring untuk Gendhis, Arumi menatap sinis ke arah mereka berdua.
Ayah Basa menatap lekat sambil tersenyum tipis menatap putranya dan calon menantu. Sedangkan Mama Amel hanya diam tak bersuara. Bos Galih langsung menggambilkan dan menuangkan ke piring Mama dan Gendhis. Membuat Arumi semakin cemburu.
"Ayo di makan...!!". Pinta Mama kepada Gendhis
suasana menjadi hening, yang ada hanya suara piring dan sendok beradu.
Gendhis memakan makananya seperti tidak bisa menelanya karena Mama Imel dan Ayah Basa. mencuri curi pandang secara bergantian.
"Tambah lagi sayang....nasinya..??". Tanya Bos Galih dengan mesranya.
"Udah kok kak cukup ini aja susah ngabisin kakak banyak sekali kasih nasinya tadi...!!". Timpal Gendis sembari tertunduk malu.
"Ayo nak jangan malu malu ambil lauknya.....!". Ayah Basa juga menyuruh Gendhis menambah lauknya.
"Udah pak makasih...!!". Jawab Gendhis
Galih Mama dan Ayah mau berbicara sama kamu...! kami tunggu di ruang kerja Ayah. Perintah Mama.
"Baik Ma....selesai makan Galih ke Meja Ayah...". Sembari melanjutkan suapanya Bos Galih menjawab.
"Aku tinggal ke ruang kerja Ayah ya sayang...setelah makan tunggu di ruang keluarga ya...!". Dengan tatapan sayang Bos Galih mengusap lengan Gendhis.
Tatapan Arumi semakin sinis, semuanya telah selesai makan, dengan cekatan Gendhis merapikan semuanya yang ada di meja dan membawa semua piring gelas dan semua yang kotor ke dapur kotor di belakang. Bibi melarang Gendhis membantunya.
"Non biar saya saja yang bawa ke dapur. Non tunggu saja di ruang keluarga sesuai perintah Bos Galih ..!!??". Larang Bibi yang bekerja di rumah Bos Galih.
__ADS_1
Bik biarin saja Gendhis memang sudah sepantasnya mencuci piring dan semua yang kotor di dapur. Dia sudah terbiasa beda denganku yang di rumah juga seperti ini ada Bibi juga di rumah.
Sindir Arumi pedas ....! Gendhis tetap saja melangkah meninggalkan Arumi yang berdiri sembari ngomel di hadapan Bibi.
Bibi hanya bisa tertunduk melaksanakan perintah Arumi yang sudah di kenal sering main ke rumah Tuanya.
Aku tidak perduli apa yang dikatakan Arumi meskipun nanti dialah yang di pilih orang tua Bos Galih, perasaanku tidak bisa dibohongi sejak kak Galih memperlakukan aku seperti Tuan putri. Semoga saja perlakuanya kepadaku tak lekang oleh waktu.
Sejak ia menyatakan perasaanya padaku akupun tak bisa tak berduli dengan perlakuanya, aku harus belajar memanggil dia dengan sebutan kak atau sayang, belajar mencintainya lebih dari dia mencintaiku belajar membalas semua kebaikannya.
Bibi melihatku dari jauh tersenyum senyum sendiri. Semua telah rapi seperti sedia kala.
"Non makasih ya sudah membantu pekerjaan Bibi. Cepat ke ruang keluarga sebelum Tuan mengetahui non masih di dapur...saya nggak enak dikira membiarkan nona...!". pinta Bibi
Nggak mungkin Bi...Kak Galih marah emang dia pemarah ya Bi.....!!??". Tanya Gendhis
Tuan Galih adalah orang yang pendiam Non dia juga orang yang sangat baik..! tetapi selama ini belum pernah saya melihat Tuan sebahagia hari ini. Baru kali ini hidupnya kelihatan berarti.
"Namaku Gendhis Bik ....? kalau Bibi namanya siapa ...?". Tanya Gendhis balik
Namaku Bibi Shalehah panggil aja Bi Leha. Semoga saja Tuan dan Nyonya besar merestui Tuan Galih dan Non Gendhis
"Saya sangat senang dengan Non Gendhis yang baik hati beda sama non Arumi sifatnya sangat sombong. Saya kasihan sama Tuan Galih kalau Non Arumi yang jadi pendamping hidupnya. Orang sebaik Tuan harusnya dapat seperti non...!!". Harapan Bi Leha dan penjelasan perbedaan antara Gendhis dan Arumi.
Arumi cantik, anak keluarga kaya, Bi kalau aku apa yang aku sombongkan, nggak ada aku dari keluarga pas pasan udah janda punya anak satu tipis harapan Mama dan Ayah kak Galih merestui hubungan kami. Dengan mengenal orang tua kak Galih saja sudah membuat aku bahagia Bi....
"Perjuangkan ya ...non...!? kasihan Tuan, non Gendhislah yang pantas mendampingi Tuan . Mudah mudahan Tuan besar dan nyonya terbuka hatinya dan mudah mudahan Tuan Galih berhasil meyakinkan keduanya.....!!". Pinta Bi Leha dan Doanya.
****
"Amin meski kecil harapanya ...makasih ya Bi doanya...!!".Timpal Gendhis
Sementara Bos Galih telah berdebat kecil dengan Ayah dan Mamanya.
__ADS_1
Galih anak mama...harapan Mama sangat besar untuk kamu bahagia. Sebenarnya Mama ingin melihat kamu bahagia bersama Arumi...! Kurang apa Arumi nak...!! Pinta Mama
"Ma tolonglah aku hanya menganggapnya sebagai adik tidak lebih. Aku nggak punya perasaan sama Arumi tolonglah Mama mengerti...!!". Timpal Bos Galih.
"Apa kamu sudah memikirkan ulang dengan status wanita itu, kamu nggak menyesal dia sudah punya anak Gal....!!??". Tanya mama dengan sedikit penekanan.
"Ma ....aku nggak memeprsalahkan statusnya, dia wanita sempurna wanita yang aku idam idamkan sejak lama, baru kemarin kami jadian dan baru 3 hari yang lalu Gendhis menerima cintaku setelah bertahun tahun lamanya. Mama tahu tidak sedikit wanita yang mengejarku banyak sekali termasuk Arumi tetapi, sedikitpun tidak ada yang bisa membuat hatiku jatuh cinta cuma dia ....!!". Penjelasan Bos Galih membuat Mamanya sadar
"Terserah kamulah....kalau memang itu menjadi pilihan hidupmu Mama hanya bisa menasehatimu.....supaya tidak menyesal di kemudian hari..!!". Nasehat Mama Imelda.
Kalau Ayah terserah kamu bagiku status juga tidak masalah, yang penting bagi seorang pria memang kesetiaan dan pengertian serta cocok di hati, Gendhis cantik kelihatanya juga baik. Nasehat Ayah untuk Galih dan Mama Imel.
"Dasar Ayahmu sama saja dengan kamu....!!". Jelas Mama Imel.
Ayah dan anak saling berjabat tangan dan Galih langsung memeluk Ayahnya dan bilang terima kasih Yah.
Udah Ma aku mau antar Gendhis pulang kasihan capek dia dari kantor langsung ke sini, nanti Mama lihat sendiri deh...! lama lama bakalan suka sama Gendhis apalagi anaknya yang imut dan cantik nanyi bakalan aku kenalin Mama sama Ayah.
"Terserah kamu yang penting Mama juga cepat cepat ingin punya cucu dari kamu. Ingat Galih..!!??". Celetuk Mama Imel yang sudah kepingin menimang cucu dari Bis Galih.
Bos Galih segera berlalu dengan hati berbunga bunga sembari mencari pujaan hatinya. Dilihatnya hanya Arumi yang berada di depan Televisi ruang keluarga.
"Mana Gendhis Rum...!!". Tanya Bos
Ada di dapur dia memang pantas jadi pembantu bantuin Bi Leha .....makanya kamu berfikir dulu sebelum berhubungan dengan seseorang. Arumi tampak kesal dengan perlakuan Galih yang tidak memperdulikanya.
Kamu itu.....asal saja bicara.....udah sekolah yang bener biar jadi orang jangan kerjaannya mencaci saja. Masih banyak pria diluar sana yang lebih baik dari aku Arumi....! cinta tidak bisa dipaksakan aku hanya menganggap kamu sebagai teman atau adikku jika kamu mau.
Tampak terdengar langkah kaki Mama Imel dan Ayah Basa " Sudah sudah kalian ini bertengkar saja, sudah dewasa masih saja seperti anak kecil....!!". Seru Mama Imel yang ikut bergabung di dekat Arumi duduk.
"Arumi tante mau bicara banyak...!!". Pinta Mama Imel.
"Nah gitu Ma, nasehati supaya bisa jaga cara bicaranya. Ingat ya Gendhis calon istriku sepatutnya kamu menghormati dan menghargainya...!!". Bos Galih dengan tegas mengingatkan Arumi.
__ADS_1