
Sesampainya mereka ke Rumah Sakit, mereka langsung menuju ICU untuk menemui keluarga Adnan. Bulan pergi ke Rumah Sakit masih dengan pakaian untuk akad hari ini, dia tidak sempat lagi untuk berganti pakaian. Dia hanya sempat mengambil jaket saja tadi, untuk menutupi baju kebayanya saja.
" Man, bagaimana keadaan nak Adnan? " Pak Soleh menhampiri calon besannya.
" Belum tahu Leh, dari tadi belum ada dokter yang mengabari. " Sahut pak Iman.
" Semoga nak Adnan enggak kenapa kenapa " Timpal pak Soleh.
Sedangkan bu Nisa langsung mengahampiri bu Della, dan langsung memeluknya. Mereka berdua sama sama menangis sesenggukan, Bulan hanya bisa menangis tanpa suara di dalam pelukan Alesa.
" Ya Allah, kalau hamba boleh memohon. Hamba mohon selamatkan lah mas Adnan, dan jangan Engkau ambil dia. Jika memang ini takdirmu ya Allah, hamba akan berusaha ikhlas. " Bulan terus berdoa dalam hatinya.
Bunga yang melihat pemandangan yang sungguh menyedihkan itu pun ikut menangis di dalam pelukan kakaknya, sedangkan Bintang juga turut bersedih dengan apa yang menimpa dengan Bulan. Meski kesedihan itu tak ia perlihatkan kepada semua orang.
Beberapa saat kemudian, Dokter keluar dari ruang ICU tempat Adnan dan pak Jo di tangani. Dokter itu pun menghampiri keluarga Adnan.
" Permisi semuanya,... " Sapa Dokter tersebut.
Belum juga Dokter itu selesai bicara, Bu Della sudah memotong nya.
" Bagaimana keadaan anak saya Dokter? " Bu Della bertanya sambil terus menangis.
" Maaf semuanya, saya harus memberi kabar ini secepatnya. Kami tim Medis meminta maaf yang sebesar besarnya, kami semua sudah berusaha sekuat tenaga kami. Akan tetapi, kehendak berkata lain. " Dokter itu menjelaskan dengan berhati hati.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak dan sopir kami Dokter? " Giliran pak Iman yang bertanya kepada Dokter tersebut.
" Sekali lagi, kami minta maaf pak...."
" Dari tadi Dokter ini hanya maaf, maaf terus. Sebenarnya apa yang terjadi Dok, langsung di jelaskan saja. Jangan bertele tele, kami semua ini sedang menunggu kabarnya " Seru Gani dengan sedikit emosi.
" Sabar Gan, biarkan Dokter selesaikan bicaranya dulu. baik Do, silahkan dilanjutkan. " Pak Iman orang yang paling tenang saat ini, meski hatinya juga sedang hancur.
" Begini pak, kondisi anak dan sopir bapak sekarang ini sedang kritis. kecil kemungkinan untuk mereka selamat, di karenakan mereka sudah banyak kehilangan darah dan kepala mereka terbentur dengan sangat keras sekali. Namun demikian, kami akan berusaha semampu dan sekuat tenaga kami. Kami hanya tidak ingin memberi harapan palsu, makanya kami menyampaikannya. " Jelas Dokter itu dengan panjang lebar.
__ADS_1
Setelah semua mendengarkan penjelasan Dokter, maka mereka semakin histeris. Terutama bu Della, dia bahkan sekarang sedang pingsan. Karena kondisi bu Della lemas sekali, maka ia di bawa ke ruang rawat dan di infus. Sedangkan Bulan, saat ini kondisinya lemah sekali. Untuk berdiri saja ia butuh bantuan. Bintang dan semua yang melihat keadaan itu pun, turut hanyut dalam kesedihan.
Sekarang sudah menunjukkan pukul 14.00, dan mereka semua bergantian untuk melaksanakan shalat dhuhur. Bulan dan yang lainnya menuju masjid yang ada di Rumah Sakit, untuk shalat.
" Dek, kita selesai shalat pulang dulu ya. Kita bersih bersih dulu, kamu juga harus ganti baju juga kan? " Alesa memberi saran kepada adeknya.
" Boleh mbak, kita juga harus membawakan mereka makanan. Pasti pada belum makan." Dalam kondisi yang seperti ini, Bulan masih memikirkan orang lain.
" Iya dek, nanti mbak telepon orang yang ada di rumah untuk menyiapkannya. Dan nanti tinggal di bawa ke sini " Alesa memberikan ide.
Bulan hanya menanggapinya dengan anggukan saja, pertanda ia setuju.
Setelah semua selesai shalat, mereka kembali lagi ke ICU.
" Leh, sebaiknya kamu bawa pulang anak anak dan istrimu. Bukannya aku mau mengusir kalian, tapi disini juga kalian tidak bisa menjenguk Adnan. Nanti kalau ada kabar terbaru tentang Adnan, secepatnya aku kabari. Kasihan Bulan Leh, biar dia istirahat dulu." Pak Iman memberi saran kepada pak Soleh.
" Baiklah Man, kami pamit dulu. Nanti kami akan kesini lagi secepatnya, kamu tolong kabari perkembangan Adnan ya. " Pak Soleh memeluk pak Iman.
" Ndak masalah Man, namanya juga takdir. Kita sebagai manusia ini hanya bisa berencana, namun yang menentukan yang di atas Man." Mereka berdua saling menguatkan.
Akhirnya keluarga pak Soleh pamit pulang terlebih dahulu, Bintang kembali mengantarkan mereka kembali ke rumah.
" Nak Bintang kalau mau langsung pulang tidak apa apa nak, sisanya kan bisa naik taksi pulangnya. " Pak Soleh merasa tak enak hati dengan Bintang.
" Tidak masalah pak, saya akan tetap mengantarkan bapak sekeluarga pulang. " Bintang tetap ingin mengantar pulang.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka akhirnya pulang dengan diantar Bintang juga.
Setelah mengantarkan pak Iman sekeluarga, Bintang pun pamit pulang juga.
" Pak, Bu, Ustadzah, dan semuanya. Saya dan adik saya permisi pulang dulu, karena sudah sore. Nanti kalau ada apa apa, jangan sungkan sungkan untuk hubungi saya atau adik saya. Pasti kami akan bantu. " Bintang memohon undur diri.
" Baik nak, terima kasih sudah mau menolong kami. Dan terima kasih juga sudah menawarkan bantuan, nanti kami akan hubungi nak Bintang jika ada perlu. " Pak Soleh menyalami Bintang.
__ADS_1
" Sama sama pak, kalau begitu kami permisi. Assalamu'alaikum " Bintang dan Bunga pamit dan langsung menuju mobil. Bunga menjadi pendiam sejak pulang dari Rumah Sakit, entah apa yang ia pikirkan.
Bulan langsung masuk ke kamarnya ditemani ibu dan kakaknya,.
" Nduk, sebaiknya kamu bersih bersih dulu ya. setelah itu, kamu makan dan istirahat ya. " Nasehat ibunya.
" Nggih bu " Bulan menjawab singkat.
" Dek, mau mbak bantuin? " Alesa menawarkan diri.
" Ndak perlu lah mbak, ibu dan mbak sebaiknya juga bersih bersih dan makan. Setelah itu istirahat juga, aku bisa sendiri Insya Allah. " Jawab Bulan sambil mengulas senyuman tipis.
Keadaan di rumah Bulan saat ini masih ramai, karena keluarga dari kedua orang tuanya masih berada disana. Mereka turut perihatin dengan kejadian yang menimpa keluarga pak Soleh.
Selesai mandi, Bulan melaksanakan shalat Ashar. Setelah shalat, Bulan masih tetap betah diatas sajadahnya. Ia masih memikirkan bagaimana keadaan calon suaminya sekarang ini.
" Ya Allah, hamba berserah diri hanya kepada-Mu. Ya Allah, hamba tahu. Bahwa manusia hanya bisa merencanakan sesuatu. Akan tetapi, Keputusan hanya ada pada-Mu Ya Rabbi. Kalau boleh hamba meminta lagi Ya Allah, berikanlah keajaiban kepada mas Adnan. Hamba mohon permudahlah jalannya, apapun nanti akhirnya. Aamiin. " Di dalam diamnya, dia selalu memanjatkan doa untuk Adnan.
Tiba tiba pintu kamarnya ada yang membuka, dan ternyata yang masuk adalah Alesa. Dia membawakan makan untuk adiknya, karena dia tahu bahwa Bulan dari pagi belum ada makan sesuatu. Jadi dia mengkhawatirkan nya.
" Dek, makan ya. " Alesa meletakkan nampan berisi makanan di meja belajar.
" Iya mbak, sebentar. Aku rapiin peralatan shalat dulu. " Sahut Bulan.
" Sini dek, mbak suapin ya? " Alesa tersenyim ke arah adiknya.
" Di suapin, emangnya aku masih kecil apa? " Canda Bulan.
Bulan makan di kamar dan ditemani kakaknya tercinta.
Akankah Adnan sadar ?
Mohon dukungannya ya teman teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.
__ADS_1