Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Mengkhayal & Berharap


__ADS_3

Bintang yang merasa tak enak dengan Bulan akan perlakuan mamanya pun mendekat.


" Ustadzah, maafin mama saya ya. " Ucap Bintang setelah mendekat.


" Enggak apa-apa kok mas, saya mengerti. Lagian, mamanya mas Bintang enggak ada salah apa-apa. Jadi enggak perlu minta maaf. " Jawab Bulan.


" Ma, jangan membuat ustadzah nya bingung. Kasihan tahu. " Bintang menegur mamanya.


" Maaf ya Bulan, kalau perkataan saya membuat kamu bingung. Tapi, nak Bulan boleh pertimbangkan omongan saya tadi. Itu serius loh, mewakili hatinya Bintang. " Bu Juni berbicara kepada Bulan, tapi omongannya menyindir Bintang. Sehingga membuat pipi Bintang sedikit memerah.


" Ma, jangan malu-maluin anaknya kenapa? " Bintang tampak gerogi.


Mereka semua yang ada disana tertawa menyaksikan itu semua.


" Apa benar yang dikatakan mamanya mas Bintang, kalau itu ada kaitannya dengan perasaan mas Bintang. Kalau enggak, kenapa mas Bintang terlihat malu-malu gitu. Bulan, sadar Bulan. Ini itu cuma candaan orang tua, jangan terlalu di anggap serius. Istighfar Bulan, istighfar. Kamu enggak boleh mengkhayal yang macam-macam. " Bulan berperang dengan hatinya sendiri.


" Mama bener-bener buat aku malu di depan Bulan, apa nanti kata Bulan. Nanti dia berpikir kalau aku enggak laki, karena enggak berani ngomong sendiri. Mama memang seneng buat aku malu. Nanti kalau waktunya tepat, aku pasti ngomong sendiri ma. Tapi bukan sekarang, di saat dia sakit seperti ini. Bulan, maafkan mamaku ya. " Bintang pun merasa kesal sendiri dengan mamanya.


Suasana di ruangan itu terasa sangat kaku setelah obrolan tadi. Untungnya pak Soleh memecah keheningan itu.


" Oh ya bu Juni, terima kasih banyak sekali lagi. Karena sudah mau repot-repot datang menjenguk anak kami. Dan buat nak Bintang dan Bunga, terima kasih juga sudah selalu ada dari tadi pagi. Kalau tidak ada kalian, kami tidak tahu keadaan Bulan sekarang bagaimana. " Ucap pak Soleh panjang lebar.


" Sama-sama pak Soleh, saya justru senang bisa bertemu dengan keluarga bapak. Apalagi saya bisa bertemu teman lama saya ini, jadi tambah senengnya. " Balas bu Juni sambil merangkul bu Nisa.


" Pak, bu, kalau bapak sama ibu ingin pulang dulu silahkan, biar saya yang jaga ustadzah dulu. Barang kali ada sesuatu yang mau di ambil atau mau apa. Kan kasihan juga Langit, dari pulang sekolah langsung ke sini. " Bintang mencoba memberikan saran kepada pak Soleh dan bu Nisa.


" Iya bener tu apa kata Bintang, lebih baik kalian pulang saja dulu.Biar saya antar, jadi yang jaga nak Bulan biar Bintang saja. " Sambunv bu Juni.


" Enggak perlu lah Jun, malah tambah merepotkan kalian saja. Biar aku sama bapaknya saja yang jaga, nanti Langit biar pulang saja sendiri. Iya kan nak? " Bu Nisa tidak mau meninggalkan putrinya, dan dia memberi kode kepada putranya. Dan Langit hanya mengangguk saja.


" Jangan gitu lah Nis, kasihan Langitnya sendirian nanti di rumah. " Ujar bu Juni.


" Ya sudah, gini saja. Ibu sama Langit sebaiknya pulang, biar bapak sendiri saja yang jaga Bulan. Bener apa kata bu Juni, kasihan nanti Langit sendirian di rumah. Besok, baru ibu kesini lagi pagi-pagi. " Usul pak Soleh.

__ADS_1


Akhirnya semua sudah sepakat dengan keputusan yang diambil, bahwa pak Soleh lah yang akan menjaga Bulan malam ini. Karena tidak mungkin Bulan akan di jaga oleh Bintang yang bukan mahramnya.


Dan akhirnya bu Nisa dan Langit pulang bareng bersama Bintang, karena paksaan dari bu Juni.


Sesampainya di rumah Bulan, bu Juni ikut turun dan mampir sebentar.


" Oalah, jadi disini rumah mu Nis. Enak ya suasananya, kapan-kapan aku boleh dong main kesini. " Ucap bu Juni.


" Tentu saja boleh dong Jun, justru aku malah seneng kalau kamu main kesini. " Sahut bu Nisa, sambil menyediakan minuman untuk bu Juni, Bintang dan Bunga.


" Terima kasih bu. " Ucap Bintang.


" Sama-sama Bintang, cuma air doang. Ayo silahkan di minum semuanya. " Bu Nisa mempersilahkan tamunya minum.


kurang lebih 30 menitan bu Juni berada di rumah bu Nisa, karena merasa hari semakin sore. Maka mereka bertiga pamit pulang.


" Oke Nis, kalau gitu kami permisi pulang dulu ya. Terima kasih jamuannya, dan juga kalau ada apa-apa kamu tolong hubungin aku ya. Nih nomor teleponku. " Pamit bu Juni seraya memberikan kertas berisikan nomor teleponnya.


" Insya Allah Jun, terima kasih ya. " Jawab bu Nisa, mereka bersalaman dan di akhiri dengan pelukan. Bintang dan Bunga juga ikut bersalaman dengan bu Nisa serta tak lupa mencium tangannya.


" Ma, lain kali jangan seperti tadi ya. Bintang malu ma. " Bintang protes kepada mamanya.


" Memangnya malu kenapa Bintang? Mama kan sekedar pengen bantu kamu. " Sahut mamanya.


" Iya, niat mama bantuin Bintang. Tapi, tadi itu waktunya enggak tepat banget ma. Soalnya, Bulannya kan lagi sakit. Terus juga lagi di Rumah Sakit. " Bintang masih protes.


" Tapi kan mama nanya nya sambil bergurau Bin, jadi enggak tegang-tegang banget. " Pembelaan mamanya.


" Nah, justru itu ma. Nanti apa kata mereka, kita cuma memberi harapan palsu saja. Dengan gurauan yang sensitif itu. " Jelas Bintang.


" Iya deh mama salah, maaf ya Bintang. Makanya kamu cepetan gerak, mama takutnya di ambil orang lagi. " Mamanya meminta maaf seraya menggoda.


" Bener tuh kata mama kak, cepetan kakak utarain perasaan kakak. Kalau enggak, nanti bisa-bisa nyesel loh. " Bunga turut menggoda kakaknya.

__ADS_1


" Iya, iya sabar kenapa? Nanti ada waktunya, kata pepatah kan jodoh tak kemana. " Kilah Bintang.


" Iya deh, terserah kamu. Yang penting mama sudah ingatkan, nanti kalau ada apa-apa mama enggak ikut-ikutan ya. Mama akan dukung kamu, asalkan untuk kebaikan. " Mamanya mencoba memberi semangat kepada putranya.


" Siap 86 kapten " Jawab Bintang dengan mengangkat tangannya ke kepala, eberi hormat.


" Iiih kakak lebay deh, awas nanti ustadzah ilfil loh. Hahaha. " Bunga menertawakan tingkah kakaknya.


Saking asiknya mereka mengobrol didalam mobil, tak terasa mereka sudah sampai rumah. Mereka bertiga bergegas turun dari mobil untuk masuk ke rumah.


" Ma, kalian dari mana? " Tiba-tiba mereka bertiga di kejutkan dengan suara pak Jafar.


" Eh papa, maaf pa tadi mama enggak ngabarin papa dulu. Mama sama anak-anak habis dari Rumah Sakit pa. " Jawab bu Juni.


" Rumah Sakit? Emangnya siapa yang sakit? Papa kok enggak di kasih tahu. " Oceh pak Jafar.


" Si Bulan pa masuk Rumah Sakit, tadi pagi kecelakaan. " Jelas bu Juni.


" Bulan, ustadzahnya Bunga? " Pak Jafar memastikan.


" Iya pa, ustadzah Bulan yang kecelakaan. " Bunga ikut menyambung obrolan orang tuanya.


" Terus gimana keadaan Bulan sekarang ma? " Pak Jafar ingin tahu kondisinya.


" Alhamdulillah sudah membaik tadi pa. " Jawab bu Juni.


" syukurlah kalau begitu. " Pak Jafar tampak lega.


" Pa, ma, Bintang ke kamar ya. " Pamit Bintang.


" Aku juga ke kamar ya. " Bunga juga ikutan pamit.


" Iya sayang, selamat istirahat ya. " Sahut mamanya.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.


__ADS_2