Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Kecelakaan Beruntun


__ADS_3

" Awaaaaass,... " Teriak Bunga, karena dia melihat ada mobil yang berhenti mendadak.


Terang saja Bintang yang sedang mengemudi kaget, begitu juga dengan Bulan. Bintang langsung menginjak rem secara mendadak, dan dari belakang ada kendaraan yang sedang melaju cukup kencang. Karena tidak sempat mengerem, mobil Bintang tertabrak dengan kencang oleh kendaraan tersebut.


" Astaghfirullahal'adzim, Ya Allah. " Bunga mengucap begitu keras, karena dia kaget dengan hantaman dari belakang mobil.


" Ustadzah, Bunga, pegangan yang kencang. " Teriak Bintang.


Meski mereka bertiga sebenarnya sudah terluka akibat hantaman, Bintang tetap berusaha keras mengarahkan kemudinya ke tempat yang lebih aman, agar mobil mereka tidak terpental terlalu jauh. Bintang berhasil menghentikan mobilnya ke pinggir jalan, tapi mobil mereka menabrak pembatas jalan. Sehingga mereka bertiga sama-sama terbentur cukup keras lagi.


" Us-ustadzah, Bu-Bunga, kalian tidak apa-apa? Ayo kita keluar. " Bintang berusaha mengecek kondisi penumpangnya, meski dia sendiri sudah berlumuran darah di bagian kepala dan tangan.


Untung saja warga segera menolong mereka, dan mengeluarkan mereka dari dalam mobil.


Bulan berusaha tetap sadar, dan ingin tahu kondisi Bintang dan Bunga.


" Bunga, mas Bintang. " Bulan berusaha berdiri mendekat, namun gagal


" Ustadzah, kamu masih sadar? " Bintang berusaha menolong Bulan.


" Bunga kenapa mas? " Bulan panik.


" Bunga pingsan, kita tunggu ambulance datang ya. " Jelas Bintang.


" Bunga,.." Bulan memangku kepala Bunga, dan dia menangis.


" Sudah ustadzah, jangan terlalu banyak bergerak. Dan terlalu cemas, kita berdoa saja semoga Bunga tidak apa-apa. " Nasehat Bintang.


Tak berapa lama kemudian, beberapa ambulance datang untuk mengangkut korban tabrakan beruntun tersebut.


Bintang meminta kepada petugas ambulance, kalau mereka bertiga mau satu ambulance saja.


Akhirnya ambulance sampai juga ke Rumah Sakit, dan para korban di bawa ke UGD. Bintang dan Bulan pingsan dalam perjalanan ke Rumah Sakit.

__ADS_1


Berita kecelakaan beruntun itu cepat sekali masuk TV, pak Jafar yang sedang menunggu istrinya bersiap juga sedang menonton TV. Tanpa sengaja dia melihat berita soal kecelakaan tersebut.


" Astaghfirullah, pagi-pagi sekali kok sudah ada kecelakaan. Tapi, kayak kenal dengan jalanan itu ya. " Pak Jafar berbicara sendiri.


" Ada apa pa? Mama sudah siap berangkat nih? " Sapa bu Juni yang baru keluar kamarnya.


" Itu loh ma ada kecelakaan pagi-pagi, tapi papa enggak asing dengan tempatnya. " Tunjuk pak Jafar ke arah TV.


" Iya ya pa, mama juga ngerasa gitu. pa, itu bukannya mobilnya Bintang. " Tunjuk bu Juni teriak ke arah TV.


" Mana ma, kayaknya sih gitu ma. Mama yang tenang dulu ya, coba papa hubungi Bintang dulu. " Pak Jafar berusaha tenang.


Setelah telepon di angkat, pak Jafar langsung menanyakan kabar Bintang. Tanpa mendengarkan siapa yang bicara.


" Hallo Bin, kamu sudah sampai kantor. " Cerocos pak Jafar.


" Maaf pak, orang yang punya ponsel ini sedang berada di ruang UGD. Saya perawat dari Rumah Sakit XX, apa ini keluarga korban? " Jelas perawat tersebut.


" Apa? UGD? Bagaimana keadaan anak saya? " Bu Juni merebut ponsel pak Jafar, karena dia mendengar apa yang di katakan dari seberang telepon sana.


Bu Juni bukannya menjawab, tapi dia langsung terduduk lemas mendengar berita tersebut.


" Ma, ma, mama istighfar dulu. Sebaiknya kita segera ke Rumah Sakit untuk mengetahui kondisi mereka, ayo ma. " Pak Jafar membantu bu Juni untuk berdiri.


" Iya pa. Pa, sebaiknya kita kabari Nisa dan pak Soleh dulu. Kemungkinan Bulan dan Bunga juga masih di mobil kan. " Kata bu Juni dengan lirih.


" Sebaiknya jangan dulu ma, kita cari info yang valid dulu. Nanti kalau benar, baru kita kasih tahu. " Saran pak Jafar.


Bu Juni hanya mengangguk lemas saja, dan akhirnya mereka berdua bergegas pergi ke Rumah Sakit di antar mang Ujang.


Keadaan di Rumah Sakit pagi itu sangat sibuk sekali, apalagi banyak korban kecelakaan beruntun tersebut.


Sesampainya di Rumah Sakit, pak Jafar dan bu Juni langsung menanyakan keadaan putra putrinya.

__ADS_1


" Permisi sus, dimana korban kecelakaan beruntun? " Tanya pak Jafar kepada suster yang bertugas.


" Mereka semua masih di UGD pak, silahkan bapak dan ibu tunggu dulu di sini. " Jelas sang suster.


" Baik lah sus, terima kasih. " Jawab pak Jafar, sedangkan bu Juni hanya bisa diam dan menangis saja di samping pak Jafar.


Cukup lama mereka menunggu kabar dari para dokter atau pun perawat , dan akhirnya satu persatu dokter atau pun perawat keluar dari ruang UGD.


" Sebentar ya ma, papa mau tanya sama dokter dulu. Mama tunggu disini saja. " Titah pak Jafar, dan di jawab hanya dengan anggukan saja sama bu Juni.


" Permisi dok, bagaimana keadaan anak-anak kami? " Pak Jafar langsung menemui dokter kenalannya tersebut.


" Pak Jafar, kebetulan sekali saya tadi yang menangani anak bapak. Keadaannya sekarang masih belum sadarkan diri, akan tetapi tidak dalam keadaan kritis. " Jelas sang dokter.


" Alhamdulillah kalau begitu, kira-kira saya boleh lihat ke dalam enggak sama istri saya. Kami mau memastikan keadaan anak-anak kami. " Pinta pak Jafar.


" Anak-anak? " Dokter bingung.


" Iya dok, soalnya anak saya tadi tidak sendirian di dalam mobil. Jadi, kami ingin memastikan. " Pak Jafar ingin memastikan.


" Baiklah pak, silahkan kalau begitu. " Akhirnya sang dokter mengizinkan.


" Terima kasih dok. " Ucap pak Jafar.


Dan akhirnya pak Jafar dan bu Juni memasuki ruang UGD, dan mereka memperhatikan satu persatu korban kecelakaan tersebut. Hingga akhirnya bu Juni melihat Bintang, Bunga dan Bulan diatas tempat tidur dalam satu barisan.


" Ya Allah, Bintang, Bunga, Bulan. " Bu Juni histeris melihat ketiganya terbaring tak berdaya dan penuh dengan luka-luka. Dan beliau juga mendekati mereka satu persatu, sedangkan pak Jafar mengikuti istrinya dari belakang.


" Ma, kita harus sabar, tenang, dan berdoa untuk mereka ya. " Pak Jafar mencoba menenangkan istrinya.


" Bagaimana mama bisa tenang melihat keadaan mereka semua pa, pokoknya kita harus meminta pengobatan dan penanganan yang terbaik untuk mereka pa. Mama tidak peduli berapa pun biayanya pa. " Bu Juni begitu terpukul menyaksikan putra putrinya seperti itu.


" Iya ma, papa akan lakukan apapun itu. Sebaiknya kita keluar terlebih dahulu, kita tanyakan kepada pihak Rumah Sakit. Apakah mereka sudah boleh di pindahkan ke ruang rawat, dan kita juga harus memberitahu pak Soleh dan bu Nisa. Papa yakin, mereka pasti tidak tahu akan hal ini. Nanti, kita minta tolong mang Ujang untuk menjemput mereka. Ayo ma. " Pak Jafar merengkuh tubuh istrinya yang lemas.

__ADS_1


Maaf ya telat up 🙏


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.


__ADS_2