Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Bintang Sangat Khawatir


__ADS_3

" Seberapa parah keadaannya, kenapa belum ada kabar juga dari Dokternya. " Bintang terus mondar-mandir di depan ruang UGD.


" Bunga juga belum kasih kabar apa-apa, dapat atau enggak sih nomornya. " Gerutu Bintang.


✉ " Kak, aku sudah tanya sama guru-guru yang lain. Tapi, enggak ada yang tahu nomornya. Kak , tolong kirim alamat Rumah Sakitnya. Biar aku saja yang ke rumahnya ustadzah untuk menjemput orang tuanya. " Pesan Bunga masuk ke ponselnya Bintang.


✉ " Kamu kan lagi sekolah, biar kakak suruh sopir saja yang ke rumahnya. " Balas Bintang.


✉ " Enggak usah suruh sopir, aku sudah pesan taksi online. Kalau pun aku sekolah, pasti enggak akan konsentrasi belajarnya. Lagian aku sudah izin sama guru kok, jadi kakak tinggal kirim alamat Rumah Sakitnya saja. " Balas Bunga lagi.


✉ " Oke, nanti dikirim. Kamu hati-hati dijalan " Bintang tak mau berdebat, jadi dia menyetujui saran adiknya. Dan tak dibalas lagi oleh Bunga.


Beberapa saat kemudian, keluar Dokter yang menangani Bulan.


" Bagaimana keadaannya Dok? " Bintang langsung memastikan keadaan Bulan.


" Begini pak, karena kepala pasien terbentur benda keras. Jadi, ada luka yang besar di kepalanya. Dan kami sudah menjahitnya, pasien juga banyak kehilangan darah. Untung saja stok darah di Rumah Sakit ini masih ada dan cocok untuk pasien. " Omongan Dokter terhenti, karena Bintang menyela omongannya.


" Jadi bagaimana kondisinya sekarang Dok? " Bintang terlihat panik.


" Alhamdulillah nya. Pasien saat ini sudah melewati masa kritisnya, dan akan segera kami pindahkan ke ruang rawat inap. Dan juga, ada beberapa luka juga di kaki dan tangannya. Dan dia akan tersadar sekitar beberapa jam lagi. Kalau boleh tahu, bapak siapanya? " Dokter menjelaskan panjang lebar.


" Alhamdulillah kalau begitu Dok, saya kebetulan temannya Dok. Dan kalau boleh Dok, pindahkan ke ruang rawat yang VIP saja ya. Biar pasiennya nyaman." Jawab Bintang.


" Siap pak, kalau begitu saya tinggal dulu. Assalamu'alaikum. " Pamit Dokter tersebut.


" Wa'alaikumussalam " Jawab Bintang, dia merasa lega karena Bulan sudah melewati masa kritisnya. Dan dia juga sedih dengan kondisi Bulan yang di dengar dari Dokter tadi.


" Pasti jilbabnya tadi sudah sobek dan kotor, nanti kalau dia bangun pasti syok kalau enggak pakai jilbab. Aku cari dimana ya? " Sempat-sempatnya Bintang kepikiran tentang jilbabnya Bulan.


Dia akhirnya keluar Rumah Sakit sebentar, dan mencari toko di sekitaran sana. Dia juga berencana membeli pakaian ganti untuknya, karena bajunya terkena darah. Cukup lama Bintang keluar dari Rumah Sakit, dan akhirnya dia kembali dengan membawa apa yang sudah dia cari dari tadi.

__ADS_1


Saat yang bersamaan, Bintang berpapasan dengan Bulan yang akan di pindahkan ke ruang rawat.


" Sus, tolong pakaikan jilbab ini ke pasien ya. Suster silahkan cari yang bisa di pakai pasien saja, nanti takutnya ketika dia sadar tidak memakai jilbabnya akan syok. " Bintang menghampiri salah satu sueter yang membawa Bulan.


" Baik pak, kalau begitu kami permisi dulu. " Pamit suster tersebut.


" Baik sus, terima kasih. " Jawab Bintang.


Tak berapa lama kemudian, Bunga sudah sampai ke rumah Bulan.


" Pak tolong tunggu dulu ya, saya mau menjemput orang tua dari ustadzah saya. Dan kami nanti baru akan ke Rumah Sakit. " Bunga berpesan kepada sopir taksinya.


" Baiklah mbak, saya akan tunggu di sini. " Jawab pak sopir.


Bunga segera turun dan menuju pintu masuk rumah Bulan, dia mengetuk dan mengucapkan salam.


" Assalamu'alaikum, Assalamu'alaikum " Bunga sedikit mengeraskan suaranya.


" Wa'alaikumussalam. " Jawab bu Nisa, sambil membuka pintunya. " Siapa ya? " Bu Nisa langsung menanyakan siapa Bunga.


" Maaf bu sebelumnya, saya muridnya ustadzah Bulan. Dan nama saya Bunga, saya juga pernah kesini beberapa kali. " Jelas Bunga sambil mencium tangan bu Nisa.


" Oh nak Bunga, maaf-maaf ibu lupa. Ada perlu apa? Silahkan masuk dulu, Bulannya sudah pergi dari tadi pagi nak. " Bu Nisa mengajak Bunga masuk dan menjelaskan bahwa Bulan tidak ada di rumah.


" Bapaknya mana bu? ada yang saya ingin sampaikan kepada bapak dan ibu. " Pinta Bunga.


" Oh ya sebentar ya nak Bunga, ibu oanggilkan bapak nya dulu. " Bu Nisa langsung beranjak ke belakang. Dan tak butuh waktu lama, bu Nisa sudah kembali bersama pak Soleh.


Bunga langsung berdiri dan mencium tangan pak Soleh.


" Ada apa ya nak, kayaknya kok penting sekali? " Pak Soleh langsung berbicara.

__ADS_1


" Begini pak, bu. Ustadzah sekarang sedang berada di Rumah Sakit, tadi beliau kecelakaan. Jadi, tujuan saya kesini mau menjemput bapak sama ibu. " Jelas Bunga.


" Apa, kecelakaan? " Jawab mereka serenntak dengan kaget.


" Iya pak, bu. Makanya sekarang kita sebaiknya segera ke Rumah Sakit. " Saran Bunga.


" Pak, Bulan pak. Anak kita pak. " Bu Nisa langsung memeluk suaminya sambil menangis.


" Sudah bu, benar apa kata nak Bunga. Sebaiknya kita sekarang segera ke Rumah Sakit. Ibu lebih baik bawain baju ganti untuk Bulan, setelah itu kita langsung berangkat. " Perintah pak Soleh.


" Iya pak, ayo kita siap-siap. Sebentar ya nak Bunga, ibu dan bapak siap-siap dulu. " Bu Nisa pamit kepada Bunga.


Sekarang Bunga sudah berada di ruang rawat, dan Bintang juga sudah berada di sana untuk menemaninya.


" Bulan, kenapa kamu belum sadar juga. Ini sudah hampir 2 jam, tapi kamu belum juga bangun. " Bintang bergumam di sebelah tempat tidur Bulan.


Tak berselang lama, Bulan menunjukkan pertanda bahwa ia sudah sadar. Di mulai dari jari jemarinya yang bergerak sedikit demi sedikit, hingga ankgirnya ia membuka matanya.


Bulan terlihat sangat bingung sekali, sambil memegangi kepalanya dia berkata dengan lirih.


" Sa-saya ada dimana? Dan saya kenapa? Kok bisa ada mas Bintang? " Ucap Bulan lirih.


"Alhamdulillah ustadzah sudah sadar. Ustadzah tenang dulu, sekarang ustadzah sedang berada di Rumah Sakit. Karena ustadzah tadi kecelakaan, dan kebetulan saya lewat. Jadi, ustadzah saya yang bawa kesini. Ustadzah mau minum? " Bintang menjelaskan apa yang terjadi kepada Bulan.


" Boleh mas, saya kok haus rasanya. Astaghfirullah, saya inget sekarang. Tadi pagi ada mobil yang ngebut dari arah berlawanan, dan hampir menabrak saya. Terima kasih mas Bintang sudah mau nolongin saya, dan sudah membawa saya ke Rumah Sakit. " Bulan berusaha untuk duduk meski sulit, dan ingin mengambil gelas yang di berikan oleh Bintang. Akan tetapi tangannya terasa ngilu, jadi tidak bisa memegang gelasnya sendiri.


" Maaf ustadzah, sini saya bantuin. Tangan ustadzah lagi luka tuh. Dan tak perlu berterima kasih ustadzah, saya senang bisa bantuin ustadzah. Dan tadi saya dapat pesan dari Dokternya, kalau ustadzah sudah bangun di suruh makan. Ini makanannya sudah di sediakan. " Bintang mengambilkan minum dan makanan tersebut.


" Tidak usah mas Bintang, saya Insya Allah bisa sendiri. Tidak perlu repot-repot " Bulan menolak tawaran Bintang, dan masih berusaha sendiri.


" Tidak apa-apa ustadzah, itu lukanya pasti sakit. Biar saya bantu ya, saya tidak merasa di repotkan. " Bintang meyakinkan Bulan.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.


__ADS_2