
Karena sekarang orang tua Bulan sudah datang, jadi Bintang ingin pamit pulang terlebih dahulu.
" Ustadzah, karena orang tua ustadzah sudah ada di sini. Saya pamit pulang dulu ya. " Bintang pamit pada Bulan.
" Iya mas, sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya ya. Insya Allah saya tidak akan pernah lupa. " Ucap Bulan.
" Sama-sama ustadzah. " Balas Bintang.
" Kak, sebentar lagi ya pulang nya? Aku masih pengen lihat ustadzah. " Bunga memohon pada kakaknya.
" Bunga, Insya Allah nanti kita kesini lagi ya. Sekarang biarkan ustadzahnya istirahat dulu, tadi kamu dengarkan apa kata Dokter. " Bintang mencoba memberi pengertian kepada adiknya.
" Ya sudah deh kak, aku ikut pulang. " Bunga pasrah.
" Pak, bu, kalau begitu kami pamit dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa hubungi saja saya, ini kartu nama saya. " Bintang menyalami orang tua Bulan, sembari memberikan kartu namanya.
" Baik nak, Insya Allah nanti di kabari kalau ada apa-apa. " Pak Soleh yang menjawab dan menerima kartu namanya.
" Ustadzah, aku pulang dulu ya. Ustadzah cepat sembuh, love you ustadzah. " Pamit Bunga sembari mencium pipi ustadzahnya.
" Iya Bunga, hati-hati. " Jawab Bulan.
" Assalamu'alaikum. " Ucap Bintang, dan langsung keluar bersama Bunga.
" Wa'alaikumussalam " Jawab mereka bersamaan.
Setelah Bintang dan Bunga sampai di parkiran, mereka langsung menuju mobil Bintang.
" Kak, kasihan ya ustadzah. Untung ada kakak tadi. " Bunga masuk mobil dan mulai bicara dengan kakaknya.
" Iya Bunga, kakak juga kasihan. Tapi yang namanya musibah siapa yang tahu. " Sahut Bintang.
" Kak, kapan nih kakak mau beraksi? " Goda Bunga.
" Beraksi apa Bunga? " Bintang tak paham.
" Untuk mendekati ustadzahku? " Bunga berbicara sambil menaik-naikkan alisnya.
" Kamu ini, dalam situasi seperti ini masih saja godain kakak. " Kesal Bintang.
" Iya maaf kak. " Bunga menyatukan kedua tangannya.
__ADS_1
Mereka akhirnya tak berbicara lagi sehingga mereka sampai ke rumah.
" Kak, aku duluan ya. " Bunga turun dan langsung masuk ke rumah.
Bintang hanya mengangguk saja tanda mengiyakan. Sebelum Bintang turun, dia mengecek barang-barang dulu mana tahu ada yang ketinggalan. Hingga matanya tertuju di bangku belakang, ada tas nya Bulan yang tertinggal di mobilnya.
" Itukan tasnya Bulan, kenapa aku sampai lupa menurunkannya tadi. Jangan-jangan Handphone nya juga ada di tas, nanti kalau dia nyariin gimana ya? Aku harus cepat-cepat turun dan bersih-bersih nih, habis itu ke Rumah Sakit lagi untuk mengantarkan tasnya. Iya, bener itu." Bintang berbicara sendiri di mobil.
Bintang pun segera turun dari mobil dan menuju ke dalam rumah, tas Bulan sengaja di tinggal di mobil saja.
" Bin, bener kata Bunga. Kalau Bulan kecelakaan? " Baru saja Bintang ingin menaiki tangga, mamanya sudah menegurnya.
" Eh mama, iya bener ma. Tadi pagi kecelakaannya, dan enggak sengaja aku pas lewat. Jadi, aku tolong dan bawa ke Rumah Sakit. " Jelas Bintang.
" Ya ampun, kasihan sekali ya si Bulan. Kamu kapan mau ke Rumah Sakit lagi? " Balas mamanya.
" Nanti rencananya aku mau kesana lagi ma, tasnya Bulan ketinggalan di mobil. Jadi aku mau antarkan, mana tahu ada barang yang penting di tasnya. Memang kenapa? " Ucap Bintang.
" Mama boleh ikut? Mama mau jenguk juga. " Jawab mamanya.
" Oke deh ma, ya sudah kalau gitu. Aku ke kamar dulu mau bersih-bersih dan mandi ya. " Pamit Bintang dan langsung meneruskan langkahnya menyusuri tangga menuju kamarnya.
Bu Nisa memperhatikan Bulan sedang mencari-cari sesuatu di sekelilingnya.
" Ada apa nduk? Apa yang kamu cari? " Tegur bu Nisa.
" Itu loh bu, Bulan lagi cari tas dan HP. Ibu lihat enggak? " Jawab Bulan.
" Enggak, ibu dari tadi enggak ada lihat tas kamu? " Jawab Ibunya.
" Atau mungkin ketinggalan di tempat kamu kecelakaan " Sambung pak Soleh.
" Bisa jadi pak, hilang semua lah kartu-kartu Bulan. " Bulan tampak kecewa.
" Yang sabar nduk, kan bisa di urus lagi. Nanti bapak bantuin kamu, yang penting kamu selamat alhamdulillah. " Hibur bapaknya.
" Nggeh pak, terima kasih. Oh ya pak, bu. Langit sudah tahu belum kalau Bulan ada di sini? Nanti dia pulang sekolah bingung di rumah kosong, mana rumahnya kuncian kan? " Bulan khawatir dengan adiknya.
" Astaghfirullah, ibu lupa nduk kasih tahu adikmu. Pak tolong telponin Langit, ibu lagi kupas buah nih. " Panik ibunya.
" Iya, sebentar bapak telpon dulu Langitnya. " Sahut pak Soleh, dan langsung menghubungi putranya.
__ADS_1
" Nduk, kamu kenapa melamun? Nih makan dulu buahnya. " Bu Nisa memecah lamunan Bulan, sambil menyodorkan potongan buah ke mulut putrinya.
" Si-siapa yang melamun bu, Bulan cuma ngantuk. Terima kasih. " Jawab Bulan gugup dan menerima suapan buah dari ibunya.
" Kamu itu tidak pintar untuk berbohong nduk, jadi jangan berusaha berbohong. " Bu Nisa paham sifat anaknya.
" Hehehe, ibu paling bisa deh. Enggak kok bu, Bulan cuma memikirkan nasib Bulan saja. " Bulan jujur.
" Emangnya kenapa dengan nasibmu? " Tanya bu Nisa.
" Astaghfirullah, enggak kok bu. Bulan saja yang sudah suudzon. Maafin Bulan ya bu, astaghfirullah, astaghfirullah. " Bulan sadar akan kesalahannya.
" Sudahlah nduk, kamu jangan terlalu banyak mikir. Sekarang yang terpenting adalah fokus dengan kesembuhanmu. " Ujar pak Soleh setelah menelepon Langit.
" Nggeh pak, kalau gitu Bulan pengen tidur dulu ya. Rasanya kok ngantuk banget. " Bulan merasa matanya berat sekali.
" Ya sudah nduk tidur lah. " Kata bu Nisa sambil menyelimuti putrinya.
Tak butuh waktu lama, Bulan sudah tertidur dengan pulas. Mungkin kantuk yang ia rasakan adalah efek dari obat-obatan yang masuk ke dalam tubuhnya.
" Pak, kasihan sekali dengan putri kita ini ya. " Ucap bu Nisa.
" Kasihan kenapa sih bu? " Jawab pak Soleh.
" Ya kasihan saja pak, beberapa bulan yang lalu dia gagal menikah. Setelah mulai hilang rasa sakit itu, sekarang anak kita harus menerima musibah seperti ini. " Jelas bu Nisa dengan suara yang mulai bergetar karena dia mulai ingin menangis.
" Sudahlah bu, ini ujian buat kita dan khususnya buat anak kita Bulan. Jadi kita tidak boleh mengeluh seperti ini, harusnya kita selalu memberi semangat kepadanya. " Ucap pak Soleh.
" Iya pak, maafkan ibu. Ibu tak seharusnya berfikir seperti ini. " Bu Nisa meminta maaf kepada suaminya sambil membelai kepala putrinya yang sedang istirahat.
" Oh ya pak, apa kata Langit tadi? " Sambung bu Nisa.
" Kata Langit, dia akan kesini langsung sepulang sekolah naik angkutan umum. " Sahut pak Soleh.
" Terus sepedanya gimana? " Ujar bu Nisa.
" Mungkin dia titipkan dimana gitu, bapak enggak nanya tadi. " Sahut pak Soleh lagi.
Bu Nisa pun hanya menanggapinya dengan mengangguk-anggukkan kepala saja. Mereka berdua terus mengobrol sambil menunggui Bulan dan sambil menunggu kedatangan Langit juga.
Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.
__ADS_1