Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Heboh Sendiri


__ADS_3

Bulan masih saja menangis, dan belum menjawab pertanyaan Bintang.


📞 " Ustadzah, saya mohon ustadzah jangan nangis. Ngomong saja kalau saya ada salah,.. " Bintang masih membujuk pujaan hatinya.


📞 " Maaf mas, saya tutup dulu ya? Assalamu'alaikum. " Pamit Bulan, dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


📞 " Iya ustadzah, wa'alaikumussalam. " Jawab Bintang dengan nada lemas.


" Waduh, ustadzah marah lagi nih. Mana sekarang pakai acara nangis lagi, bisa-bisa dia ngadu sama orang tuanya. " Batin Bintang


" Mas, kenapa jawaban kamu tadi membuat hatiku begitu terenyuh. Apa kamu memang jodohku? Karena kamu laki-laki pertama yang sudah menggendongku dan melihat rambutku. Mas, apa aku harus menerima niat baik kamu? Mas, kenapa kamu itu selalu ada ketika aku susah juga. Mas Bintang kamu laki-laki baik. Ya Allah, beri hamba petunjuk-Mu. " Bulan bingung dengan perasaannya.


Tiba-tiba pesan masuk ke ponsel Bulan, dan itu dari Bintang.


✉ " Ustadzah, sekali lagi saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya tidak bermaksud menyakiti hati ustadzah, saya hanya mengatakan yang sejujur-jujurnya saja. " Tulis Bintang.


✉ " Iya. " Hanya balasan singkat itu yang Bulan kirim.


" Tu kan dia marah, gawat ini. Bintang, Bintang, belum apa-apa aja kamu sudah buat dia nangis. " Batin Bintang kesal.


" Maaf mas, aku enggak tahu harus ngomong apa lagi sama kamu. " Batin Bulan setelah membalas pesan Bintang.


Mereka berdua akhirnya tidur juga, karena mata mereka sudah berat sekali.


Dan tak lupa di sepertiga malam, Bulan juga bangun untuk mencari jawaban dari kegundahannya.


......................


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bintang sudah berada di rumah Bulan. Dia belum tenang, sebelum menyelesaikan masalahnya dengan Bulan. Dia berencana menjemput Bulan, dan akan mengantarkannya ke sekolah. Tapi pastinya, dia harus izin dulu dengan orang tau Bulan.


Sebenarnya Bintang sudah menelepon pak Soleh sebelum pergi ke rumahnya, dan dengan alasan serta penjelasan yang Bintang buat. Akhirnya dia dapat izin juga.


Bintang sudah berada di ruang tamu bersama pak Soleh dan bu Nisa, sedangkan Bulan sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.


Sembari menunggu Bulan dan Langit keluar, pak Soleh dan bu Nisa serta Bintang mengobrol santai dulu.


" Mas Bintang. " Ucap lirih Bulan ( tapi masih bisa di dengar orang ), setelah keluar kamar dan melihat ada Bintang bersama orang tuanya.


" Nak, kamu sudah selesai? Yuk kita sarapan dulu, ajak Bintang sekalian. " Pak Soleh langsung berdiri dan menuju ke meja makan.


" Ayo nak Bintang,..." Ajak bu Nisa.

__ADS_1


Belum juga Bintang menjawab, Bulan sudah mengajaknya " Ayo mas kita sarapan bareng. " Bulan ngomong di sertai dengan senyum manisnya.


" Iya, terima kasih. " Bintang mengikuti langakh Bulan dan yang lainnya.


Mereka semua makan dengan khidmat dan tenang.


" Langit, kamu bareng kita saja ke sekolahnya. " Bintang mengajak Langit sambil menunjuk Bulan.


" Kita? Maksud mas Bintang? " Bulan kaget.


" Iya kita ustadzah, saya sudah izin sama bapak dan ibu. Karena ada yang saya mau sampaikan sama ustadzah. " Jelas Bintang.


Bulan hanya memandangi orang tuanya, dan mereka mengangguk mengisyaratkan bahwa perkataan Bintang benar.


" Ya sudah kalau gitu, pak, bu, kami pergi dulu. Assalamu'alaikum. " Pamit Bintang dan mencium tangan orang tua Bulan. Dan langkah Bintang di ikuti oleh Bulan dan Langit.


" Wa'alaikumussalam, hati-hati ya. " Pesan orang tuanya.


Akhirnya mereka bertiga berangkat, dan tujuan pertama adalah sekolah Langit.


" Langit, kamu hari ini ujian ya? " Bintang memecah suasana hening.


" Mau ujian apapun itu, kamu harus tetap rajin belajar dan semangat. Dan semoga kamu bisa menyelesaikan ujiannya dengan tenang, mas yakin kalau kamu rajin belajar pasti bisa. " Bjntang memberi semangat Langit.


" Aamiin, doakan saja ya mas, mbak. " Sahut Langit.


" Aamiin,.. " Bintang dan Bulan kompak.


" Ehem ehem. " Goda Langit.


" Langit. " Bulan menoleh ke bangku belakang dan melotot.


" Iya mbak, maaf. " Langit takut dengan Bulan.


Sampailah sudah ke sekolah Langit, dan Langit segera turun dari mobil. Sebelum turun, tak lupa dia mencium tangan Bintang dan Bulan. Serta tak lupa mengucapkan salam.


Dan mobil kembali melaju menuju ke pemberhentian kedua, yaitu sekolahannya Bulan. Tapi tiba-tiba Bintang menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


" Kenapa berhenti mas? " Tanya Bulan bingung.


" Saya akan jalan, setelah kita menyelesaikan masalah kita. " Itulah jawaban Bintang.

__ADS_1


" Masalah apa mas? Saya merasa tidak ada masalah apa-apa. " Bulan masih bingung.


" Masalah yang semalam ustadzah, kenapa ustadzah nangis setelah mendengar omongan saya? Tolong jelaskan kepada saya, agar saya tidak gelisah. Asal ustadzah tahu, saya tidur tadi malam tak nyenyak. Karena kepikiran ustadzah yang menangis. " Jelas Bintang penuh kekhawatiran.


" Oh so-soal itu, mas Bintang tak perlu merasa bersalah gitu. Saya baik-baik saja kok. " Sahut Bulan.


" Tidak mungkin tidak ada apa-apa, apalagi sampai menangis. Ayolah ustadzah, saya tidak sanggup kalau ustadzah sampai marah dan diemin saya nanti." Desak Bintang.


" Mas, sebelum saya jawab. Apa boleh saya tanya sesuatu dulu sama mas? " Pinta Bulan.


" Tentu saja, apapun itu. Silahkan. " Bintang siap dengan pertanyaan Bulan.


" Mas, kenapa mas mengutarakan niat baik langsung kepada saya? Kenapa tidak melalui orang tua saya saja? " Bulan butuh penjelasan.


" Bismillah, begini ustadzah. kenapa saya langsung mengatakannya dan tidak melalui orang tua? Karena saya ingin tahu jawaban langsung dari ustadzahnya. Bukan karena orang tua yang menjodoh-jodohkan, dan terpaksa harus di terima atau yang lainnya. Karena yang akan menjalaninya kan ustadzahnya, jadi saya harus tanya langsung sama orangnya. " Jelas Bulan.


" Mas beneran mau tahu kenapa saya menangis semalam? " Tanya Bulan.


" Jelas dong ustadzah, itu yang membuat saya susah tidur. " Semangat Bintang.


" Itu semua karena saya merasa terharu dengan ucapan mas Bintang, dan saya merasa tidak tahu harus bagaimana mengungkapkannya. Jadi saya refleks menangis semalam. Maaf sudah membuat mas Bintang cemas. " Jelas Bulan.


" Beneran karena itu kan? Ustadzah tak perlu minta maaf, karena saya yang salah. " Bintang mencari kebenaran.


" Bener mas, sama-sama kalau gitu.Oh ya mas, kalau mas Bintang beneran serius sama saya. Datang lah ke rumah dan minta lah saya kepada orang tua saya secara langsung. " Ceplos Bulan.


" Oke " Jawab Bintang singkat. " Tunggu-tunggu, maksud ustadzah apa? Tolong lebih jelas lagi. " Bintang baru menyadari dan ngeh dengan ucapan Bulan.


" Ya maksud saya yang tadi, " Bulan sengaja mengerjai Bintang, tanpa mau menjelaskannya lagi.


" Plis, jelaskan lagi. " Mohon Bintang.


" Mas, saya merasa tidak enak saja. Karena kita selalu pergi berdua saja, nanti apa kata orang-orang. Maka dari itu, kalau mas Bintang beneran serius mau jadi imam saya. Segera datang lah menemui kedua orang tua saya, dan minta lah saya secara langsung kepada mereka. " Jelas Bulan lagi.


" Itu berarti, secara tidak langsung. Ustadzah mau menerima saya dan mau menjadi makmum saya? " Bintang heboh sendiri kegirangan, sedangkan Bulan hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum malu-malu.


" Jawab ustadzah " Desak Bintang.


" Mas, saya Rembulan Nur'aini mau menjadi makmummu. Tapi, setelah saya ngomong sama orang tua saya. Dan mas Bintang datang secara resmi ke rumah. " Jawab Bulan, tapi raut wajah Bintang berubah setelah mendengar kata tapi. Yang tadinya senyum sekarang menjadi muram.


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.

__ADS_1


__ADS_2