
Keesokan harinya, Bulan harus tetap ke sekolah. Karena dia harus tetap mengajar, dia tidak boleh banyak absen dari sekolah. Pasalnya, sebentar lagi juga bakal diadakan ujian. Jadi, dia harus profesional.
Seperti hari biasanya, Bulan bangun sebelum shubuh. Untuk mengerjakan tugas rutinnya, dari shalat sunah sampai yang wajib. Dan setelah itu, dia juga harus membantu ibunya di dapur.
" Nduk, kamu hari ini ke sekolah? " Sambil bekerja, bu Nisa bertanya kepada Bulan.
" Iya bu, Bulan ke sekolah. Memangnya ada apa? " Bulan balik bertanya.
" Tidak apa-apa kok nduk, ibu cuma takut saja kamu masih kan masih bersedih. " Bu Nisa tampak mencemaskan putrinya.
" Ibu tenang saja ya, Bulan memang masih sedih. Akan tetapi, Bulan harus tetap menjalani hidup bu. Dan Bulan sudah ikhlas Insya Allah. " Bulan berusaha menyakinkan ibunya.
" Syukur alhamdulillah kalau begitu nduk, ibu senang dengarnya. " Bu Nisa sedikit lega.
" Bu, ibu jangan terlalu khawatir sama Bulan. Insya Allah Bulan kuat menjalani semua ini. " Bulan menguatkan ibunya dengan senyuman manisnya.
" Nduk, sebaiknya kamu bersiap-siap saja. Lagian ini juga sudah selesai, nanti setelah kamu siap kita sarapan bersama.
Bulan pun mengiyakan ucapan ibunya, dia bergegas ke kamar untuk bersih-bersih dan bersiap-siap.
Baru saja mereka ingin memulai sarapan, ada suara orang mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Dan Bulan pun beranjak dari kursinya menuju pintu depan. Setelah membuka pintu, betapa terkejutnya Bulan siapa yang datang sepagi ini.
" Assalamu'alaikum ustadzah, " Sapa Bunga dengan senyum manisnya dan langsung memeluk Bulan.
" Wa'alaikumussalam, Bunga, Mas Bintang. " Bulan menjawab salam dengan ekspresi terkejut.
" Maaf ustadzah, kami pagi-pagi sudah datang bertamu. Saya sudah katakan kepada Bunga, kalau kami akan datang siang atau sore saja. Tapi Bunga memaksa saya untuk mengantar kesini sepagi ini. " Bintang merasa tak enak kepada Bulan.
" Oh, iya mas Bintang. Tidak apa-apa, saya cuma kaget saja. Silahkan masuk. " Bulan menyuruh mereka masuk.
" Kami turut berduka cita ya ustadzah, maaf kami kemarin tidak bisa datang. " Bintang langsung mengucapkan bela sungkawanya.
" Terima kasih mas Bintang, Bunga. Kalian sampai repot-repot datang kesini pagi-pagi begini untuk mengucapkannya. " Balas Bulan.
Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam, Bulan meninggalkan mereka sebentar ingin membuatkan minum dan memberi tahukan kepada orang tuanya siapa yang datang.
Tak butuh waktu lama, pak Soleh dan bu Nisa keluar menemui Bintang dan Bunga.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum om, tante. " Bintang langsung berdiri mengucapkan salam dan menyalami orang tuanya Bulan. Bunga pun mengekor di belakang Bintang.
" Wa'alaikumussalam, silahkan duduk. " Pak Soleh bersikap ramah kepada mereka.
" Maafkan kami om, tante. Karena sudah bertamu dan mengganggu sepagi ini, maksud kedatangan kami kesini ingin mengucapkan berbela sungkawa atas meninggalnya calon dari ustadzah Bulan. Karena kemarin kami tidak bisa hadir secara langsung. " Bintang berusaha menjelaskan maksud kedatangannya.
" Tidak mengganggu sama sekali nak, kami justru berterima kasih karena kalian sudah repot-repot mau datang kesini. Hanya untuk berbela sungkawa. " Ucap pak Soleh.
Bulan datang dengan membawa beberapa gelas minuman, dan meletakkannya di atas meja.
" Silahkan diminum mas, Bunga. " Bulan memberi titah kepada Bintang Bunga.
" Iya ustadzah terima kasih. " Jawab Bintang.
" Ustadzah hari ini ke sekolah kan? " Tiba-tiba Bunga bertanya.
" Iya Bunga, memangnya kenapa? " Jawab Bulan.
" Aku boleh bareng ustadzah enggak? " Mohon Bunga.
" Bareng saya? Mau naik motor? " Goda Bulan.
Dan semua yang ada disana ikut tersenyum.
" Maafkan adek saya ustadzah, dia memang suka ngerepotin orang. " Bintang merasa tak enak hati.
" Tidak merepotkan kok mas, justru saya malah senang ada teman pergi ke sekolahnya. " Jawab Bulan.
" Atau begini saja ustadzah, saya antarkan saja kalian berdua ke sekolah. " Tawar Bintang.
" Tidak perlu mas Bintang, saya naik motor saja. Mas Bintang antarkan Bunga saja. " Bulan menolak tawaran Bintang, karena apa kata orang nanti. Calon suami baru meninggal, sudah pergi sama laki-laki lain. itulah yang dipikir Bulan.
" Lebih baik, Bulan naik motor saja nak Bintang. Tak baik nanti kalau di lihat orang, nak Bintang pahamkan maksud bapak. " Pak Soleh ikut menimpali.
" Iya om, maafkan atas kelancangan saya. Saya paham maksud om. " Bintang sadar akan perkataannya tadi salah.
" Iya nak tidak apa-apa, bapak dan ibu tahu maksud kamu baik. Tapi, untuk saat ini waktunya tidak pas. " Ibu Nisa ikut menimpali obrolan mereka.
__ADS_1
" Enggak mau, aku tetep mau bareng sama ustadzah saja. Boleh ya ustadzah, pliiiss. " Bunga memohon dengan muka memelasnya.
" Iya boleh, gimana mas Bintang? Boleh Bunga bareng sama saya? " Bulan meminta izin kepada Bintang.
" Tentu saja boleh ustadzah. Dan sekali lagi, saya minta maaf, karena sudah lancang. " Jawab Bintang dengan senyum manisnya, sambil menangkupkan kedua tanga tanda meminta maaf.
" Iya mas, tidak perlu meminta maaf juga. Saya mengerti maksud mas. Oh ya mas Bintang, bukan maksud tidak sopan. Sekarang sudah waktunya saya dan Bunga berangkat ke sekolah, takutnya nanti telat. " Bulan terpaksa berbicara seperti itu, karena waktu memang sudah mepet sekali. Walaupun tak enak hati, secara langsung mengusir 😁.
" Astaghfirullah, iya juga. Maaf maaf, saya jadi lupa waktu. Kalau begitu saya permisi dulu, saya juga harus segera ke kantor. Dan kamu Bunga, jangan membuat ustadzah susah. Jangan nakal juga. Kalau begitu, saya pamit semuanya. Assalamu'alaikum. " Bintang langsung berdiri mohon undur diri, dan tak lupa menyalami kedua orang tua Bulan.
" Wa'alaikumussalam. Iya nak Bintang, hati-hati di jalan. " Jawab pak Soleh.
" Iya kak, kakak hati-hati ya. Daah. " Bunga melambaikan tangan kepada kakaknya.
Bintang langsung menuju mobilnya dan langsung pergi dari rumah Bulan, dan tak lupa membunyikan klakson tanda permisi.
" Ya sudah kalau gitu, pak, bu, Bulan sama Bunga pergi ya ke sekolah. Ayo Bunga. " Bulan pamit kepada bapak dan ibunya serta mengajak Bunga berangkat sekolah.
" Iya ustadzah, ayo. " Jawab Bunga.
" Ya sudah, kalian hati-hati di jalan. " Pesan bu Nisa.
" Iya bu, Assalamu'alaikum. " Setelah bersalaman mereka akhirnya berangkat juga.
" Wa'alaikumussalam " Jawab pak Soleh dan bu Nisa besamaan.
Sedangkan suasana di rumah pak Iman masih berduka, mereka semua masih terlihat begitu bersedih atas kepergian Adnan untuk selamanya.
" Bu, ibu makan ya. Kita tidak boleh seperti ini terus, kita tu harus ikhlas melepas kepergian anak kita. " Pak Iman mencoba membujuk bu Della untuk makan, karena dari kemarin bu Della tidak memakan apapun. Sedangkan bu Della hanya menggeleng saja, pertanda dia tidak mau.
" Bu, kalau ibu seperti ini terus. Kasihan Adnan, pasti dia sedih. Ibu harus menerima takdir ini, kita hanya harus mendoakannya saja. Bapak juga sedih bu, tapi kita harus tetap menjalani hidup ini. " Pak Iman terus saja menasehati istrinya.
Gani dan Gina yang melihat keadaan ibunya pun kasihan, mereka pun ikut mendekat dan membujuk ibunya agar mau makan dan tetap ikhlas.
" Bu, makan ya. Gina suapin ya. " Gina berusaha memberikan suapan kepada ibunya.
Dengan segala macam bujuk rayu dari suami dan anak-anaknya, akhirnya bu Della mau makan juga. Dia juga akhirnya sadar, kalau dia harus ikhlas, sabar, dan tetap semangat menjalani hidupnya. Karena dia juga harus menjaga perasaan anak-anaknya yang lain.
__ADS_1
Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.