
" Kita harus cari kemana ini pa? " Panik bu Juni, karena saat ini ia bersama anak dan suaminya sedang berada di mobil di dekat sekolahan tempat Bulan mengajar.
" Pa, itu kayaknya ada CCTV ? Aku coba cek dulu ya? " Bintang berusaha tenang, meski hatinya sendiri sangat khawatir dengan keselamatan istri dan adiknya.
" Iya Bintang, perlu papa temanin? " Sahut sang papa.
" Tidak perlu pa, papa coba cari info atau bantuan saja. " Sahut Bintang dan segera turun dari mobil menuju tempat yang mempunyai CCTV tersebut.
" Oke nak, hati-hati. " Ucap sang papa, dan hanya di jawab dengan anggukan saja oleh Bintang.
Sedangkan Bulan dan Bunga yang sedang di sekap kondisinya saat ini sangat memprihatinkan sekali, bagaimana tidak? Sejak siang hingga malam, mereka tidak diberi makan ataupun minum sama sekali.
" Bunga, Bunga, kamu harus tetap sadar. Kamu engga boleh pingsan ya? " Bulan tampak khawatir melihat kondisi sang adik ipar, meski ia sendiri sebenarnya sangat lemas sekali.
" Aku akan usahakan kak, tapi aku sangat haus dan lapar. " Rengek Bunga.
" Astaghfirullah, sabar ya sayang. Coba kakak panggilkan mereka ya? Siapa tahu mereka ada di luar sana. " Ucap Bulan.
" Permisi, apa ada orang di luar? Kami butuh air dan makanan disini, kami mohon. " Teriak Bulan.
" Woooyyy, kalian itu maunya apa sih? Lepaskan kamiiii...Aaarrggh..." Bunga sudah sangat emosi sekali, sehingga ia melampiaskannya dengan memekik seperti itu.
" Duarrr " Suara pintu terbuka dan terbanting keras.
" Berisik sekali kalian, ini ada makanan dan minuman. Gue engga mau kalian mati disini, dan gue bakal lepas ikatan tangan kalian. Tapi ingat, jangan coba-coba kabur. Kalian dengar. " Rupanya ada seorang lelaki masuk dengan membawa kantong keresek dan melemparkannnya kepada Bulan dan Bunga, ia juga membuka ikatan yang ada pada tangan mereka berdua.
" Terima kasih pak, saya yakin anda pasti orang baik. " Ucap Bulan dengan nada lembut.
Lelaki tersebut tak menghiraukan ucapan Bulan, ia bahkan langsung keluar dari ruangan tersebut dan mengunci pintunya lagi.
Tanpa aba-aba, Bunga yang sudah sangat haus dan lapar pun langsung melahap apa yang ada di hadapannya saat ini. Karena terburu-buru, hingga akhirnya membuat ia tersedak.
" Pelan-pelan Bunga, baca bismillah dulu. Kalau masih kurang, makan nih punya kakak. " Bulan menepuk-nepuk tengkuk Bunga.
__ADS_1
" Iya kak maaf, habisnya aku sudah engga tahan lagi. Engga perlu kak, ini sudah cukup kok. Kakak juga harus makan, ayo makan lagi. " Ajak Bunga.
Bulan sedikit tersenyum melihat tingkah sang adik iparnya tersebut.
" Mas, semoga kamu bisa menemukan keberadaan kami. Aku takut mas, cepat datang ya. " Bulan makan sambil melamun dan berharap bahwa sang suami segera datang untuk menyelamatkan mereka berdua.
" Kalau kamu masih lapar, ini punya kakak kamu habiskan saja Bunga. " Bulan menyerahkan makanan miliknya yang masih tersisa banyak.
" Engga usah kak, aku sudah kenyang sekali. Kakak habiskan saja, karena kakak juga perlu makan untuk tetap memiliki tenaga yang cukup. " Tolak Bunga.
" Kakak engga selera Bunga, kira-kira kita ini sedang di sekap oleh siapa ya? " Bulan sangat berselera untuk makan, meski sebenarnya ia juga lapar.
" Aku juga engga tahu kak, apa mungkin ada hubungannya dengan kak Bintang ya? " Tebak Bunga.
" Maksud kamu apa Bunga? Kok ada hubungannya dengan mas Bintang? " Bulan belum jelas dengan perkataan Bunga.
" Aku kan cuma nebak aja kak, siapa tahu lawan bisnisnya gitu. Atau yang lainnya. " Jawab Bunga.
" Kamu ada benarnya juga ya Bunga. " Sahut Bulan.
" Tapi bagaimana caranya Bunga, di luar sana dijaga ketat sama mereka. " Sahut Bulan.
" Iya juga ya kak,..." Lesu Bunga.
" Wooooiii, ada orang engga di luar. " Teriak Bunga.
" Bunga, kamu kenapa? " Tegur Bulan.
" Aku mau nanya sama mereka kak, apa tujuan mereka bawa kita. " Jawab Bunga.
" Sabar Bunga,..." Bulan mengelus pundak sang adik ipar.
Karena Bunga terus berteriak dari dalam, maka salah seorang yang menjaga pintu pun masuk dengan kesal.
__ADS_1
" Ada apa teriak-teriak? Ganggu istirahat orang saja. " Pria tersebut tak kalah jengkel dengan teriakan Bunga.
" Enak aja loe mau istirahat, terus kita ini gimana nasibnya? Dianggurin disini, siapa sih yang nyuruh kalian? " Bunga terus berteriak dengan emosi kepada pria tersebut.
" Iya ini pak, kami harus pulang ke rumah ini. Pasti keluarga kami sedang mencari, dan lagi saya juga butuh pakaian bersih, tempat bersih dan juga air bersih. Soalnya saya ini mau shalat,.... " Berbeda dengan Bulan yang berbicara dengan nada yang masih sopan.
" Apa peduli gue sama kalian, terserah kalian mau apa? Yang penting kalian sudah di kasih makan kan? Tunggu saja sampai bos gue datang ya, hahahahaha. Sudah ya, jangan berisik lagi. " Pria tersebut benar-benar tak peduli terhadap mereka, ia berlalu pergi begitu saja meninggalkan mereka.
" Sialan, aaarrrggghh. " Umpat Bunga.
" Sabar ya sayang, kita berdoa saja supaya mas Bintang segera menemukan kita. Kakak juga bingung harus gimana. " Bulan merengkuh tubuh sang adik ipar kedalam dekapannya.
" Hiks,..hiks,...hiks..... Aku sebenarnya takut kak, aku pengen pulang ke rumah. " Tangis Bunga pun pecah.
" Iya sayang, kakak tahu. Kita berdoa bersama ya, supaya kita selalu dalam lindungan-NYA. " Bulan terus saja menenangkan adik iparnya.
Bintang sudah kembali lagi ke mobil untuk menemui orang tuanya dengan wajah yang semakin kusut.
" Gimana Bintang? Dapat petunjuk? " Tanya papanya setelah Bintang masuk ke dalam mobil.
" Sepertinya mereka di culik pa, ma.Tapi, aku engga tahu siapa mereka. " Jawab Bintang dengan menundukkan kepalanya, dan tanpa aba-aba air matanya pun mengalir begitu saja.
" Apa? Di culik? Bunga, Bulan. Hiks..Hiks.. " Bu Juni sangat syok mendengar perkataan Bintang.
" Mama tenang ya, kamu juga Bintang. Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencari mereka, Insya Allah kita akan segera menemukan mereka. Oh iya Bintang, kamu ada copiyan rekamannya? " Pak Jafar mencoba menenangkan istri dan anaknya.
" Ada pa, kebetulan tadi aku minta sama yang punya. " Sahut Bintang lemas seraya menyerahkan copiyan rekamannya.
" Baiklah Bintang, papa akan minta bantuan sama orang-orang ahli kenalan papa. Kamu juga harus tenang dan kuat ya, supaya kita segera menemukan istri dan adik kamu. " Ucap pak Jafar tenang.
" Iya pa, aku juga sudah minta tolong sama orang-orang yang paham akan masalah seperti ini. " Sahut Bintang.
" Sayang, sabar ya. Mas pasti akan menemukan kamu dan Bunga, kalian harus kuat ya. " Batin Bintang.
__ADS_1
Mohon selalu dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.