Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Kekhawatiran Orang Tua


__ADS_3

Langit semakin hari semakin giat belajar, karena ia ingin menghadapi ujian masuk sekolah yang baru. Meski hasil ujian akhirnya belum keluar, ia tetap rajin belajar untuk masuk ke sekolah yang ia inginkan.


Selama Langit tidak sekolah, ia tidak hanya berdiam diri saja di rumah. Ia seringkali membantu orang tuanya bekerja di kebun, meski sudah di larang oleh orang tuanya dia tetap saja membantu sebisanya.


" Le, gimana. Sudah keluar hasil ujian akhirmu? " Tanya pak Soleh kepada putranya ketika sedang bersantai malam.


" Belum pak, mungkin sebentar lagi. Memangnya kenapa pak? " Jawab Langit.


" Kok lama sekali, ya bapak pengen tahu hasilnya to Le. Kamu itu lulus apa ndak? " Pak Soleh sesikit cemas.


" Ya di doakan saja pak, mudah-mudahan anak kita ini lulus dengan nilai yang bagus. " Sahut bu Nisa yang baru keluar dari dapur membawa kopi untuk pak Soleh.


" Aamin..." Jawab mereka bersamaan.


" Pak, bu, Langit ke kamar duluan ya. " Langit pamit kepada orang tuanya.


" Iyo le,..." Jawab bu Nisa.


Langitpun berlalu menuju kamarnya.


" Pak, Bulan sama Bintang kira-kira sudah sampai belum ya? " Bu Nisa bertanya pada pak Soleh.


" Mungkin sudahlah bu, kan ini sudah malam. " Jawab pak Soleh.


" Mudah-mudahan saja sudah ya pak. " Ucap bu Nisa.


" Aamiin,... " Pak Soleh mengaminkan.


" Oh ya pak, ibu kok jadi kepikiran sama Alesa ya? " Ucap bu Nisa tiba-tiba.


" Kepikiran kenapa bu? " Pak Soleh bingung.


" Ya kepikiran pak, kok sampai sekarang belum hamil juga. Takutnya ibu itu, nanti keburu Bulan yang hamil duluan. Alesanya gimana? " Bu Nisa tampak cemas.


" Sudahlah bu jangan terlalu di pikirkan, itu semuakan sudah kehendak sang maha pencipta. Alesa dan Boni kan sudah berusaha, tapi memang belum dikasih mau bagaimana lagi. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik sajalah bu. " Pak Soleh mencoba menenangkan sang istri yang sedang gundah.


" Iya pak. Tapi ibu berharap, kalau Alesa dan Bulan nanti sama-sama hamil. Jadi, kita bisa punya cucu langsung 2. " Bu Nisa begitu sangat berharap anak-anaknya segera hamil.


" Iya bu, semoga saja keinginan ibu bisa segera terwujud ya. Dan kita bisa segera menimang cucu. " Pak Soleh mempunyai harapan yang sama.


" Uhuk, uhuk,...." Alesa tiba-tiba batuk.


" Kamu kenapa dek? " Tanya Boni.


" Enggak tahu nih bang, tiba-tiba aja tenggorokanku gatal. Kayak ada yang lagi ngomongin gitu. " Jawab alesa.


" Enggak boleh suudzon dek, nih minum. " Boni memberikan air kepada sang istri.

__ADS_1


" Terina kasih bang. " Ucap Alesa.


" Sama-sama, kita tidur yuk. " Ajak sang suami.


" Bang, kita sudah menikah 3 tahun. Tapi, kenapa belum dikasih anak juga ya? " Tiba-tiba Alesa sedih.


" Sayang, kenapa bahas ini lagi? Kita kan sudah sering bahas ini. " Boni tidak mau sang istri sedih jika membahas soal anak.


" Tapi bang, adek kepengen sekali hamil. " Ucap Alesa.


" Sabar ya, yang penting kita sudah berusaha. Apapun hasilnya, kita serahkan saja kepada sang maha pencipta. " Boni menenangkan sang istri dan memeluknya.


" Iya bang. " Alesa menjawab singkat.


" Lain kali jangan dibahas lagi ya? Kita nikmati saja pernikahan ini, yang penting kita selalu bersama. " Titah sang suami.


" Iya bang maaf, lain kali tidak diulangi lagi Insya Allah. " Sahut Alesa.


" Ya sudah kalau gitu, kita tidur yuk. Abang sudah ngantuk nih. " Ajak Boni sambil merebahkan badan mereka di tempat tidur.


Berbeda dengan Bunga, karena sedang libur sekolah. Maka libur juga belajarnya 😁, ia lebih sering bermain game online di ponselnya. Karena Bunga belum bisa hangout sama teman-temannya, dikarenakan kakinya belum sembuh betul. Jadi, ia merasa booring saja. Apalagi sang kakak dan istri sedang tidak ada di rumah, maka bertambahlah kebosanan Bunga.


" Bunga, kamu mau ikut mama belanja enggak? " Bu Juni menghampiri sang anak yang sedang bermain ponsel di ruang keluarga.


" Mama mau belanja apa? Lama enggak? " Jawab Bunga.


" Aku boleh beli sesuatu enggak? Hehehehe. " Tanya Bunga.


" Boleh, beli apa? Asal jangan yang aneh-aneh. " Sahut sang mama.


" Nanti deh aku kasih tahu, tapi beneran boleh ya? " Bunga memastikan.


" Iya boleh, ayo kita berangkat kalau gitu. " Ajak sang mama.


" Oke boss, lets go. " Bunga girang.


" Hati-hati, jangan terlalu lebay. Ingat kakinya. " Sang mama mengingatkan.


" Iya mama sayang. " Sahut Bunga lalu menggandeng tangan mamanya.


Mereka pun berangkat belanja di antar pak sopir, sedangkan papanya lagi bekerja.


Sesampainya di pusat perbelanjaan, Bunga dan mamanya langsung memilih-milih barang yang akan mereka beli. Sedang asik mereka berbelanja, tiba-tiba saja ada seseorang menabrak Bunga. Hampir saja Bunga terjatuh, untung sang mama dengan sigap menangkapnya.


" Woi pakek mata kalo jalan. " Bunga marah kepada sang penabrak.


" Maaf, maaf. " Kata penabrak tersebut menghampiri.

__ADS_1


" Loe kan yang waktu itu marah-marah di rumah sakit. " Bunga seperti mengenali sang penabrak.


" Kamu Fanya? " Tanya bu Juni.


" Eh tante dan Bunga, maaf ya. Tadi aku enggak sengaja. " Ucap Fanya.


" Makanya, kalo lagi di tempat rame itu jangan grusa grusu. Jadinya nabrak orang kan? " Bunga masih emosi.


" Bunga, kamu enggak boleh seperti itu. Kamu harus sopan, bagaimana juga. Dia lebih tua dari kamu. " Nasehat sang mama.


" Tapi ma...." Ucapan Bunga terpotong.


" Sssttt, sudah Bunga. " Bu Juni melarangnya berbicara lagi.


" Sekali lagi, aku minta maaf ya tante, Bunga. Aku beneran enggak sengaja. " Fanya masih bersikap ramah.


" Oke Fanya, enggak apa-apa kok. Lain kali hati-hati, apalagi di tempat ramai. " Bu Juni menasehati Fanya.


" Iya tante, terima kasih. Oh ya tante, gimana kabar Bintang? Denger-denger sudah nikah ya? " Fanya basa-basi.


" Iya Fanya, Bintang sudah nikah. Kamu kapan nyusul? " Bu Juni balik bertanya.


" Hahahaha, tante nanya apa ngeledek? " Tawa Fanya.


" Kok ketawa Fanya? " Bu Juni bingung.


" Gila kali ma. " Bunga berbisik kepada mamanya, tapi sang mama langsung menyuruhnya diam.


" Kan tante tahu, kalau aku cuma cinta sama Bintang. Jadi, aku nunggu Bintang jadi duda dulu baru nikah. " Jawab Fanya enteng.


" Astaghfirullah, sadar nak Fanya. Kamu kenapa jadi begini sih? " Bu Juni kaget dengan pengakuan Fanya.


" Hey mbak Fanya, jangan ngimpi kamu. " Bunga tak tahan mendengar omongan Fanya.


" Kita lihat saja nanti, aku pasti bisa dapatin Bintang. Mohon doa restunya ya tante. " Ucap Fanya sambil mencium tangan bu Juni dan berlalu pergi.


" Mama jadi khawatir dengan pernikahan kakak kamu Bunga. " Bu Juni hanya bisa bengong melihat tingkah Fanya.


" Tenang saja ma, karena aku yakin. Kak Bintang sama kakak ipar, pasti bisa melewati cobaan seperti perempuan enggak tahu malu kayak dia itu. " Bunga menenangkan mamanya.


" Mama harus memperingatkan kakak kamu Bunga. " Ucap bu Juni.


" Iya ma, lanjut belanja yuk. " Ajak Bunga.


Mereka berdua akhirnya melanjutkan aktivitas belanjanya.


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.

__ADS_1


__ADS_2