
Setelah gagal melaksanakan pernikahan dengan Adnan, karena disebabkan Adnan kecelakaan. Bulan sudah kembali mengajar. Bagaimana pun juga, Bulan harus tetap profesional dalam mengajar. Dia mungkin saat ini sedang di landa kesedihan, karena calon suaminya sedang koma. Akan tetapi, dia juga tidak boleh lalai dengan kewajibannya mengajar. Karena itu sudah tugas dan tanggung jawabnya.
Bulan juga selalu bolak-balik ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan dan perkembangan Adnan, dia juga selalu menyemangati ibu, bapak dan saudaranya Adnan. Dia juga selalu berdoa untuk kesembuhan Adnan.
Bunga merasa kasihan dengan ustadzahnya itu, dia tahu pasti akan kesedihan yang sedang melanda ustadzahnya. Bunga setiap hari juga selalu menghibur ustadzahnya, dan itu sedikit mengurangi kesedihan yang ada. Seperti hari ini, Bunga membawakan hadiah kecil untuk ustadzahnya.
" Assalamu'alaikum ustadzah. " Bunga menyapa ustadzahnya yang sedang berada di dalam kantor guru sendirian.
" Wa'alaikumussalam, eh ada Bunga. Kenapa Bunga? ada yang bisa ustadzah bantu? " Bulan sedikit terkejut dengan kehadirannya Bunga.
" Enggak ada apa-apa kok ustadzah, cuma mau kasih ini saja sama ustadzah. " Jawab Bunga sambil menyerahkan sebuah bingkisan kecil kepda ustadzahnya.
" Waw, apa ini Bunga? Kamu setiap hari kasih ustadzah hadiah, kan ustadzah enggak lagi ulang tahun. " Bulan penasaran dengan isi bingkisannya, dan merasa tidak enak hati karena setiap hari Bunga selalu kasih hadiah-hadiah kecil kepadanya.
" Ini bukan apa-apa kok ustadzah, aku cuma senang aja kalau ngasih sesuatu sama ustadzah kesyanganku ini. " Jawab Bunga sambil memeluk ustazahnya.
" Terima kasih ya Bunga, kamu sudah perhatian sekali sama ustadzah. Ustadzah tahu kok, kamu sebenarnya cuma mau menghibur ustadzah kan. Karena masalah yang sedang ustadzah alami sekarang ini. " Tebak Bulan, sambil membalas pelukannya Bunga.
" Hehehhe. Ustadzah, I Love You " Ucap Bunga dengan suara sedikit bergetar, dan semakin kencang memeluk ustadzahnya.
" Love You too, Bunga. Terima kasih ya, ustadzah jadi terharu. Kamu itu murid sekaligus sahabat bagi ustadzah. " Balas Bulan, dan dia juga mencium Bunga.
Adegan yang mengharukan itu dilihat oleh Lela sahabatnya Bulan, dia tidak mau mengganggu. Dia hanya memperhatikan dari kejauhan saja, dia juga merasa kasihan dengan sahabatnya itu. Dan dia juga senang, karena ada yang selalu memberi perhatian kepada Bulan. Walau hanya dari seorang siswi, tapi itu sangat berarti bagi seseorang yang sedang sedih.
Sebulan Telah Berlalu
__ADS_1
Adnan sudah mengalami koma selama sebulan, dan tidak ada perubahan ataupun perkembangan yang menandakan Adnan akan sadar.
Keluarga Adnan sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi dengannya nanti, walaupun mereka setiap hari selalu berharap akan ada keajaiban yang datang.
Kondisi Adnan saat ini terlihat begitu pucat sekali, seperti mayat hidup saja. Bahkan badannya terlihat sangat kurus, siapa saja yang melihatnya pasti akan merasa iba.
" Nak, kapan kamu bangun? Ibu kangen banget sama kamu, lihat lah kondisi mu saat ini. Ibu harus berbuat apa nak, supaya kamu bangun. " Bu Della terus meratapi nasib anaknya, sambil menggoyangkan tubuh Adnan.
" Sudahlah bu jangan seperti ini, kasihan Adnan. Kita sekarang ini hanya perlu berdoa dan berharap yang terbaik saja. Bapak juga sedih melihat keadaan anak kita ini. " Pak Iman menguatkan istrinya yang terus menangis.
" Nak, apa kamu tidak kasihan dengan nak bulan. Dia sampai sekarang masih menunggu dan mengharapkannmu, tidakkah kamu melihatnya nak. " Bu Della terus mengajak Adnan mengobrol.
Kebetulan sekali hari ini Bulan juga datang ke Rumah Sakit, dia menunggu giliran untuk menjenguk Adnan.
" Assalamu'alaikum mas, bagaimana kabar kamu hari ini? Aku yakin, kamu pasti bisa dengar aku. Mas, sampai kapan kamu akan seperti ini? Tidakkah kamu kasihan dengan orang tuamu yang sangat mengkhawatirkanmu, apa kamu juga tidak sudi lagi untuk menikah denganku ini. " Bulan seolah sedang mengobrol dengan Adanan, sebisa mungkin Bulan menahan air matanya. Meski kadang keluar juga buliran itu dari matanya.
" Mas, maafin aku jika harus memaksamu. Tapi aku sadar, semua yang terjadi ini atas kehendak yang Kuasa. Jadi, aku akan ikhlas dengan apapun yang akan terjadi nanti. Bukan maksudku untuk berdoa yang buruk mas, akan tetapi melihat kondisimu saat ini. Aku jadi pesimis, maaf ya mas. Tapi, kalau aku boleh berharap. Aku berharap akan ada keajaiban yang datang, Aamiin. " Bulan terus saja berbicara kepada tubuh Adnan yang semakin pucat itu.
Cukup lama Bulan berada di dalam, sehingga dia di susul oleh bapaknya. Karena Bulan datang ke Rumah Sakit di antar oleh bapaknya.
" Nduk, sudah selesai? " Tegur pak Soleh setelah masuk ke kamar sambil memegang pundak Bulan.
" Eh bapak, sudah pak. Ini juga sudah mau keluar kok, lama ya pak? " Jawab Bulan sedikit kaget.
" Sudah ya nduk, bapak tahu kamu sedih. Tapi kamu juga harus terus melanjutkan hidup kamu, bapak kasihan melihat kondisi kamu sekarang ini. Adnan juga pasti sedih kalau melihat kamu seperti ini terus. Kita ini hanya bisa berdoa dan berharap, karena usaha juga sedang di lakukan sampai saat ini. " Pak Soleh memberi sedikit nasehat kepada Bulan sambil memeluk anak gadisnya tersebut.
__ADS_1
" Iya pak, Bulan paham. " Bulan menjawab singkat.
" Nak Adnan, kami permisi dulu ya. Semoga kamu lekas sadar, kami semua sedang menunggumu. Assalamu'alaikum. " Pamit pak Soleh kepada Adnan.
Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar Adnan, dan akan pamit juga kepada keluarganya Adnan yang ada disana.
" Bu, Bulan pamit pulang dulu ya. " Bulan menyalami bu Della sekalian pamit.
" Iya nak Bulan, terima kasih ya. Kamu sudah menjenguk Adnan hampir setiap hari, dia pasti senang kamu datang untuk menemuinya. " Bu Della memeluk Bulan.
" Iya bu, sama-sama. Ibu juga harus istirahat ya, takutnya nanti ibu malah ikutan sakit. " Pesan Bulan.
" Insya Allah nak, kamu hati-hati ya pulangnya. Pak Soleh, terima kasih sudah mau datang. Dan hati-hati di jalan ya. " Bu Della bepesan kepada pak Soleh.
Pak Soleh dan Bulan pun akhirnya melangkah keluar dari Rumah Sakit, mereka menuju parkiran untuk mengambil motor yang mereka kendarai tadi.
Baru saja pak Soleh dan Bulan ingin pulang, tiba-tiba ada yang memanggil Bulan.
" Ustadzah Bulan " sapa seseorang tersebut.
Bulan turun dari atas motor dan menghampiri orang yang memanggilnya.
Bersambung .....
Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.
__ADS_1