Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Tangisan Bahagia


__ADS_3

Taksi yang membawa Bintang dan Bulan akhirnya sampai juga ke kediaman pak Jafar, mereka berdua segera turun dari mobil. Dan segera masuk ke dalam rumah.


" Assalamu'alaikum. " Salam Bintang dan Bulan.


" Wa'alaikumussalam... " Jawab semua orang yang ada di sana.


Bintang dan Bulan menyalami satu persatu orang-orang yang ada disana.


" Gimana kabar kamu sayang? Kita semua sudah nungguin kalian dari pagi loh. " Bu Juni memeluk sang menantu.


" Maafkan kami ma, karena kami terlambat. " Sahut Bintang.


" Ya sudahlah enggak apa-apa, yang penting sekarang kalian sudah sampai rumah. " Ucap pak Jafar.


" Bener tuh kata pak Jafar, yang terpenting mereka sudah sampai dengan sehat wal afiat. " Pak Soleh turut berbicara.


" Bu, Bulan kangen. " Bulan memeluk sang ibu tercinta.


" Sama nduk, ibu juga kangen. Oh ya nduk, sebagian barang-barang kamu sudah ibu bawakan ya? " Sahut bu Nisa.


" Kenapa mesti repot-repot sih bu, kan Bulan bisa ambil sendiri nanti. Ibu seneng ya Bulan cepet-cepet pergi. " Bulan pura-pura ngambek terhadap ibunya.


" Bukan gitu nduk, kamu ini. " Sahut bu Nisa.


" Iya iya bu, Bulan cuma bercanda kok. " Bulan tak tega melihat ekspresi sang ibu.


" Oh ya semuanya, kita langsung makan aja yok. Kan sudah siang ini, lapar tahu nungguin pengantin baru. " Canda bu Juni.


" Bener itu ma, aku juga udah lapar banget. " Bunga ikut menimpali ucapan mamanya.


" Iya, maafin kita ya Bunga. Karena sudah membuat kamu menunggu. " Bulan menyamperin adik iparnya.


" Aku sih enggak nyalahin kakak ipar, paling juga ini semua gara-gara kak Bintang. Iya kan kak? " Bunga menggoda kakaknya.


" Terserah kamu ajalah Bunga, yang penting kamu seneng. " Sahut Bintang.


Semua orang yang menyaksikan tingkah mereka tertawa, karena mereka bertengkar manja seperti anak kecil saja.


Setelah selesai makan, mereka semua kembali berkumpul di ruang keluarga.


" Bintang, kamu bawa istrimu ke kamar sana. Pasti dia capek, biar dia istirahat dulu. " Perintah pak Jafar.

__ADS_1


" Bener tu kata papa kamu Bintang, bawa menantu mama kekamar sana. " Bu Juni juga ikut-ikutan memberi instruksi.


" Iya pa, ma. " Jawab Bintang.


" Mas, kita disini saja enggak apa-apa kok. Lagian, adek enggak capek kok. " Ucap Bulan.


" Sayang, bener kata papa sama mama. Kamu itu perlu istirahat, ayo mas antar kekamar. " Sahut sang suami.


" Tapi mas..... " Omongan Bulan terpotong oleh sang mertua.


" Bulan sayang, istirahat sana. Kamu jangan merasa tidak enak meninggalkan kita semua, kamu dari datang tadikan belum ada istirahat. Mama tahu, pasti kamu sebenarnya lelah. " Mama mertuanya sungguh pengertian.


" Iya nduk, bener kata mertuamu. Kamu sama nak Bintang sebaiknya istirahat dulu sana, kita disini sampai sore kok. " Sambung bu Nisa.


" Baik kalau gitu. Semuanya, saya sama mas Bintang pamit ke kamar dulu ya? Assalamu'alaikum. " Bulan akhirnya menuruti keinginan semua orang.


Kini Bintang dan Bulan berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas, lebih tepatnya untuk ke kamar Bintang. Dan sekarang, sudah menjadi kamar Bulan juga.


Sesampainya mereka berdua di depan pintu kamar, mereka tidak langsung masuk.


" Sayang, ini kamar kita. Masuk yok. " Ucap sang suami.


Mereka berdua akhirnya memasuki kamar Bintang.


" Masya Allah mas, besar sekali kamar kamu. " Bulan terkejut ketika sampai kedalam kamar.


" Biasa aja sayang, ini kan juga sekarang kamar kamu. Ayo sini. " Sang suami menarik tangan sang istri menuju ke tempat tidur mereka.


" Masya Allah mas, kemaren kamar hotel di hias. Sekarang, kamar kamu juga di hias. Malah lebih mewah lagi, adek kayak mimpi aja mas. " Bulan tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.


" Sudah sayang, jangan terlalu berlebihan gitu mujinya. Ini itu biasa aja, malah kamu yang luar biasa dan istimewa sayang. " Bintang merasa, kalau itu semua belum ada apa-apanya.


" Soalnya, adek tidak pernah membayangkan hal-hal yang seperti ini mas. Jadi, wajar kalau adek terkagum-kagum dengan ini semua. " Ucap Bulan sambil melihat-lihat isi kamar yang mewah itu.


" Sayang, kamu suka? " Bintang bertanya sambil memeluk sang istri dari belakang.


" Iya mas, terima kasih untuk curahan kasih sayang dan semuanya ini ya mas. " Bulan membalas pelukan sang suami.


" Sama-sama sayang, alhamdulillah kalau kamu suka. " Bintang memeluk sambil menciumi istri cantiknya.


" Mas, itu buku-buku adek ya? " Bulan terkejut setelah melihat buku-buku yang tidak asing.

__ADS_1


" Iya sayang. " Jawab Bintang singkat.


" Kok bisa ada disini mas? " Bulan bingung.


" Ya bisalah, kan mas bisa sulap. " Bintang menjawab dengan candaan.


" Mas, adek serius ini. " Bulan sedikit ngambek mendengar jawaban sang suami.


" Maaf sayang, iya mas jawab dengan serius. Mas minta tolong mama, papa, ibu, bapak dan beberapa orang lainnya untuk memindahkan barang-barang kamu yang diperlukan. Dan sekalian, mas minta tolong mama juga untuk mendekor dan menata kamar ini. Sudah puas dengan jawabannya sayang? " Bintang menjelaskan panjang lebar dan setelah itu mengangkat sang istri menuju ke tempat tidur.


" Mas turunin dong. " Rengek sang istri.


" Iya sayang, ini mas turunin. " Bintang menurunkan sang istri tepat diatas tempat tidur.


" Mas. " Panggil sang istri lembut.


" Iya sayang, ada apa? " Sahut sang suami tak kalah lembut juga.


" Sekali lagi, terima kasih sebanyak-banyaknya ya mas. " Ucap sang istri dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Hei sayang, kamu kenapa? Dan terima kasih untuk apa lagi? Jangan nangis dong, mas ada salah ya? " Bintang bingung dengan sang istri yang tiba-tiba menangis.


Bulan bukannya menjawab pertanyaan sang suami, tetapi dia langsung memeluk sang suami dengan erat. Dan air matanya semakin deras keluar dari sudut matanya.


" Sayang, sudah ya. Jangan nangis gini, sekarang jelasin sama mas. Kenapa sayang sampai nangis gini? " Bintang masih bingung, kenapa sang istri menangis.


" Adek menangis bahagia mas. " Jawab sang istri yang masih memeluk erat sang suami.


" Kalau bahagia, jangan menangis dong. Mending kasih mas hadiah. " Bintang menggoda sang istri agar berhenti menangis.


" Hadiah? Adek mana punya hadiah, besok-besok ya adek cariin. Tapi apa mas? Kan mas sudah punya segalanya. " Jawab sang istri polos sambil melepas pelukannya dan menghapus air mata yang mengalir.


" Iya hadiah. Tapi, mas enggak mau barang-barang. " Ujar sang suami gantung.


" Terus apa dong mas? Coba ngomong sama adek, mana tahu bisa adek turutin. " Sahut sang istri masih polos saja.


" Mas maunya dicium sama kamu, di peluk, di sayang, pokoknya mas mau hadiahnya cuma kamu seorang sayang. Kita selalu bersama seperti ini saja sudah menjadi hadiah terindah mas sayang. Jadi, kamu janji sama mas ya. Kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan mas. " Ucap sang suami sambil mengecup mesra kening sang istri.


" Insya Allah mas, kita akan selalu bersama sampai maut yang memisahkan. " Jawab sang istri.


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.

__ADS_1


__ADS_2