Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Ustadzah, I Love You


__ADS_3

" Bu-bukan begitu mas, maaf. Saya hanya tak terbiasa berdekatan dengan lawan jenis seperti ini, apalagi kita hanya berdua saja disini. " Bulan berusaha jujur.


" Masya Allah, ustadzah memang luar biasa sekali. " Puji Bintang.


" Luar biasa gimana mas. " Bulan bingung.


" Ya luar biasa lah, karena ustadzah ini sangat takut dosa ketika berada bersama dengan lawan jenisnya. Maafkan saya karena membuat ustadzah takut. " Bintang salut dengan Bulan.


" Terima kasih mas, tapi saya bukan takut dengan mas nya ya. " Sahut Bulan.


" Kita sudah sampai ke tempat makannya nih ustadzah, sekarang kita turun yuk. " Ajak Bintang, dia bergegas turun duluan dan segera membukakan pintu untu Bulan.


" Terima kasih loh mas, pakai acara di bukain segala. " Bulan benar-benar merasa aneh saja dengan perlakuan Bintang.


" Ayo kita segera masuk, saya sudah lapar sekali ustadzah. Hehhehe. " Bintang bicara jujur.


Mereka pun memilih tempat duduk yang outdoor, dan pelayan resto pun datang membawa menu.


" Ayo ustadzah, silahkan pesan. " Perintah Bintang.


" Mas saja yang makan, saya temenin mas makan saja. " Tolak Bulan.


" Kalau ustadzah tidak mau makan juga, kita sebaiknya langsung pulang saja lah. Saya tidak enak lah makan sendiri, sedangkan ustadzah cuma nonton. Ayo. " Bintang pura-pura ngambek dan langsung berdiri mengajak Bulan pulang.


" Mas, jangan gitu. Tadi katanya lapar, ayo duduk lagi. Iya, iya saya pesen makan juga. " Bulan merasa tak enak dengan Bintang, akhirnya dia pun ikut memesan.


" Bintang, kamu ini sudah kehilangan akal sehat ya. Pakai acara ngambek seperti anak kecil, tapi tak apalah yang penting dia tak tega juga kalau aku kelaparan. Maafkan aku ya Bulan. " Batin Bintang.


" Mas Bintang kok kayak aneh gini ya, ada apa sama dia ya? Aku kok jadi tambah dag dig dug. Mas, aku tuh bukannya takut sama kamu. Tapi aku takut ada setan yang lewat saja. Astaghfirullah. " Bulan pun berperang dengan hatinya.


Suasana jadi hening sejenak, akan tetap Bintang memecah keheningan itu.

__ADS_1


" Oh ya ustadzah, apa ustadzah sudah benar-benar sembuh? Kok sudah masuk ke sekolah? " Bintang mengkhawatirkan keadaan Bulan.


" Alhamdulillah sudah kok mas, saya juga bosan kelamaan diam di rumah. Apalagi harus full istirahat di kamar saja. Lagian juga, saya harus mempersiapkan diri untuk ujian anak-anak mas. " Jelas Bulan.


" Alhamdulillah deh kalau ustadzah benar-benar sudah sehat, saya turut seneng dengernya. " Ucap syukur Bintang.


" Terima kasih atas perhatiannya mas, " Sahut Bulan sedikit tertunduk.


" Sama-sama ustadzahku, oh ya ustadzah. Gimana dengan pertanyaan saya waktu itu. " Bintang mulai mengarah ke topik perasaan 😁.


" Pertanyaan yang mana mas. " Bulan bingung.


" Ustadzah bener-bener tidak ingat, atau gimana? " Goda Bintang.


" Beneran lupa mas, pertanyaan yang mana? " Bulan masih bingung dibuat Bintang.


Belum juga Bintang menjawab, pesanan yang mereka pesan sudah datang.


" Iya mas. " Sahut Bulan singkat.


Mereka berdua akhirnya makan terlebih dahulu.


" Alhamdulillah, terima kasih ya ustadzah sudah mau nemenin saya makan. " Ucap Bintang selesai makan.


" Sama-sama mas, terima kasih juga sudah di ajakin makan. " Balas Bulan.


" Kita lanjut obrolan kita yang terputus tadi ya, masa iya ustadzah lupa. Yang itu loh ustadzah, yang waktu saya nanya boleh enggak saya deketin ustadzah? " Jelas Bintang serius.


Deg, Bulan langsung deg-deg an. Tapi dia berusaha tenang.


" Deketin gimana mas? Ini kita juga sudah dekat. " Bulan pura-pura lugu.

__ADS_1


" Maaf ya sebelumnya ustadzah, kalau saya lancang. Begini ustadzah, saya sebenarnya suka sama ustadzah. Kira-kira ustadzah mau enggak serius sama saya? Kan setahu saya, ustadzah juga lagi sendiri. " Bintang to the point, dia tidak mau menunggu lama lagi. Takut terlambat lagi, jadi dia putuskan untuk jujur saja.


" Ma-maksud mas Bintang apa? Mas Bintang lagi bercanda atau gimana? " Bulan tampak kaget dan tak percaya.


" Ustadzah, I Love You. Mau enggak ustadzah jadi makmum dan ibu buat calon anak-anak kita nanti. Saya beneran serius ustadzah, bahkan rasa ini sudah ada sejak pertama kali kita bertemu. Tapi sayang, waktu itu ustadzah sudah ada yang punya. " Bintang berbicara jujur sambil duduk bertumpukan lutut.


" Ma-mas, mas ngapain kayak gini. Ayo bangun, enggak enak di lihatin banyak orang. Mas duduk lagi di kursi ya. " Bulan memohon agar Bintang bangun dan kembali ke tempatnya semula.


" Ustadzah, maafkan saya. Karena sudah membuat ustadzah malu, tapi apa yang saya katakan tadi. Itu semuanya benar, jadi saya mohon untuk ustadzah mempertimbangkannya. " Bintang bangun dan kembali duduk ke kursinya.


" Jujur mas, saya sebenarnya kaget banget. Dan saya juga bingung, mau jawab apa sekarang. Mas beneran serius dengan ucapan mas tadi? " Jujur Bulan.


" Demi Allah ustadzah, saya serius dengan ucapan saya tadi. Meski saya sadar, saya tak sempurna untuk menjadi imamnya ustadzah. Karena ilmu agama saya jauh dari ustadzah, tapi saya akan berusaha menjadi imam yang terbaik. Asalkan, ustadzah mau membantu saya. Itu janji saya ustadzah. " Bintang mengucapkan kata-kata itu dengan mata yang berkaca-kaca.


" Ya Allah mas, saya tidak berpikir seperti itu. Saya hanya kaget saja, karena mas Bintang mengatakan itu semua. Mas Bintang bisa memberi waktu saya? " Bulan juga tampak terharu dengan pengakuan Bintang.


" Tentu saja ustadzah, saya akan memberi waktu yang tak terhingga. Dan sampai waktu itu tiba, saya akan tetap menunggu jawaban dari ustadzah. Yang terpenting sekarang saya sudah lega dan tenang, karena saya sudah mengatakannya dan ustadzah juga sudah tahu isi hati saya. Ustadzah tidak marah kan sama saya. " Bintang lega dengan pengakuannya, dan dia tidak kecewa karena Bulan tidak langsung menjawabnya.


" Terima kasih banyak atas pengertiannya mas, saya tidak ada hak untuk marah sama mas Bintang karena kejujuran. Bisa kita sekarang pulang? " Pinta Bulan.


" Bisa ustadzah, sebentar ya. Saya mau bayar ke kasir dulu. " Pamit Bintang dan langsung berjalan menuju meja kasir. Sesangkan Bulan hanya mengangguk saja.


" Mas Bintang, aku bisa lihat kejujuran dari matamu. Tapi, aku harus ngomong sama bapak dan ibu dulu ya mas. Dan aku juga sebenarnya beneran kaget dengan pernyataan kamu mas. Kamu orang yang baik mas. " Batin Bulan sambil melihat Bintang dari kejauhan.


" Ayo kita pulang. " Bintang mengagetkan Bulan.


" Ayo mas. " Bulan berdiri dan mengikuti langkah Bintang menuju parkiran.


Kini mereka berdua sudah berada dalam mobil, dan sudah dalam perjalanan pulang ke rumah Bulan. Tidak ada obrolan selama di perjalanan, mereka berdua sama-sama diam. Terlihat kecanggungam diantara mereka.


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.

__ADS_1


__ADS_2