
Setelah selesai gotong royong dan bersih-bersih, keluarga pak Soleh sarapan bersama. Mereka sarapan dengan tenang, bahkan hanya sekali-kali terdengar benturan sendok dan garpu saja.
Mereka selalu menjaga adab ketika sedang makan, yaitu mereka makan tidak akan berbicara dan makan dengan tenang tidak tergesa-gesa.
Setelah selesai sarapan, para perempuan membereskan sisa-sisa sarapannya. Sedangkan para lelaki, mereka bersiap-siap untuk pergi ke rumah pak Iman.
" Nduk, kamu yakin mau ikut kesana? " Bu Nisa bertanya kepada Bulan yang sedang mencuci piring, dan bu Nisa membereskan meja makannya.
" Insya Allah Bulan yakin bu, ibu tenang saja. " Bulan menjawab dengan yakin.
" Syukurlah kalau kamu yakin. " Bu Nisa merasa lega.
" Bu, lebih baik sekarang kita siap-siap saja. Bapak sama Langit pasti sudah siap dan nungguin kita. " Ajak Bulan kepada ibunya.
" Iya nduk, ayok. " Bu Nisa mengiyakan sekaligus beranjak dari dapur menuju ke kamarnya. Begitu pun dengan Bulan.
Selesai bersiap Bulan dan bu Nisa keluar kamar secara bersamaan, mereka sama-sama sudah siap untuk berangkat.
" Kalian sudah siap untuk berangkat? " Pak Soleh memastikan keluarganya.
Dan mereka bertiga hanya menganggyk bebarengan.
" Bu, Sudah di bawa yang perlu di bawa? " Pak Soleh memastikan tidak ada yang ketinggalan.
" Sudah pak, ibu sudah siapkan semuanya. Tinggal di bawa saja. " Jelas bu Nisa.
" Alhamdulillah kalau gitu, kita tinggal nunggu taksinya saja. Kamu siap nduk? " Pak Soleh mendekati putrinya dan bertanya.
" Insya Allah siap pak. " Jawab Bulan penuh keyakinan.
" Alhamdulillah. " Ucap pak Soleh.
Sekitar pukul 10 pagi, pak Soleh sekeluarga berangkat ke rumah pak Iman dengan menggunakan taksi online. Mereka sudah berada dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan mereka.
Sekitar 30 menitan mereka sampai ke tempat tujuan, mereka turun dan tak lupa membawa bawaan yang sudah di siapkan dari rumah tadi.
Pak Soleh mewakili yang lainnya untuk mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumahnya.
" Assalamu'alaikum " Ucap pak Soleh.
__ADS_1
" Wa'alaikumussalam " Jawab seseorang dari dalam rumah. Dan pintupun terbuka, ternyata yang menyambut mereka adalah pak Iman sendiri.
" Masya Allah, ada tamu istimewa rupanya. Ayo kita masuk, silahkan-silahkan. " Pak Iman langsung menyalami tamunya, dan beliau terlihat heboh menyambut kedatangan tamunya juga.
" Terima kasih pak Iman " Sahut bu Nisa.
" Sama- sama bu Nisa, sebentar ya saya panggilkan istri saya. " Pak Iman pamit ke belakang untuk memberitahukan kepada istrinya kalau ada pak Soleh sekeluarga.
" Iya, silahkan Man. " Jawab pak Soleh.
Sedangkan Bulan dan Langit hanya senyam senyum saja.
Sesampainya pak Iman ke belakang, langsung mengabari istrinya.
" Siapa pak? " Belum juga pak Iman ngomong, bu Della sudah bertanya duluan.
" Itu bu, pak Soleh sekeluarga. Buatin minum dan lekas temuin mereka. Enggak enak mereka nunggu kelamaan nanti. " Pak Iman mendesak istrinya.
" Yang benar kamu pak? " Bu Della seperti tak percaya dan kaget mendengar ucapan suaminya.
" Ya benar lah bu, buat apa bapak bohong. " Pak Iman meyakinkan istrinya.
" Ya sudah kalau gitu, ibu buatkan minum dulu. Lebih baik bapak temanin mereka dulu, kasihan harus nunggu. " Akhirnya bu Della percaya. Dan pak Iman pun langsung menuju ke ruang tamu lagi.
" Iya enggak apa-apa Man, santai saja. Terus mana istrimu? " Tanya pak Soleh.
" Dia lagi di dapur, sebentar lagi keluar kok. " Jawab pak Iman.
" Boleh saya ke dapur pak? " Bulan tiba-tiba ikut berbicara.
" Silahkan nak Bulan, " Pak Iman memberi izin.
" Terima kasih, kalau gitu saya permisi dulu. " Pamit Bulan. Dia ke dapur dengan membawa kue yang di bawa tadi.
" Asslamu'alaikum bu. " Bulan menyapa bu Della.
" Wa'alaikumussalam. " Jawab bu Della sedikit kaget.
" Eh Bulan, ngapain kamu ke dapur? " Sambung bu Della.
__ADS_1
" Maaf ya bu, Bulan bikin ibu kaget. Ini ada kue sedikit, ibu lagi apa? " Jawab Bulan, sekaligus bertanya.
" Pakek repot-repot bawa kue sih nak, tapi terima kasih ya. Ini, ibu lagi buat minuman saja. " Sahut bu Della.
" Sini Bulan bantuin ya bu " Bulan menawarkan diri.
" Ini juga sudah mau selesai kok nak, kamu bantu bawa ke depan saja ya. " Bu Della memberi saran.
" Iya bu, oh ya bu. Gani dan Gina kemana? Kok sepi kayaknya? " Bulan menanyakan keberadaan si kembar.
" Mereka sedang tidak ada di rumah, katanya mereka ada acara di kampus. Jadi di rumah tinggal ibu sama bapak saja. " Jelas bu Della sambil memasukkan kue yang di bawa Bulan ke dalam piring.
" Owh gitu ya bu, pantesan sepi. " Sahut Bulan.
" Ya sudah, ayo kita bawa ke depan. " Ajak bu Della, dan Bulan merespon dengan anggukan.
Sesampainya bu Della dan Bulan di ruang tamu, mereka langsung meletakkan minuman dan makanan yang sudah di bawa ke atas meja.
" Kok repot-repot sih Dell, kami jadi tidak enak. " Bu Nisa berbicara kepada bu Della.
" Mana ada repot, cuma air saja. Ini kan kue kamu yang bawa. " Balas bu Della. Mereka berdua berbalas senyum saja.
" Ayo mari di minum " Ajak pak Iman.
Mereka semua akhirnya meminum minuman yang sudah di sediakan sebelum memulai obrolan.
" Oh ya, ada berita apa nih. Kok tumben hari libur ke rumah kami? Kelihatannya ada hal serius ya? " Pak Iman memulai obrolan dan menanyakan perihal kedatangan pak Soleh sekeluarga.
" Begini loh pak Iman dan bu Della, maksud kedatangan kami kesini itu yang pertama itu adalah silaturrahmi. Kan kita sudah lama tidak berjumpa, bukan begitu kan. " Pak Soleh mulai menjawab pertanyaan pak Iman.
" Iya iya ya, bener juga kamu Leh. Terus yang kedua nya apa? " Pak Iman terlihat tidak sabar mendengar penjelasan pak Soleh.
" Maaf ya sebelumnya, yang kedua. Kami ingin mengembalikan ini. " Jawab pak Soleh, serta menyerahkan beberapa barang serta cincin tunangan, yang dulu pernah dibawa ke rumahnya oleh keluarga pak Iman.
" Ini maksudnya apa? Kenapa di kembalikan? Kami kan tidak minta di kembalikan. Iya kan bu? " Pak Iman minta persetujuan bu Della.
" Benar itu, kami tidak ada niat untuk minta di kembalikan atau memintanya kembali. " Bu Della turut menjelaskan juga.
" Makanya saya tadi minta maaf sebelumnya, dan kami minta maaf lagi kalau kalian merasa tersinggung. " Jelas pak Soleh.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, mereka semua terdiam. Dan tampak wajah-wajah serius mereka, ada juga yang berfikir macam-macam di antara mereka. Sebelum terjadi kesalahpahaman, Bulan pun akhirnya ikut berbicara untuk menengahi orang tua yang sedang terlihat serius itu.
Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.