
Rencananya selesai shalat maghrib, Bulan sekeluarga ingin pergi ke Rumah Sakit lagi. Saat ini, mereka sedang shalat maghrib berjamaah di rumah.
" Dek, kamu ikut ke Rumah sakit? " Alesa memastikan kepada Bulan selesai shalat.
" Insya Allah mbak, aku pengen lihat keadaan mas Adnan. " Bulan menjawab dengan yakin.
" Baiklah dek, yuk kita siap-siap. " Ajak Alesa.
" Ya sudah, yuk kita makan dulu. setelah makan kita langsung berangkat, biar nanti tidak kemalaman. " Pak Soleh memberi arahan kepada mereka.
Sebelum pergi ke Rumah Sakit, mereka makan malam terlebih dahulu untuk mengisi tenaga masing masing.
Setelah semua selesai dan siap, tanpa menunggu lama mereka pun berangkat menuju Rumah Sakit.
# Rumah Sakit
Pak Iman, bu Della dan si kembar masih betah di Rumah Sakit. Mereka semua enggan untuk beranjak meninggalkan Adnan, mereka hanya bergantian untuk shalat saja. Bahkan mereka sampai lupa, bahwa mereka belum makan apapun dari tadi.
Keluarga pak Soleh telah sampai ke Rumah Sakit, dan tanpa berlama lama merekaa langsung menemui pak Iman sekeluarga.
" Assalamu'alaikum. " Salam pak Soleh.
" Wa'alaikumussalam. " Jawab mereka bersamaan.
" Man, ini ada makanan. Sebaiknya kalian makan dulu, aku yakin kalian belum pada makan kan? " Pak Soleh memberikan bingkisan berisi makanan kepada pak Iman.
Bulan mendekati bu Della dan memeluknya, dia berusaha membujuk bu Della untuk makan.
" Bu, makan ya. Bulan suapin ya. " Bulan sudah memegang sendok yang berisi makanan.
Bu Della hanya menjawab dengan gelengan kepala saja, dia merasa tidak lapar dan tidak berselera makan.
" Bu, makan ya. Nanti kalau ibu enggak makan, ibu malah sakit. Nanti kalau ibu sakit, siapa yang akan jagain mas Adnan. " Bulan masih berusaha membujuk bu Della.
Dengan berbagai usaha Bulan menawarkan makanan, dan akhirnya bu Della mau makan juga. Walau dengan terpaksa.
Sekarang sudah menunjukkan pukul 21.00, dan waktu berkunjung ke Rumah Sakit sudah selesai. Maka dengan terpaksa keluarga Bulan harus segera pulang juga.
__ADS_1
" Bu, Bulan pulang dulu ya. Insya Allah besok Bulan kesini lagi ya. " Bulan pamit kepada bu Della.
" Iya nak, terima kasih ya sudah repot-repot mau datang kesini. Dan maaf, karena pernikahannya harus gagal nak. " Bu Della berbicara dengan penuh sesal di wajahnya.
" Bu, tidak perlu berterima kasih. Karena Bulan tidak merasa di repotkan. Dan untuk pernikahan, itu kan bisa di laksanakan lain waktu. " Jawab Bulan dengan penuh senyuman yang di paksa.
Mereka berdua pun berpelukan.
" Della, kami pamit dulu ya. Semoga besok kita dapat kabar baik ya. " Bu Nisa mendekat dan pamit pulang serta memeluk bu Della.
" Aamiin, " Jawab semua yang ada di sana.
Setelah semua berpamitan dan pulang, sekarang giliran menentukan siapa yang tinggal di Rumah Sakit untuk menjaga Adnan. Karena penunggu pasien hanya boleh maksimal 2 orang saja.
" Gin, kamu sebaiknya pulang sama ibu kamu ya. Biar bapak sama Gani yang jaga disini. " Pak Iman memberi titah kepada Gina.
" Enggak, ibu tidak mau pulang. Biar ibu yang jaga Adnan, lebih baik yang pulang Gina dan Gani saja. Ibu tidak mau meninggalkan Adnan, titik. " Bu Della berbicara seolah tak mau di bantah oleh siapa pun dan dengan alasan apapun.
Dengan terpaksa, pak Iman mengiyakan keinginan istrinya itu. Dan anak kembarnya yang harus pulang.
" Iya nak, kalian hati-hati di jalan. Dan jangan menyetir dengan kecepatan yang tinggi, pelan-pelan saja. " Pesan pak Iman kepada anak-anaknya.
Mereka hanya menganggukkan kepala saja, tanda mengerti apa yang di pesan oleh bapaknya. Mereka menyalami kedua orang tuanya untuk pamit pulang, dan tak lupa mengucapkan salam.
Kini tinggallah pak Iman dan bu Della di Rumah Sakit, mereka hanya boleh menunggu di depan ruangan ICU saja. Karena belum ada yang boleh menjenguk pasien yang ada di ICU, apalagi dalam keadaan yang kritis.
Tak terasa sekarang sudah menunjukkan pukul 00.30 dini hari, akan tetapi bu Della dan pak Iman belum bisa tertidur juga.
" Pak, bagaimana ini. Kok Adnan belum ada kabar apa-apa ya dari Dokter? " Bu Della mulai panik dengan keadaan putranya.
" Sabar ya bu, semoga Adnan baik-baik saja. Dan segera kita mendapat kabar bahagia. " Tutur pak Iman.
......................
Sesampainya Bulan di rumah, dia langsung menuju kamarnya. Dia tidak ingin di temani siapa-siapa malam ini, makanya Alesa tidak menemaninya. Padahal tadi Alesa sudah menawarkan diri untuk menemaninya.
Bulan sudah berada di tempat tidur, akan tetapi matanya belum bisa terpejam juga. Ia masih memikirkan calon suaminya yang sedang berada di Rumah Sakit untuk berjuang hidup. Setelah kejadian hari ini, Bulan tidak banyak bicara. Dia hanya bisa menahan kesedihannya saja, walaupun dia berusaha untuk menutupinya. Akan tetapi, itu semua bisa di lihat oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.
__ADS_1
" Mas, semoga kamu cepat bangun ya. Aku akan menunggumu Insya Allah. Apapun yang akan terjadi nanti ketika kamu sudah sehat, aku akan menerimanya mas. " Bulan terus berdoa untuk kesembuhan calonnya.
Entah jam berapa Bulan tertidur, yang pasti sudah lewat tengah malam ia baru bisa memejamkan matanya. Itupun karena efek lelah yang terjadi hari ini.
# Keadaan di Rumah Sakit
Sekitar pukul 01.15, ada Dokter dan 2 orang suster yang ingin masuk ke ruang ICU untuk memeriksa perkembangan Adnan dan pak Jon. Karena setiap malam, ada Dokter yang bertugas di Rumah Sakit untuk mengecek pasien yang kritis dan kalau ada pasien gawat darurat yang datang..
Pak Iman dan bu Della yang melihat kedatangan Dokter pun langsung berdiri untuk melihat dari luar ruangan, mereka berharap-harap cemas.
" Mudah-mudahan ada kabar yang baik ya pak. " Bu Della terus berdoa, agar anaknya baik-baik saja. Dan pak Iman hanya mengangguk sambil terus menguatkan istrinya.
Dokter yang berada di ICU terlihat cemas sekali, entah apa yang sebenarnya terjadi. Melihat pemandangan itu, bu Della dan pak Iman pun ikut cemas.
" Ya Allah, sebenarnya apa yang sedang terjadi di dalam. Ya Allah, kami mohon selamatkan Adnan dan pak Jon . Kalau hamba boleh memohon, jangan Engkau ambil anak hamba Ya Rabb. Aamiin. " Pak Iman terus berdoa di dalam hatinya.
Tak berapa lama kemudian, keluarlah Dokter yang memeriksa tadi. Dan menghampiri pak Iman dan bu Della.
" Selamat malam pak, bu. " Sapa Dokter tersebut.
" Malam Dok. " Jawab pak Iman dan bu Della serentak.
" Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada bapak dan ibu. " Wajah Dokter itu tampak tegang sekali.
" Ada apa Dok, katakan saja. Kami akan mendengarkan dengan baik. " Kata pak Iman.
" Begini pak, kami mohon maaf pak. Kami sudah berusaha sedemikian rupa, tapi .... " Ucapan Dokter terputus karena bu Della.
" Tapi kenapa Dok ? " Bu Della mulai panik.
" Tapi maaf pak, bu, Allah berkehendak lain. " Lanjut Dokter tersebut.
" Tidak, tidak mungkin. Adnaaaan " Bu Della semakin histeris. Pak Iman hanya terdiam mendengar ucapan Dokter tersebut.
Bersambung
Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.
__ADS_1