Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Saling Mengkhawatirkan Satu Sama Lain


__ADS_3

Akhirnya pak Jafar dan bu Juni keluar dari UGD, dan langsung menanyakan apakah para pasien sudah boleh di pindah ke ruang rawat inap.


Jika sudah boleh, maka mereka meminta untuk menyiapkan ruangan VIP atau kalau perlu VVIP untuk anak-anak mereka.


Dan tak lupa juga, pak Jafar menyuruh mang Ujang untuk menjemput langsung orang tua Bulan.


Diantara Bintang, Bulan, dan Bunga. Bunga lah yang mempunyai luka yang cukup serius, apalagi di bagian kakinya. Kaki Bunga yang sebelah kiri mengalami patah tulang. Sedangkan Bulan kepalanya yang pernah kena jahitan, sekarang harus terbuka lagi dan kena jahitan lagi. Juga ada luka-luka lecet dan robek kecil di bagian tangan dan kaki. Lalu bagaimana dengan Bintang? Bintang juga mengalami luka di bagian kepala dan harus menerima jahitan juga, sedangkan tangan dan kaki Bintang mengalami luka robek yang cukup besar.


Untung saja mereka semua menggunakan sabuk pengaman, jadi kecelakaan yang menimpa mereka tak sampai membuat mereka lebih buruk lagi.


Diantara mereka bertiga yang sadar terlebih dahulu adalah Bulan, karena luka yang dialaminya tak separah yang lainnya.


" Astaghfirullah, aku ada dimana ini. Kenapa kepalaku sakit sekali? Ya Allah, tadikan aku, mas Bintang dan Bulan kecelakaan. Sekarang bagaimana keadaan mereka? Dan kenapa tangan dan kakiku semuanya sakit dan perih seperti ini. " Batin Bulan.


Bu Juni tidak bisa hanya menunggu di luar saja, jadi dia memutuskan untuk masuk lagi ke ruang UGD tanpa sepengetahuan pak Jafar. Dan ketika dia melihat Bulan sudah sadar, diapun langsung menghampirinya.


" Sayang, kamu sudah sadar nak? " Bu Juni refleks memeluk Bulan, terang saja Bulan merasa sakit.


" Aw, iya bu. Alhamdulillah saya sudah sadar, bagaimana dengan mas Bintang dan Bulan? " Jawab Bulan.


" Ya Allah, maaf sayang enggak sengaja. Sakit ya? Sini biar mama tiupin. " Bu juni merasa bersalah kepada Bulan, dan refleks juga menyebut dirinya mama.


" Sudah bu, enggak apa-apa kok. " Bulan tersenyum kepada bu Juni.


" Bintang sama Bunga masih belum sadar sayang, itu mereka. " Jawab bu Juni sambil menunjuk ke sebelah tempat tidur Bulan.


" Astaghfirullah. Bu, boleh saya lihat Bunga sama mas Bintang? " Bulan menoleh dan ingin turun dari ranjangnya.


" Jangan sayang, kamu sendiri saja sakit begini. Kamu kan bisa lihat dari sini saja. " Bu Juni tak mengizinkan calon mantunya kemana-mana, karena kondisinya sendiri saja sedang tidak baik.


" Tapi bu.... " Ucapan Bulan terpotong karena bu Juni meleyakkan telunjuknya ke mulut Bulan, tanda tak boleh protes.


" Ssst, jangan ngebantah sayang. Mama cuma tidak mau, kalau keadaan kamu akan memburuk nantinya. " Bu Juni tampak cemas sekali.

__ADS_1


" Baik lah bu. " Bulan masih belum sadar dengan perkataan bu Juni yang menyebut dirinya mama.


Pak Jafar yang menyadari bahwa istrinya tidak ada di ruang tunggu pun mencarinya, dan dia berinisiatif untuk melihat ke UGD. Dan ternyata memang ada istrinya di sana.


" Ma, kamu disini. Bikin papa khawatir saja, kirain dimana? Eh nak Bulan sudah sadar ya, gimana perasaan kamu sekarang nak? Ada yang sakit? " Pak Jafar mengomel sekaligus senang, karena Bulan sudah sadar.


" Maaf pa, mama cuma tidak tenang saja menunggu di luar. Jadi mama putuskan untuk masuk kesini lagi, dan ternyata nak Bulan sudah sadar. " Jelas bu Juni.


" Iya papa maafin, Bulan gimana? Kenapa diam saja?. " Ucap pak Jafar.


" Alhamdulillah, saya merasa baik pak. Jadi tidak perlu khawatir, justru saya khawatir sama Bunga dan mas Bintang. Kenapa mereka belum sadar juga. " Tampak kecemasan di wajah Bulan.


" Kamu tenang dan berdoa saja nak, semoga mereka segera sadar. Dan kalian semua juga segera sembuh. " Pak Jafar mencoba menasehati.


" Aamiin, semoga saja ya pak. " Bulan mengaminkan.


" Sayang, sebaiknya kamu istirahat saja. Kalau kamu banyak bergerak dan bicara, takutnya nanti akan semakin buruk kondisinya. " Bu Juni tampak sayang dan khawatir dengan kondisi calon mantu.


" Iya nak Bulan, betul kata istri saya. Sebaiknya nak Bulan istirahat saja, dan kamu jangan khawatir dengan bapak dan ibu kamu. Mereka sedang dalam perjalanan kesini bersama mang Ujang, kamu tenang ya. " Ucap pak Jafar lembut.


" Sssst, kamu jangan ngomong giti sayang. Mama sama sekali tidak merasa di repotkan oleh siapa pun, apalagi kamu. " Bu Juni menghibur Bulan.


Pak Soleh dan bu Nisa akhirnya sampai ke Rumah Sakit juga, dan mereka berdua bertemu dengan pak Jafar dan bu Juni saat mereka baru keluar dari ruang UGD.


" Jun, bagaimana keadaan anak-anak? " Bu Nisa langsung memeluk bu Juni, dan mulai menangis.


" Kamu yang tenang ya, mudah-mudahan mereka akan baik-baik saja. Sebaiknya kita tunggu mereka di pindahkan ke ruang rawat dulu. " Jelas bu Juni.


" Tapi, aku pengen melihat Bulan Jun. Dan aku juga pengen lihat Bintang dan nak Bunga. " Bu Nisa tampak cemas.


" Iya, aku ngerti. Tapi, biarkan Bulan istirahat dulu. Nanti kita lihat sama-sama ya, aku juga pengen ngejagain mereka. Tapi kan ini ruang UGD, jadi kita tidak bisa leluasa untuk menunggu mereka. " Bu Juni berusaha menguatkan bu Nisa.


Dan mereka berempat pun menunggu di luar UGD, sembari menunggu ruangan yang di pesan pak Jafar tadi selesai.

__ADS_1


Tak berselang lama, ada beberapa perawat masuk ke ruang UGD untuk memindahkan pasien ke ruang rawat inap. Dan mereka juga memindahkan Bintang, Bulan dan juga Bunga. Sedangkan para orang tua mengikuti dari belakang.


Karena untuk memudahkan pak Jafar dan bu Juni menjaga putra puttinya, Bintang dan Bunga di jadikan satu ruangan. Sedangkan Bulan di ruangan sebelah.


......................


Satu jam kemudian, Bintang perlahan membuka matanya.


" Aku dimana ini? " Itulah pikiran pertama Bintang.


" Bintang, kamu sudah sadar? " Pak Jafar yang menyadari Bintang sadarpun mendekat, sedangkan bu Juni mememani putrinya yang masih belum sadar juga.


" Pa, Bintang di Rumah Sakit ya? " Bintang masih setengah sadar.


" Iya nak, kamu di Rumah Sakit. Kenapa? Apa ada yang sakit? Kalau iya, papa panggilkan dokter ya. " Pak Jafar khawatir, bu Juni yang mendengar Bintang sadar langsung mendekat dan memeluk putranya.


" Bintang, kamu akhirnya bangun juga. Alhamdulillah. " Tangis bu Juni.


" Ma, Bintang enggak kenapa-kenapa kok. Maaf, Bintang membuat mama sama papa khawatir. " Bintang berusaha membalas pelukan mamanya.


" Ma, sudah peluknya. Badan Bintang pasti sakit semua itu. " Pak Jafar mengingatkan istrinya.


" Astaghfirullah, bagaimana keadaan Bulan dan Bunga ma, pa? Aku mau lihat mereka. " Bintang teringat akan adik dan pujaan hatinya.


" Kamu tenang dulu Bintang, Bunga ada di samping kamu tu. Dia masih tidur, kalau nak Bulan ada di ruangan sebelah sama orang tuanya. " Jelas pak Jafar.


" Gimana keadaan Bunga pa, ma? " Tampak Bintang ingin berusaha turun dari ranjang.


" Keadaan adikmu kakinya mengalami patah tulang, tapi kamu tenang saja. Papa akan berusaha sekuat tenaga, agar adik kamu bisa segera di operasi dan bisa pulih lagi. " Ucap papanya.


" Bunga, maafin kakak ya. Kamu jadi begini gara-gara kakak enggak hati-hati bawa mobilnya. " Bintang memegang tangan adiknya yang masih belum sadar juga.


" Sudahlah Bintang, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Ini semua sudah takdir, kita tidak bisa untuk menolaknya. " Nasehat papanya, sedangkan bu Juni hanya memeluk putranya agar tenang. Meski dia sendiri juga rapuh.

__ADS_1


" Terus gimana dengan keadaan Bulan? Bintang mau melihatnya,......


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.


__ADS_2