Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Merasa Lega


__ADS_3

" Maafkan kami pak, bu, kami sudah menyinggung bapak sama ibu sekeluarga. Tapi, saya mohon izin berbicara sedikit di sini. Apa boleh? " Bulan memecah keheningan yang terjadi.


" Silahkan nak Bulan. " Jawab pak Iman.


" Kami tahu, bapak sama ibu pasti tidak akan meminta kembali barang yang sudah di berikan kepada kami. Akan tetapi, saya merasa bahwa barang-barang itu harus saya kembalikan. Karena, saya dan almarhum belum ada ikatan yang sah dalam pernikahan. Jadi, kami berfikir lebih baik mengembalikannya kepada keluarga almarhum. " Jelas Bulan.


" Tapi kami sudah ikhlas sayang. " Bu Della menimpali.


" Walau saya tahu, dalam agama tidak ada yang namanya pengembalian seserahan. Tapi, saya punya alasan tersendiri. Jika kami terus menyimpan barang-barang pemberian bapak sama ibu, terutama saya. Takutnya nanti, saya akan terus mengingat seseorang yang belum menjadi mahram saya. Dan nantinya akan menjadi dosa, karena saya terus mengingat orang yang belum sah menjadi suami saya. Mohon pengertiannya. " Bulan memohon pengertian dari orang tua Adnan, dan matanya terlihat berkaca-kaca karena harus mengatakan itu semua. Sedangkan bu Nisa memeluk putri tercintanya tersebut, dia juga merasa sedih.


Pak Iman dan bu Della tampak berfikir mencerna ucapan Bulan, mungkin mereka berfikir kalau omongan Bulan ada benarnya juga.


" Nak Bulan, maafkan kami karena berfikir yang buruk terhadap kalian. Apa yang kamu omongin ada benarnya, karena kamu takut dosa mengingat orang yang belum mahram kamu. " Pak Iman mencoba menerima alasan Bulan.


Sedangkan bu Della, tidak banyak bicara. Dia langsung memeluk calon mantu yang tak jadi, dia juga tampak sedih karena mengingat Adnan.


" Maafkan ibu nak, karena tidak mengerti dengan maksud kamu tadi. " Bu Della berbicara lirih kepada Bulan.


" Ibu tidak salah apa-apa, justru Bulan yang minta maaf. Karena kami tidak ada pembicaraan sebelumnya, dan tiba-tiba datang membawa kesedihan seperti ini. Dan Bulan juga mau minta maaf, karena sudah mengingatkan kembali tentang mas Adnan. " Bulan membalas pelukan bu Della.


Akhirnya pertemuan mereka siang ini berakhir dengan pengertian satu sama lain, dan sudah tidak ada kesalahpahaman yang berlanjut.


" Jawaban Bulan diatas hanya pemikiran dari penulis saja, tidak bermaksud mempermainkan hukum. Karena ada beberapa dalil-dalil yang menyebutkan, bahwa sesuatu yang sudah di berikan sebagai hadiah itu tidak perlu diminta kembali ataupun tak perlu di kembalikan. "


" Ulama Mazhab Hanafi mengatakan bahwa hadiah saat lamaran adalah hibah. Pihak yang memberikan hibah berhak menarik kembali barang hibahnya kecuali bila terdapat uzur yang menghalangi penarikan hibah kembali, yaitu kerusakan barang hibah atau habisnya barang hibah karena telah digunakan. Kalau barang hibah yang diberikan pihak pelamar masih ada, maka ia berhak memintanya kembali. Jika barang hibah itu sudah rusak, sudah habis dipakai, atau terjadi perubahan padanya, yaitu cincin hilang, makanan telah dimakan, kain sudah bentuk menjadi pakaian oleh pedagang kain, maka pihak pelamar tidak berhak meminta kembali dalam bentuk kompensasi,” 

__ADS_1


Ulama mazhab maliki memandang persoalan penarikan kembali barang seserahan atau antaran pihak laki-laki dari siapa yang menginisiasi pembatalan perkawinan. Bila inisiatif pembataan perkawinan datang dari pihak perempuan, maka pihak laki-laki berhak mengambil kembali barang seserahannya. Tetapi jika inisiatif itu datang dari pihak laki-laki sendiri, maka pihak laki-laki tidak berhak menariknya meskipun barang seserahan itu masih utuh.


Sementara Ulama Mazhab Syafi’i dan Hanbali menetapkan bahwa orang yang menghibahkan sesuatu kepada orang lain tidak berhak menariknya kembali kecuali orang yang menghibahkannya itu adalah ayahnya sendiri terhadap anaknya. 


" Semoga setelah ini, kita akan tetap menjalin silaturrahmi. Walau kita tak jadi keluarga. " Pak Iman berharap akan tetap terus terjalin silaturrahmi yang baik.


Mereka semua mengaminkan ucapan pak Iman.


" Kalau begitu, kami permisi dulu. Karena hari sudah semakin siang juga. " Pak Soleh mewakili keluarga untuk pamit.


" Kok buru-buru sekali, kita belum makan siang bareng. " Sahut bu Della.


" Tidak usah repot-repot Dell, kita juga masih kenyang. Sebelum kesini tadi kami sudah makan, dan disini kita sudah minum serta makan kue. " Balas bu Nisa, karena dia tahu kalau bu Della pasti tidak masak banyak. Karena mereka datang secara dadakan.


" Aduh, jadi tak enak ini. Jauh-jauh kesini di anggurin. " Pak Iman merasa tak enak terhadap tamunya.


" Lain kali kalau mau kesini kabarin dulu ya, jadi kita bisa makan-makan besar bersama. " Ucap pak Iman.


" Siap bosss, gampang lah itu. " Pak Soleh mengacungkan jempolnya, sambil tertawa.


Selama orang tua pada ngobrol, Bulan sudah memesan taksi untuk mereka pulang. Jadi, nanti tidak akan menunggu lama.


" Ya sudah kalau begitu, kami pamit pulang ya. " Pak Soleh berdiri dan menjabat tangan pak Iman, untuk berpamitan.


Begitu juga dengan bu Nisa, dia berdiri dan menghampiri bu Della untuk bersalaman seraya berpelukan. Bulan dan Langit tak ketinggalan juga untuk menyalami pak Iman dan bu Della.

__ADS_1


" Bu, Bulan pulang dulu ya. Kapan-kapan Insya Allah kita bertemu lagi. " Bulan menyalamai bu Della, dan di respon dengan pelukan oleh bu Della.


" Iya nak, hati-hati di jalan ya. Ibu doakan, semoga kamu segera mendapat pengganti Adnan. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. " Bu Della terus mendoakan yang terbaik untuk Bulan.


" Iya bu, terima kasih doanya. Kalau begitu, Bulan pamit ya. " Bulan melepaskan pelukannya.


" Kalian pulang naik apa? Mau kami antar? " Pak Iman menawarkan diri untuk mengantar pulang.


" Tidak perlu pak, terima kasih tawarannya. Kami sudah memesan taksi. Dan taksinya juga sudah menunggu di depan. " Jawab Bulan.


" Assalamu'alaikum " Pak Soleh mewakili keluarga untuk mengucapkan salam.


" Wa'alaikumussalam. " Jawab pak Iman dan bu Della bersamaan, mereka berdua mengantar tamunya sampai keluar rumah.


Benar saja, taksi yang Bulan pesan sudah sampai di depan rumah pak Iman.


Bulan dan keluarga langsung memasuki taksi tersebut, dan tak lupa mereka melambaikan tangan kepada pak Iman dan bu Della.


" Gimana nduk, kamu lega sekarang? " Pak Soleh memecah keheningan di mobil.


" Alhamdulillah pak, Bulan merasa terbebas dan lega saja. " Jawab Bulan.


" Maksudnya bebas? " Sahut bu Nisa.


" Maksud Bulan, Bulan merasa sudah tidak terbebani dengan barang dari almarhum bu. Jadi, Bulan sekarang merasalega saja. " Jelas Bulan.

__ADS_1


Mereka bertiga hanya menganggukkan kepala tanda mengerti maksud Bulan.


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.


__ADS_2