Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Pengertian


__ADS_3

" Bintang, kamu mau kemana dengan keadaan yang seperti ini? " Tanya bu Juni.


" Bintang mau melihat kondisi Bulan ma, boleh ya pliiiis. " Bintang memohon kepada orang tuanya.


" Kalau kamu beneran mau kesana, biar papa antar menggunakan kursi roda. Mama tolong jagain Bunga sebentar ya. " Pak Jafar memberi solusi.


" Iya pa, biar mama yang nungguin Bunga. Papa antar Bintang saja kesana. " Mamanya menyetujui saran pak Jafar.


Akhirnya Bintang diantar ke ruangan Bulan oleh papanya.


" Assalamu'alaikum,..." Salam pak Jafar sambil membuka pintu.


" Wa'alaikumussalam, masuk-masuk. " Pak Soleh menyambut kedatangan mereka.


" Nak Bintang ngapain kesini? Kan kamu masih seperti ini kondisinya. " Bu Nisa menghampiri Bintang.


" Saya ingin melihat kondisi ustadzah, dan saya juga mau minta maaf. " Ucap Bintang lirih.


" Mas Bintang tidak perlu minta maaf, karena ini semua bukan salah siapa-siapa. Ini semua sudah takdir dari Allah, kita harus bersyukur mas. Karena kita semua masih selamat, dan ini semua juga karena usaha mas Bintang. " Bulan yang menjawab ucapan Bintang.


" Tapi, saya benar-benar minta maaf ustadzah. Karena saya, ustadzah jadi seperti ini. " Bintang masih merasa bersalah.


" Nak Bintang, sudahlah. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, benar apa kata Bulan. Ini semua sudah takdir, jadi nak Bintang tidak perlu meminta maaf lagi kepada siapapun. " Ucap pak Soleh sambil menepuk- nepuk pundak Bintang.


" Oh ya pak Jafar, apa boleh kami melihat kondisi nak Bunga? " Pak Soleh meminta izin kepada pak Jafar.


" Tentu saja boleh pak, mari saya antar. Tapi, Bintang saya tinggal disini tidak apa-apa untuk menemani nak Bulan sebentar? " Ucap pak Jafar.


" Tentu saja pak, mereka juga sama-sama sudah dewasa. " Sahut pak Soleh, dan bu Nisa hanya mengangguk saja pertanda menyetujui.


( Sungguh para orang tua yang pengertian 😁 )

__ADS_1


" Bintang, Bulan, kami permisi ke ruangan Bunga dulu ya? " Pamit pak Jafar.


Bintang dan Bulan hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.


Setelah para orang tua keluar, Bintang mulai mendekat ke tempat tidur Bulan.


" Sayang, mas benar-benar minta maaf. Mas sudah membuat adinda dan Bunga seperti ini. " Ucap Bintang dengan mata yang berkaca-kaca.


" Mas, kan sudah saya bilang tadi. Mas tidak perlu minta maaf dan merasa bersalah, ini semua sudah takdir. Mana mas Bintang yang saya kenal, kenapa sekarang jadi melow begini. " Bulan berusaha membuat Bintang terpancing.


" Bagaimana mungkin mas bisa seperti biasanya, kalau mas harus melihat adinda terbaring di Rumah Sakit lagi. Mas sakit rasanya, bahkan lebih sakit dari luka yang ada ini. Sayang, mas janji. Mas akan segera melamarmu secara resmi, kamu harus setuju ya. " Bintang mulai bisa tenang.


" Mas, sebaiknya kamu tidak memikirkan itu dulu. Yang paling penting itu, kita sembuh dulu. Lihat kondisi kamu sekarang, luka dimana-mana. Perban dimana-mana, bahkan jahitan juga banyak. " Sahut Bulan.


" Sayang, apakah kamu tidak mau menikah dengan mas? " Tanya Bintang.


" Apa maksud kamu mas? " Bulan bingung.


" Kenapa kamu melarang mas untuk tidak memikirkan itu, apa kamu sudah ada laki-laki lain? " Bintang metasa sedih.


" Sayang, apakah kamu masih ragu dengan perasaan mas? " Tanya Bintang serius.


" Mas, maafkan saya. Mas, bagaimana dengan kondisi Bunga? Dia belum sadar juga ya? " Bulan berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Kamu tidak ada salah apa-apa sayang, jadi jangan meminta maaf. Sampai mas kesini tadi, Bunga masih belum sadar. Enggak tahulah sekarang, mas kasihan dengan dia. Karena mas, dia harus mengalami patah tulang. " Bintang kembali bersedih.


" Mas, kamu jangan seperti ini. Saya yakin, Bunga tidak akan menyalahkan mas. Mas Bintang sudah berusaha menyelamatkan kita semua, coba mas Bintang tadi pasrah. Entah apa yang terjadi dengan kita sekarang ini, ma-maaf mas. " Bulan tanpa sadar menyentuh lengan Bintang, meski tidak terkena kulit secara langsung. Jadi, setelah sadar Bulan langsung gugup.


" Kamu semakin cantik sekali, kalau sedang gugup seperti ini sayang. " Bintang malah senyum -senyum dengan tingkah Bulan, bahkan dia berani menggodanya. Terang saja, wajah Bulan bersemu merah.


Sedangkan di ruangan Bintang dan Bunga, para orang tua sedang mengobrol. Bunga pun sudah sadar, dan dengan nasehat para orang tua dia pun bisa menerima keadaannya sekarang. Karena mereka semua yakin, kalau kondisi Bunga itu hanya sementara. Dan tidak lama lagi akan segera pulih.

__ADS_1


" Pak Soleh, bu Nisa. Saya selaku orang tua Bintang juga mau minta maaf, karena anak kami. Nak Bulan harus masuk Rumah Sakit lagi. " Pak Jafar merasa tidak enak bati.


" Sudah lah pak, tidak perlu meminta maaf terus. Kan tadi Bulan juga sudah menerangkan, kalau ini sudah takdir. Jadi, kita jalani saja. Bukannya begitu bu. " Jawab pak Soleh dan meminta persetujuan istrinya.


" Benar kata suami saya pak, kami atau pun Bulan tidak menganggap ini salah Bintang atau salah siapa. Yang terpenting, sekarang mereka semua selamat. " Sahut bu Nisa.


" Oh ya Nis, sebenarnya kami hari ini itu mau ke rumah kalian loh. " Ucap bu Juni.


" Ke rumah? Ada apa? " Bu Nisa bingung.


" Tapi, rasanya tidak pantas saja kalau kita bicarakan disini. " Sahut bu Juni.


" Kenapa mesti tidak pastas, disini juga hanya ada kita-kita saja. Kita bicarakan disini juga boleh. " Sahut pak Soleh.


" Bener itu Jun, ngomong saja. " Jawab bu Nisa antusias.


" Begini semuanya, sebenarnya ini masalah Bintang dan nak Bulan. " Pak Jafar ikut bicara.


" Memangnya kenapa dengan mereka berdua pak? " Kaget pak Soleh.


" Pasti pak Soleh dan bu Nisa sudah tahu kan, masalah Bintang yang mau serius dengan nak Bulan. " Sahut pak Jafar.


" Oh soal itu, iya kami sudah tahu. Bahkan, nak Bintang juga sudah meminta izin kami dulu sebelum mendekati Bulan. Dan beberapa waktu lalu juga Bulan ada ngomong, kalau nak Bintang mau melamar. Jadi, kami tinggal menunggu saja kedatangannya. " Jawab pak Soleh santai.


Sedangkan Bunga yang sedang bermain ponselnya langsung berhenti, karena dia mendengar obrolan para orang tuanya.


" Beneran nih apa yang aku denger? Mas Bintang mau melamar ustadzah? Ini berita yang menggembirakan sekali. Ustadzah bakal jadi kakak iparku beneran, seneng banget deh. Rasa sakit saat ini hilang seketika rasanya. " Batin Bunga sambil senyum-senyum sendiri.


" Maka dari itu pak Soleh, kami rencananya mau ke rumah itu mau menanyakan tentang hal ini. Kira-kira kapan kami bisa ke sana? Dan apa-apa saja yang harus kami persiapkan. " Sahut bu Juni semangat.


" Sebenarnya, semakin cepat itu semakin baik. Tapi, karena kita saat ini sedang dapat musibah. Jadi, kita lihat kondisi mereka masing-masing saja. Dan lagi, kita harus menunggu nak Bunga operasi dulukan. " Jawab pak Soleh dengan bijak.

__ADS_1


Sedang asik mereka mengobrol, tiba-tiba pintu ruangan ada yang mengetuk. Dan langsung ada yang membuka, ternyata yang datang......


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.


__ADS_2