Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Akhirnya


__ADS_3

" Pak cepat panggil Dokter, cepat pak, cepat. " Perintah bu Della dalam keadaan panik kepada suaminya, dan pak Iman langsung pergi tanpa sepatah kata.


Bu Della semakin panik dan terus menangis, karena keadaan putranya terlihat semalin buruk.


Tak butuh waktu lama, pak Iman sudah datang bersama Dokter dan para suster.


" Bapak dan ibu sebaiknya menunggu di luar saja, kami akan menangani pasien. " Perintah Dokter tersebut, pak Iman dan bu Della hanya mengikuti kata-kata Dokter itu.


Setelah sampai di luar ruangan, pak Iman langsung menghubungi anak kembarnya. Sedangkan bu Della terus menangis sambil memeluk pak Iman.


" Pak, anak kita pak. Kenapa dengan Adnan pak? Ibu khawatir sekali. " Bu Della histeris sendiri, karena pak Iman hanya diam saja. Tentu pak Iman sedih, akan tetapi dia tidak mau menunjukkannya. Karena, kalau dia sendiri terpuruk bagaimana nanti dengan istrinya. Itu lah yang ada dalam benak pak Iman.


Dokter dan para suster yang ada di dalam ruangan Adnan, terus memeriksa keadaan Adnan. Mereka terlihat serius sekali, entah lah apa yang terjadi sebenarnya?


" Sus, tolong catat semua hasil pemeriksaan nya. Saya akan keluar terlebih dahulu untuk menemui keluarga pasien. " Titah Dokter tersebut kepada para suster.


" Baik Dok " Jawab suster tersebut.


Dokter pun keluar dari ruangan Adnan dan langsung menghampiri keluarganya Adnan.


" Selamat pagi semua " Sapa Dokter tersebut.


" Pagi Dok, bagaimana keadaan anak kami? " Pak Iman yang menjawab sapaan Dokter tersebut.


" Begini pak, sepertinya pasien sudah tidak ada harapan lagi. Bapak dan semua tahu kan, pasien bisa bertahan sampai saat ini karena alat bantu. Jadi, saya mohon maaf semuaya. Karena pasien sudah tidak ada lagi beberapa menit yang lalu. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi, Allah berkehendak lain. Mungkin ini sudah jalan yang terbaik untuk pasien. " Dokter memaparkan dan menyampaikan keadaan Adnan dengan hati-hati, agar keluarga bisa menerimanya dengan ikhlas.


" Innalillahi wa inna ilaihi rāji'un. " Pak Iman langsung mengucapkan nya tanpa sadar.

__ADS_1


" Jadi maksud Dokter, anak kami meninggal gitu. " Teriak bu Della.


" Iya bu, itu lah kenyataan yang harus kita terima saat ini. " Jawab Dokter tersebut.


" Tidaaaak, tidak, tidak mungkin Dok. Saya mau melihat anak saya. " Ucap bu Della tak percaya, dan langsung menerobos masuk ke ruang Adnan di rawat. Dan di susul oleh Gani dan Gina.


Sedangkan pak Iman hanya bisa terus beristighfar, sambil mengikuti istri dan anak-anaknya. Dan mencoba menguatkan mereka semua.


Sesampainya mereka di dalam, para suster sudah selesai melepas alat bantu yang di pakai Adnan selama ini. Dan tubuh Adnan sudah dingin dan pucat sekali. Setelah itu, para suster langsung permisi keluar. Bu Della langsung mengangkat tubuh anaknya untuk di peluk, dan memanggil namanya.


" Adnan, bangun nak. Ibu ada di sini, ibu mohon jangan tinggalin ibu. Adnaaaan. " Bu Della terus menangis dan histeris sambil menggoncang tubuh anaknya yang sudah dingin tersebut.


Melihat adegan itu, Pak Iman langsung merengkuh istrinya kedalam pelukannya. Gani dan Gina juga ikut memeluknya.


" Bu, kita harus ikhlas. Kalian berdua juga harus ikhlas nak, benar kata Dokter tadi. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk Adnan, jadi dia tidak merasakan sakit lagi. Kita harus ikhlas dan mendoakan agar dia tenang disana. " Pak Iman memberi nasehat untuk semua.


Bu Della masih teeus menangis, meski tak sehisteris tadi. Karena dia sadar dari awal, bahwa kondisi Adnan sungguh memprihatinkan. Tapi, dia masih tidak rela putra pertamanya harus pergi begitu cepat. Dia berusaha ikhlas walau masih berat.


" Assalamu'alaikum, ada apa Man? dan bagaimana keadaan Adnan? " Tanpa basa basi Pak Soleh langsung menanyakan kabar Adnan.


" Wa'alaikumussalam, begini Leh. Aku ingin memberikan kabar, bahwa Adnan sudah di panggil sama Allah. Dan sekarang kami sedang bersiap-siap untuk pulang membawa jenazahnya Adnan. " Jawab pak Iman dengan suara sedikit berat.


" Innalillahi wa inna ilaihi rāji'un, yang sabar ya Man. Aku akan segera memberikan kabar ini kepada anak dan istriku. Dan kami akan segera kesana. " Sahut pak Soleh dengan nada yang lirih juga


" Ya sudah kalau begitu Leh, aku tutup dulu ya. Assalamu'alaikum. " Setelah mengucapkan salam, pak Iman langsung menutup teleponnya.


" Wa'alaikumussalam " Jawab pak Soleh, meski teleponnya sudah di tutup.

__ADS_1


Bu Nisa yang baru keluar dari dapur melihat pak Soleh terlihat sedih setelah menerima telepon pun menghampirinya.


" Pak, ada apa? " Bu Nisa bertanya sambil memegang pundak pak Soleh, dan pak Soleh sedikit kaget.


" Ada kabar duka buk, nak Adnan sudah tidak ada lagi. " Jawab pak Soleh dengan lirih.


" Innalillahi wa inna ilaihi rāji'un, siapa yang menelepon bapak tadi? " Bu Nisa sedikit syok.


" si Iman yang telepon. Oh ya, dimana Bulan dan Langit? " Pak Soleh menanyakan keberadaan anak-anaknya.


" Mereka sedang di belakang olahraga pak. " Sahut bu Nisa.


" Ya sudah, kalau gitu kita samperin mereka. Dan kita kasih tahu kabar ini, supaya kita bisa segera datang ke rumah Iman. " Pak Soleh mengajak istrinya untuk bertemu Bulan dan Langit.


Baru saja mereka berdiri dari duduknya, Bulan dan Langit sudah menemui merka duluan.


" Pak, bu, kenapa kelihatannya cemas sekali? " Bulan langsung menyadari kecemasan orang tuanya. Dan langsung menanyakan nya.


" Sini duduk dulu kalian, Bulan, Langit. Ada kabar duka, nak Adnan sudah tidak ada lagi. " Pak Soleh mengatakannya dengan lirih.


Deg, deg, deg, jantung Bulan langsung berdetak dengan kencang sekali rasanya. Dia tak tahu harus bereaksi apa, yang bisa dia lakukan hanya beristighfar dan mengucapkan kalimat istirja' saja. Dan tanpa terasa air matanya mengalir dengan sendirinya.


" Innalillahi wa inna ilaihi ràji'un. " Jawab Bulan dan Langit bersamaan.


" Pak, bu, ayo kita segera ke rumahnya mas Adnan. Bulan ingin melihatnya untuk yang terakhir kali. " Bulan langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Karena dia ingin segera bersiap untuk melayat, takutnya dia tidak bisa melihat Adnan untuk terakhir kalinya.


Pak Soleh dan bu Nisa serta Langit pun segera bersiap-siap juga untuk pergi.

__ADS_1


Setelah mereka semua siap, mereka langsung segera berangkat menggunakan taksi online. Karena sebelumnya Bulan sudah memesan taksi tersebut.


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.


__ADS_2