Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Pertanda Apakah Ini ?


__ADS_3

" Assalamu'alaikum Bunga, mas Bintang. Kalian sedang apa disini? " Bulan pun langsung menyapa mereka.


" Wa'alaikumussalam ustadzah, kami kesini ingin menjenguk saudara papa yang sedang sakit. " Jawab Bunga.


Bintang hanya ikut menjawab salam saja, dan dia juga hanya menyapa dengan senyuman saja. Karena Bunga sudah menjawab pertanyaan Bulan, jadi dia rasa tak perlu banyak bicara. Takutnya akan membuat Bulan tak nyaman, itu pikirnya.


" Bintang, Bunga, kenapa kalian berhenti disini? kenapa tidak langsung masuk? " Tiba-tiba bu Juni datang bersama pak Jafar menghampiri mereka.


" Ini ma, aku ketemu sama ustadzah Bulan. ustadzah, kenalkan ini mamaku dan papaku. Ma, pa, kenalkan juga ini ustadzahku. Namanya ustadzah Bulan. " Jawab Bunga sambil memperkenalkan satu sama lain.


" Assalamu'alaikum bu, pak, saya Bulan gurunya Bunga di sekolah. " Bulan memperkenalkan dirinya dan menyalami mereka.


" Wa'alaikumussalam, ustadzah. Kenalkan juga, saya Juni mamanya Bunga dan ini pak Jafar papanya Bunga." Bu Juni antusias memperkenalkan dirinya.


" Oh ya semuanya, perkenalkan ini bapak saya. " Bulan tak lupa memperkenalkan bapaknya kepada Bunga dan keluarganya.


" Assalamu'alaikum semuanya, perkenalkan saya Soleh bapaknya Bulan. " Sapa pak Soleh dengan ramah.


" Wa'alaikumussalam, salam kenal kembali pak. " Kini giliran pak Jafar yang bersuara.


Sedangkan Bintang dari tadi hanya diam dan menyimak obrolan mereka saja, dia mencuri-curi pandang untuk melihat Bulan.


" Bulan, sungguh kasihan sekali nasibmu. Semoga masalah kamu segera berakhir ya, andai saja aku bisa menghiburmu. Tapi itu tak mungkin. Karena aku sadar, kamu itu calon istri orang. Jadi, aku tak boleh berharap lebih dari kamu. " Bintang menatap Bulan sambil bergumam sendiri di dalam hati.


Setelah berkenalan dan basa-basi, mereka mohon diri. Karena mereka sama-sama ada keperluan lain, Jadi pertemuan hari ini hanya sekedar perkenalan saja. 😁


Bulan dan bapaknya pun lansung pulang ke rumahnya, sedangkan Bintang dan keluarga pun bergegas masuk ke Rumah Sakit.


" Bin, jadi itu yang namanya Bulan? Cantik ya? " Bu Juni memulai obrolan mereka sambil jalan menuju ruang rawat saudara pak Jafar.


" Iya dong ma cantik, ustadzahnya siapa dulu. " Sahut Bunga.


" Mama setuju loh Bin kalau kamu sama dia. " Sambung mamanya lagi.


" Ma, Bulan itu sekarang statusnya calon istri orang. Enggak baik gitu. " Bintang mulai menyambut kata-kata mamanya.

__ADS_1


" Iya juga ya, oh ya Bin. Bagaimana keadaan calon suaminya, kan kata kalian kemarin dia kecelakaan. " Sahut mamanya lagi.


" Aku juga kurang tahu ma, setahu aku sih masih belum sadar juga. " Jawab Bintang.


" Iya ma, calonnya ustadzah itu belum sadar juga. Bahkan yang aku tahu malah sedang koma, jadi aku kasihan banget sama ustadzah. Dia pasti sedih banget sekarang ini, walaupun kelihatannya ustadzah tegar. " Bunga ikut menimpali.


" Ya ampun, kasihan sekali kalau begitu ya ma. " Pak Jafar ikut bicara.


" Iya ya pa, semoga ada keajaiban lah buat calonnya Bulan. " Bu Juni pun turut mendoakan Adnan.


" Aamiin. " Mereka semua mengaminkan.


Karena keasikan mengobrol, tak terasa mereka sudah sampai ke tempat tujuannya.


# Kediaman Bulan


Sesampainya di rumah, Bulan dan pak Soleh langsung masuk ke rumah. Dan mereka di sambut oleh bu Nisa dan Langit. Sedangkan Alesa dan suami sudah kembali ke rumah mereka 3 minggu yang lalu, karena Boni hanya mendapat cuti 1 minggu saja. Jadi, mereka mau tidak mau harus kembali ke rumahnya. Walau sedikit berat meninggalkan Bulan dan orang tuanya yang sedang bersedih.


" Assalamu'alaikum. " Pak Soleh dan Bulan masuk rumah dengan mengucapkan salam secara bersamaan.


" Gimana keadaan Adnan pak, Bulan, sudah ada perubahan? " Bu Nisa menyambut mereka dengan sebuah pertanyaan.


" Kelihatannya semakin tidak baik bu, keadaan mas Adnan semakin kurus dan pucat sekali. " Bulan yang menjawab pertanyaan ibunya.


" Apa mbak? semakin buruk? yang sabar ya mbak. " Langit yang baru saja keluar dari kamar pun langsung ikut bicara.


" Iya dek. " Jawab Bulan singkat.


" Terus apa rencana kamu nduk? " Tanya bu Nisa lagi.


Bulan hanya menggelengkan kepalanya saja saat ini, karena dia juga tidak tahu harus ngomong apa.


" Sudahlah bu, jangan tanya Bulan yang macam-macam dulu. Kita doakan saja yang terbaik untuk Bulan bu. " Sahut pak Soleh.


" Maaf ya nduk, ibu hanya tidak tega saja melihat kamu saat ini. " Bu Nisa langsung memeluk Bulan.

__ADS_1


" Ibu tidak perlu meminta maaf sama Bulan, karena Bulan tidak pa-pa kok bu. Bulan hanya harus menjalani takdir yang sedang ada saat ini saja, Insya Allah Bulan ikhlas. " Bulan berusaha tegar di depan keluarganya.


" Nduk, sebaiknya kamu istirahat dulu sana. Kamu pasti capek kan? " Pak Soleh menyuruh putrinya istirahat.


" Nggih pak, kalau begitu Bulan ke kamar dulu ya. " Bulan pamit dan berlalu dengan senyuman yang terlihat sangat terpaksa.


Pagi ini cuaca sangat cerah sekali. Karena hari ini hari minggu, jadi waktunya Bintang untuk bersantai dan rehat dari tumpukan-tumpukan kertas yang biasa dia lakukan. Dia hari ini berencana ingin pergi jalan-jalan bersama adiknya, karena sudah lama sekali dia tidak pergi refresing pikirnya. Karena dia tidak punya pasangan alias jomblo 😁, jadi dia pergi dengan adiknya saja.


" Kak, jadikan kita hari ini jalan-jalannya? " Bunga yang baru keluar kamar langsung menyamperin kakaknya yang sudah lebih dulu berada di meja makan.


" Iya " Bintang hanya menjawab dengan singkat sekali.


" Asiiik, sekalian belanja ya kak? " Bunga berharap bisa belanja-belanja.


" Terserah kamu lah, asal kamu punya uang. " Goda Bintang.


" Kakak enggak asik ah, nyebelin. Ma, lihat kakak jahat banget " Bibir Bunga langsung monyong, karena kesal dengan kakaknya. Dan mengadu pada mamanya yang ada di sana.


Sedangkan Bintang hanya senyum-senyum melihat ekspresi adiknya itu.


" Bunga, kamu kenapa kok manyun gitu? " Pak Jafar yang baru datang dan menyadari kalau putrinya lagi bete langsung bertanya.


" Biasalah lah pa, lagi ngambek sama kakaknya. " Sahut bu Juni.


Suasana sarapan pagi itu pun terasa sangat hangat sekali.


Sedangkan keadaan di Rumah Sakit, lebih tepatnya di ruang rawat Adnan masih sama saja. Hanya ada orang tuanya dan saudara kembarnya saja yang bergantian menunggunya. Hari ini adalah tepat 2 bulan Adnan koma, mereka semua semakin pesimis dengan kesembuhan Adnan.


Apalagi pagi ini alat yang menunjukkan keadaan Adnan tiba-tiba saja berbunyi, entah itu menunjukkan kabar baik entah kabar buruk. Sehingga pak Iman dan bu Della yang menunggu Adnan jadi panik, dan segera memanggil Dokter yang sedang bertugas.


Bersambung......


Apa yang terjadi dengan Adnan?


Apakah dia akan segera sadar? Atau bahkan mungkin lebih buruk lagi.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.


__ADS_2