
Sesampainya di rumah, Bintang dan Bulan turun dari mobil dan menuju pintu masuk.
" Assalamu'alaikum . " Salam mereka berdua.
" Wa'alaikumussalam, masuk. Sudah pulang kalian? " Pak Soleh yang membuka pintu dan langsung bertanya.
" Iya pak, maaf kalau saya bawa ustadzahnya lama. " Bintang mencium tangan pak Soleh dan meminta maaf, Bulan juga mencium tangan bapaknya.
" Pak, mas, saya masuk dulu ya. " Pamit Bulan.
" Iya " Jawab pak Soleh dan Bintang kompak.
Bulan masuk ke kamarnya dulu, untuk meletakkan tasnya. Dan setelah itu, dia keluar lagi menuju dapur. Niatnya ingin membuatkan minuman, tapi didapur sudah ada ibunya yang sedang membuat minuman.
" Bu, sedang apa? " Sapa Bulan.
" Eh Bulan, ini ibu lagi buat minuman buat bapak sama nak Bintang. Kamu mau ngapain ke dapur? " Jawab ibunya.
" Sama bu, niatnya mau buat minuman juga. Ya sudah kalau gitu, biar Bulan yang bawakan ke depan. Ibu duluan saja. " Bulan menawarkan diri.
" Baiklah, sekalian bawain cemilan yang ada di toples itu ya? Ibu ke depan duluan. " Titah ibunya.
" Nggeh bu. " Bulan langsung mengerjakan titah ibunya.
Sedangkan pak Soleh dan Bintang sedang asik mengobrol di ruang tamu.
" Gimana nak Bintang? Sudah ngomong sama Bulan? " Selidik pak Soleh.
" Sudah pak, tapi anak bapak masih malu. Heheheh. " Jawab Bintang tersenyum.
" Sabar ya, mungkin dia butuh waktu. Nanti pasti dia akan nanya bapak sama ibu. " Jelas pak Soleh.
" Iya pak, saya akan sabar. Yang penting saya sudah jujur sama anak bapak. " Bintang menjawab dengan santai.
" Lagi pada ngomongin apa ini? " Tiba-tiba bu Nisa muncul.
" Bu. " Bintang berdiri dan menyalami bu Nisa.
" Ada deh, iya kan nak Bintang. " Pak Soleh main rahasia-rahasiaan sama bu Nisa.
" Pak, mas, diminum dulu airnya." Bulan muncul dari dapur, dan langsung menawarkan minuman yang di bawa.
" Iya ustadzah, terima kasih. " Jawab Bintang.
" Kalau gitu, saya pamit masuk ke kamar dulu ya. Dan mas Bintang, terima kasih sudah mengantar saya pulang. " Bulan berdiri dan pamit masuk kamar.
__ADS_1
" Iya sama-sama ustadzah. " Sahut Bintang.
Bulan masuk ke kamar, dia langsung bersih-bersih dan mandi. Karena dia merasa badannya sudah lengket sekali.
Sekitar 15 menitan, Bulan baru keluar dari kamar mandi. Dan baru saja dia ingin istorahat sebentar, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk oleh ibunya.
" Nduk, bisa keluar sebentar. Nak Bintang mau pamit pulang. " Suara bu Nisa memanggil Bulan.
" Nggeh bu sebentar. " Sahut Bulan dan bergegas keluar kamar.
Sesampainya di luar kamar, Bulan melihat Bintang sudah menyalami kedua orang tuanya.
" Mas Bintang sudah mau pulang? " Suara Bulan mengagetkan mereka.
" Iya ustadzah, ini sudah sore. Jadi saya pamit pulang dulu, mari ustadzah, pak, bu. Assalamu'alaikum. " Pamit Bintang.
" Wa'alaikumussalam. " Jawab mereka serentak.
Mereka bertiga mengantarkan Bintang sampai ke pintu luar, dan baru masuk setelah mobil Bintang benar-benar pergi.
Bulan sedang membereskan meja yang ada gelas dan tempat makanan yang dibawa keluar tadi.
" Nduk, sini biar ibu saja. " Bu Nisa yang melihatnya berusaha mengambil alih pekerjaan Bulan.
" Sudah bu biar Bulan saja, ibu lebih baik istirahat saja. Cuma sedikit ini. " Bulan menolak tawaran ibunya, dan segera membawa gelas dan yang lainnya ke dapur.
Bintang sampai rumah di sambut orang tua dan adiknya.
" Baru pulang Bin? " Sapa mamanya setelah Bintang masuk.
" Eh ada mama, iya baru pulang. " Sahut Bintang.
" Kok tumben jam segini baru pulang? Ada lembur? " Tanya papanya.
" Enggak kok pa, " Sahut Bintang dan mendekat ke arah orang tua dan adiknya duduk.
" Atau jangan-jangan, kakak nemuin ustadzah Bulan ya? " Tebak Bunga.
" Kamu memang pinter kalau di suruh tebak-tebakan Bunga. " Sahut Bintang lagi dan duduk bersama yang lainnya.
" Jadi bener Bin kamu nemuin Bulan. " Mamanya kepo.
" Iya ma, aku memang nemuin ustadzah Bulan. " Jawab Bintang.
" Terus, ada perkembangan apa? " Mamanya semakin kepo.
__ADS_1
" Mama apaan sih, perkembangan apanya? Nanti deh aku ceritain, sekarang aku mau ke kamar dan mandi dulu. Sudah enggak ini rasanya badan. " Bintang pamit dan langsung beranjak dari duduknya menuju tangga.
" Kakak buat kita kepo aja deh. " Teriak Bunga.
Bintang hanya mengangkat jari telunjuknya saja dan di letakkan di bibir, dia memberi isyarat jangan berisik. Bunga semakin kesal melihatnya.
" Sudahlah Bunga, kakak kamu pasti capek. Biarkan dia bersih-bersih dan istirahat dulu, nanti kalau sudah waktunya. Pasti dia cerita sama kita, iya kan ma. " Pak Jafar mencoba memberi pengertian kepada anak gadisnya.
" Iya Bunga, bener apa kata papamu. Meski mama juga kepo, tapi kita sabar aja. " Sahut mamanya.
Bunga pun pergi kekamarnya meninggalkan mama dan papanya disana.
Setelah melaksanakan ritual mandinya, Bintangpun merebahkan tubuhnya di kasur.
" Senang sekali rasanya aku sudah mengatakan perasaanku semuanya kepada kamu Bulan. Aku berharap, kamu bisa mempertimbangkan nya. Aku sungguh-sungguh ingin bisa bersamamu, kamu adalah perempuan yang sempurna menurutku. Bagaimana tidak, semenjak pertemuan pertama kita. Aku sudah terpikat padamu, dan tak ada wanita lain yang bisa mengalihkan pandanganku terhadapmu. " Batin Bintang sambil senyum-senyum.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, Bintang ingin menelepon Bulan. Rasanya dia rindu sekali, padahal tadi siang baru bertemu. Cukup lama sekali telepon Bintang baru di angkat oleh Bulan.
📞 " Assalamu'alaikum mas, maaf lama ngangkatnya. " Salam Bulan.
📞 " Wa'alaikumussalam, saya ganggu enggak? " Bintang basa basi.
📞 " Enggak kok mas, ada apa? " Sahut Bulan.
📞 " Enggak ada apa-apa, cuma pengen denger suara ustadzah. heheheh, jangan marah ya? " Goda Bintang.
📞 " Maaas, saya serius. " Bulan kesal.
📞 " Saya juga serius sayang, eh maksudnya ustadzah. Maaf keceplosan. " Bintang terus saja menggoda Bulan.
📞 " Mas, saya tutup saja ya teleponnya. " Bulan kesal, tapi dia juga deg-deg an.
📞 " Jangan dong pliiis, maaf ya. Ustadzah lagi apa? " Bintang takut kalau beneran di tutup teleponnya.
📞 " Mas, kenapa mas Bintang ingin menjadikan saya makmumnya ? " Bulan bukannya menjawab Bintang, akan tetapi dia malah memberi pertanyaan.
📞 " Karena saya ingin menyempurnakan iman saya bersama dengan wanita yang sempurna sepertimu wahai ustadzahku. " Bintang menjawab dengan nada yang bijak.
📞 " Ma-mas kenapa kamu berpikir kalau saya wanita yang sempurna? Padahal mas juga baru kenal saya. " Suara Bulan sedikit serak, karena matanya sudah berkaca-kaca karena mendengar jawaban Bintang.
📞 " Sudah lama kenal atau tidak, itu bukan jadi patokan seseorang untuk menilai orang lain. Karena setiap orang, pasti mempunyai penilaian masing-masing. Begitu juga dengan saya, saya menilai ustadzah adalah wanita yang sempurna. Apakah saya salah? " Bintang lagi-lagi menjawab dengan nada yang bijak.
📞 " Hiks, hiks,...." Bulan bukannya ngomong, malah ia menangis terisak-isak.
📞 " Ustadzah kenapa? Apa saya salah ngomong? Maaf, kalau saya membuat ustadzah menangis. " Bintang tampak khawatir dan menyesal karena mungkin omongannya ada yang salah.
__ADS_1
Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.