
" Jadi maksud nak Bintang, kami tidak perlu memberi tahu Bulan? " Bu Nisa mencari kepastian.
" Iya bu, yang penting saya sudah izin kepada bapak dan ibu. Apakah di izinkan? " Bintang bertanya dengan wajah yang terlihat berharap-harap cemas.
" Apa nak Bintang yakin ingin mendekati anak kami? " Pak Soleh memastikan lagi.
" Sangat yakin pak, karena menurut saya. Anak bapak dan ibu adalah wanita yang sempurna di jadikan pendamping hidup saya yang serba kekurangan ini. Tapi saya tidak akan terlalu memaksakan keinginan saya, lagi pula saya juga tidak tahu bagaimana perasaan anak bapak kepada saya. Tapi yang pasti, saya akan berusaha semampu saya untuk meluluhkan hati bapak dan ibu serta ustadzah Bulan. " Bintang menjelaskan dengan lantang tanpa keraguan.
Pak Soleh dan bu Nisa merasa sangat terharu dengan keberanian Bintang, dia lebih memilih untuk izin dulu kepada mereka sebelum kepada putrinya. ( Mereka tidak tahu saja kejadiannya 😁 ).
" Baiklah nak Bintang, kami selaku orang tuanya akan memberi izin kamu untuk mendekatinya. Tapi ingat, tidak ada kata pacar-pacaran. Jika kalian sudah cocok dan Bulan bersedia, maka alangkah baiknya di segerakan ke jenjang yang lebih serius. " Pesan pak Soleh serta memberi izin.
" Terima kasih banyak pak, bu. Saya janji, bahwa saya akan serius dan tidak main-main. Bapak dan ibu boleh pegang janji saya. " Bintang sangat bahagia mendapatkan lampu hijau dari camer, diapun mencium tangan orang tua Bulan tanda terima kasih.
" Sama-sama nak, ibu yakin kamu anak yang baik. Semangat ya. " Bu Nisa memberi semangat kepada Bintang.
Dokter keluar dari ruangan Bulan, dan mereka bertiga langsung menghampiri dokter tersebut.
" Bagaimana keadaan putri kami dok? " Pak Soleh mencari tahu.
" Alhamdulillah pak, keadaan pasien sekarang sudah membaik. Kita tinggal menunggu perkembangan untuk beberapa hari ke depan, serta pemulihan saja. Dan jika semua berjalan dengan lancar, maka pasien sudah boleh di bawa pulang. Bapak dan ibu sabar saja ya. " Jelas sang dokter.
" Alhamdulillah kalau begitu dok, kami akan menuruti saran dokter. Yang terpenting, putri kami segera sembuh dan bisa kembali pulang ke rumah. " Bahagia bu Nisa.
" Iya bu. Kalau begitu, saya tinggal dulu semuanya. " Pamit dokter, dan berlalu pergi.
" Baik dokter, terima kasih. " Bintang yang menjawab ucapan dokter tersebut.
" Nah nak Bintang, kalau begitu mari kita masuk dulu. " Ajak pak Soleh.
" Maaf pak, untuk sekarang saya tidak bisa menemui ustadzah Bulan dulu. Karena saya juga harus segera ke kantor, dan saya mohon. Jangan katakan kepada ustadzah Bulan, kalau saya dari sini. Oh ya pak, boleh saya minta nomor HP nya. Nanti kalau ada apa-apa kan gampang hubunginnya. " Jelas Bintang.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu nak, terserah kamu saja. Ini nomor bapak. " Pak Soleh memperlihatkan nomor Handphone nya.
" Kalau begitu, saya pamit dulu ya pak, bu. Dan terima kasih atas izinnya, Assalamu'alaikum. " Bintang pamit dan mencium tangan kedua orang tua Bulan.
" Wa'alaikumussalam, iya nak hati-hati . " Jawab pak Soleh dan bu Nisa bersamaan.
Setelah Bintang pergi, pak Soleh dan bu Nisa masuk ke ruangan Bulan.
" Kok lama sekali pak, bu? Emang dari mana? " Bulan langsung menyerang bapak dan ibunya dengan pertanyaan.
" Maaf ya nduk di tinggal lama, kami ada urusan sebentar. Tapi sekarang sudah selesai kok, gimana kata dokter tadi? " Bu Nisa mendekati putrinya dan memberikan pengertian.
" Iya bu endak apa-apa, ibu tahu kalau dokter sudah kesini? " Tanya Bulan.
" Iya tahu, tadi kan ketemu di depan. " Jawab ibunya.
Sedangkan pak Soleh langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Iya, terima kasih ya. " Ucap bu Nisa.
" Sama-sama, kalau gitu saya permisi. " Pamitnya.
" Nduk, kamu makan dulu ya. Biar ibu suapin. " Bu Nisa membuka makanan untuk Bulan.
" Enggak perlu di suapin bu, Bulan bisa sendiri. Sini bu. " Bulan tidak mau merepotkan ibunya.
" Iya ibu tahu kamu bisa, tapi ibu pengen suapin kamu. Kalau kamu enggak lagi sakit, pasti ibu enggak punya alasan mau suapin kamu. Ini buka mulutnya, aaaa. " Bu Nisa mulai menyuapi Bulan.
" Terima kasih bu,.." Bulan membuka mulutnya.
Baru saja Bintang maauk ke mobil, handphone nya berbunyi. Ada panggilan masuk dari mamanya.
__ADS_1
📞 " Assalamu'alaikum ma, ada apa? " Bintang mengangkat teleponnya.
📞 " Wa'alaikumussalam,kamu lagi dimana? Kenapa kamu berangkat ke kantornya pagi-pagi sekali ? " Cerocos mamanya.
📞 " Ini lagi di mobil mau ke kantor, tadi ada urusan sebentar ma. Jadi aku harus pergi pagi-pagi. " Jawab Bintang.
📞 " Urusan apa? kenapa enggak ngomong dulu sama mama atau papa? " Omel mamanya.
📞 " Maaf ma, ini masalah masa depan. Hehehh. " Bintang menjawab sambil cengengesan.
📞 " Maksud kamu Bulan? Memangnya kenapa dengan Bulan? Dia baik-baik saja kan? " Mamanya malah jadi panik.
📞 " Bukan ma, alhamdulillah dia baik-baik saja. Iya bener ada sangkut pautnya sama dia, tapi hari ini aku nemuin bapak sama ibunya Bulan. " Jelas Bintang.
📞 " Alhamdulillah, kirain ada apa-apa sama calon mantu mama. Kamu ketemu sama pak Soleh dan Nisa? Kenapa enggak ngomong mama, biar mama sama papa bantuin. " Mamanya antusias.
📞 " Enggak perlu ma, selagi aku bisa selesaikan sendiri. Kenapa mesti minta bantuan. Nanti ada saatnya mama sama papa yang akan repot, hahaha. " Goda Bintang.
📞 " Siap pokoknya, mama sama papa akan dukung apapun rencananya. Asalkan nanti di rumah kamu jelaskan apa rencananya, biar mama tahu. Dan enggak salah ngomong lagi. " Mamanya mengingatkan Bintang.
📞 " Oke ma, oh ya ma. Sudah dulu ya, aku mau ke kantor nih. Nanti lagi kita sambung ngobrolnya. Assalamu'alaikum. " Pamit Bintang.
📞 " Wa'alaikumussalam. Oke sayang, hati-hati di jalan ya. " Mamanya menutup sambungan teleponnya.
Bintangpun akhirnya segera bergegas berangkat ke kantor, karena hari semakin siang. Takutnya dia akan terlambat sampai ke kantornya.
Sedangkan Bulan sedang santai setelah selesai sarapan dan minum obat. Dia sedang memainkan ponselnya, sambil memikirkan apa yang harus dia balas dengan pesan yang di kirim Bintang semalam. Sedangkan pak Soleh dan bu Nisa sedang menonton televisi di sofa yang ada di kamar itu, karena mereka ingin membiarkan Bulan untuk istirahat.
" Aku harus balas apa ya? Pasti mas Bintang sedang nungguin balasannya, nanti katanya aku sombong lagi enggak mau balas pesannya. Tapi, aku harus mulai dengan kata-kata apa nih. Mas, kenapa kamu membuat hatiku rasanya tak karuan. Padahal sebelumnya aku tak pernah seperti ini, apa kamu serius dengan pesan kamu semalam mas? Tapi aku juga enggak tahu dengan perasaanku sama kamu mas, Astaghfirullah. Ya Allah, mohon beri hamba petunjuk. Aamiin. " Batin Bulan.
Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.
__ADS_1