
" Pak Bintang, sepertinya kami bisa melacak keberadaan orang yang menghubungi pak Bintang. " Ucap salah seorang yang bersama Bintang.
" Benarkah itu pak? Bisa kita segera kesana? " Sahut Bintang dengan antusias.
" Mari kita segera berangkat pak? " Jawab orang tersebut.
Mereka semuapun bergegas menuju tempat yang dimaksud, meski kebenarannya masih belum seratus persen.
" Sabar ya sayang, mas akan segera menyelamatkan kalian. " Batin Bintang yang sedang mengendarai mobil.
Sedangkan kondisi Bunga semakin melemah, apalagi mereka tidak dikasih makan sejak pagi.
" Aku harus berbuat sesuatu, kasihan Bunga. Kondisinya begitu sangat lemah sekali, aku harus cari cara agar bisa mendapatkan obat atau semacamnya. " Batin Bulan dengan terus merawat sang adik ipar.
" Sayang, kamu tunggu disini dulu ya? Kakak mau coba minta obat. " Bulan menurunkan kepala Bunga dari pangkuannya.
" Tapi kak, aku takut sendirian. " Jawab Bunga lemas dengan mata yang masih terus tertutup.
" Kamu jangan khawatir sayang, kakak engga akan lama. Sebentar ya? " Bulan meyakinkan Bunga.
Bulan mulai berjalan dengan tertatih-tatih menuju pintu yang terkunci dari luar tersebut.
" Tolong, siapapun yang ada diluar. Saya mohon sekali, berikan kami makanan dan obat. Kasihan adik saya,... " Bulan berbicara dengan lemas sembari menahan tangis, karena ia tak mau kalau sampai Bunga melihatnya menangis.
Bulan mencoba terus menerus, dengan sedikit berteriak dengan sisa tenaga yang masih ada. Ia berbicara sambil menggedor-gedor pintu dari dalam.
Tanpa aba-aba ada seseorang dari luar mendorong pintu dengan kuat sekali, sehingga membuat Bulan yang berada dibalik pintupun terkena hantaman pintu yang terbuka dan itu membuatnya terjatuh sangat keras.
" Apa mau kamu ini? Berisik sekali, mengganggu kesenangan orang saja. " Ucap perempuan yang menculiknya tersebut.
" Maaf, jika saya mengganggu kamu. Tapi, saya mohon sekali. Berikan adik saya makanan dan obat, kasihan dia. Apalagi kondisinya sangat lemah sekali,.. " Bulan memohon bantuan terhadap perempuan tak punya hati tersebut. Meski kondisinya sendiri saat ini sedang terluka parah juga, akibat hantaman pintu tadi.
" Hahahahha, kenapa aku harus menolong kalian? Justru aku senang melihat kalian menderita seperti ini. Kenapa? Sakit ya? Aduuuh, kasihan sekali. Tapi bohong, hahahahaha. " Perempuan tersebut memang tak punya belas kasihan sepertinya.
" Saya mohon mbak, tolong adik saya. Mbak, kita ini kan sama-sama perempuan. Bagaimana, jika keadaan ini berbalik ke kamu? " Bulan terus memohon.
" hah, jangan ngimpi kamu ! Atau, kamu mau aku berbuat yang lebih menyakitkan lagi? Seperti ini? " Sepertinya perempuan tersebut semakin tersulut amarahnya, sembari menodongkan sebuah pisau kecil ke leher Bulan.
__ADS_1
" Istighfar mbak, ingat dosa. Astaghfirullah hal'adzim,...." Bulan bukannya takut, malah ia menasehati perempuan tersebut.
" Diam kamu !!!! " Bentak perempuan tersebut, dan ia juga menggoreskan pisau kecilnya ke lengan Bulan. Meski goresannya tak begitu besar, akan tetapi darah segar tetap mengalir dari lengan Bulan.
" awww, astaghfirullah hal'adzim. " Hanya itu yang keluar dari mulut Bulan.
Kondisi Bulan saat ini hampir sama dengan Bunga, bahkan ia mendapatkan luka dimana-mana. Bukan hanya luka goresan pisau, ia juga mengalami luka-luka akibat hantaman pintu tadi.
" Kenapa? Sakit? Mau di tambah lagi. " Perempuan tersebut semakin menggila, ia saat ini bahkan mengarahkan pisaunya ke leher Bulan. " Hahahahaha,.... "
Dooor,....
Suara tembakan terdengar begitu keras sekali, dan tembakan tersebut mengenai tangan Perempuan gila tersebut.
" Queen,... " Betapa terkejutnya Bintang, setelah mengetahui siapa penculik istri dan adiknya.
" Iya sayang, ini aku Queen. " Queen bukannya takut, ia bahkan bisa tersenyum dalam situasi yang seperti ini.
" Sayang, kamu luka? " Bintang langsung menghampiri sang istri dan memeluknya.
" Mas, tolong segera bawa Bunga ke Rumah Sakit. Dia demam dari semalam. " Itu lah kata-kata pertama yang Bulan ucapkan.
Bintang dan Niko segera membawa Bulan dan Bunga ke Rumah Sakit, sedangkan urusan Queen dan gengnya. Bintang serahkan kepada orang-orang kepercayaannya.
" Sayang, kamu bertahan ya. Kita sebentar lagi akan sampai ke Rumah Sakit. " Bintang terus saja memeluk istri tercintanya yang penuh dengan luka. Sedangkan Bunga, ia berada di bangku depan.
Sesampainya mereka di Rumah Sakit langsung dibawa ke ruang UGD untuk segera mendapatkan perawatan. Bintang yang tidak boleh masukpun dengan terpaksa harus menunggu di luar ruangan, dan tak lupa juga ia segera memberi kabar kepada kedua orang tuanya.
" Queen, ternyata kamu dalang dari semua ini. Aku akan pastikan, kalau kamu akan mendapatkan hukuman yang berat. Apalagi, kamu sudah membuat adik dan istriku menderita. " Bintang sangat marah setelah tahu siapa pelakunya.
" Apa pak Bos butuh sesuatu? " Niko menghampiri bossnya yang sedang tampak gelisah.
" Tidak Niko, aku tidak membutuhkan apapun. Yang aku mau saat ini, melihat istri dan adikku sehat kembali. " Sahut Bintang.
" Sabar bos. Saya yakin, jika bu Bulan dan mbak Bunga akan baik-baik saja." Niko mencoba menenangkan Bintang.
" Aamiin... " Jawab Bintang.
__ADS_1
Dokter keluar dari ruang UGD dan menghampiri Bintang.
" Selamat sore pak Bintang... " Sapa sang Dokter.
" Sore Dok, bagaimana keadaan istri dan adik saya? Mereka baik-baik saja kan? " Bintang antusias sekali bertanya kepada sang Dokter.
" Pak Bintang tenang saja, kondisi adik bapak saat ini sudah lebih membaik. Sedangkan istri pak Bintang juga sudah kami tangani luka-lukanya, dan mereka berdua saat ini juga sudah bisa di jenguk. Ketika mereka sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. " Jelas sang Dokter.
" Alhamdulillah, terima kasih banyak Dok. " Bintang menyalami sang Dokter dengan senang.
" Sama-sama pak Bintang, kalau begitu saya permisi dulu. " Pamit sang Dokter.
" Silahkan Dok. " Sahut Bintang.
Dan tak butuh waktu lama, orang tua Bintang dan Bulan sudah sampai ke Rumah Sakit. Setelah melihat keberadaan Bintang dan Niko, mereka segera menghampirinya.
" Assalamu'alaikum... " Salam pak Soleh.
" Wa'alaikumussalam, bapak, ibu... " Jawab Bintang seraya menyalami sang mertua, dan kedua orang tuanya.
" Dimana Bulan dan Bunga Bintang? Mama ingin segera bertemu mereka. " Bu Juni tak sabar ingin melihat anak dan menantunya.
" Mereka masih didalam ma, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat inap. Baru kita bisa melihat mereka. " Jawab bintang.
Sekitar 10 menitan, Bunga dan Bulan sudah berada di ruang rawat inap yang sama. Dan seluruh keluarga juga sudah berada disana.
" Sayang, mas minta maaf ya. " Ucap Bintang sembari menggenggam tangan sang istri, ingin sekali rasanya Bintang memeluk dan menciumi istri tercintanya. Tapi itu semua tak mungkin, karena terlalu banyak orang.
" Kenapa minta maaf mas? Kan mas engga ada salah apa-apa. " Ucap Bulan.
" Soalnya, mas tidak bisa cepat menemukan kalian. Jadinya seperti ini, kamu pasti sakit ya? " Bintang mengusap luka-luka Bulan, dan tanpa terasa mata Bintangpun berkaca-kaca.
" Ini semua sudah takdir mas, jadi kamu jangan merasa bersalah lagi ya? " Bulan mengusap mata sang suami yang merembes.
Karena Bintang tak bisa menahan air matanya, ia pun langsung memeluk sang istri dengan terisak-isak. Bulan yang melihat sang suami menagispun ikut menangis juga.
" Ma-mas,... " Ucap Bulan lirih.
__ADS_1
...Mohon selalu dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga....