
Sedang asik mereka mengobrol, tiba-tiba pintu ruangan ada yang mengetuk. Dan langsung ada yang membuka, ternyata yang datang adalah Fanya. Dia datang dengan menggunakan pakaian yang seksi.
" Permisi semuanya, boleh saya bertemu Bintang? " Tanpa basa basi, Fanya langsung nyelonong masuk.
" Eh ada nak Fanya, sini duduk dulu. " Sapa bu Juni, meski sebenarnya dia tidak suka dengan kehadiran Fanya.
" Iya tante, terima kasih. Mana Bintangnya? " Tanya Fanya dengan nada centil, sambil melihat kesana sini.
" Sebentar ya Fanya, biar om jemput dulu Bintangnya. Pak Soleh dan bu Nisa tunggu saja disini. Ma, papa tinggal dulu ya." Ucap pak Jafar, dan langsung keluar.
Sedang pak Soleh dan bu Nisa hanya melihat dengan bingung, siapakah sebenarnya perempuan yang datang ini. Dan kenapa pak Jafar terlihat tidak senang dengan kehadirannya.
" Pak Soleh, Nisa, tunggu sebentar ya. Nak Fanya juga tunggu sebentar ya. " Bu Juni paham dengan perkataan suaminya tadi. Karena, beberapa hari yang lalu juga pak Jafar sudah mendengar tentang Fanya. Jadi, wajar saja kalau pak Jafar tampak terlihat dingin terhadap Fanya.
Pak Jafar sudah sampai ke depan ruangan Bulan, dia mengetuk dan langsung membuka pintu.
" Maaf kalau papa mengganggu kalian,.. " Ucap pak Jafar.
" Enggak kok pa, ada apa? Bapak sama ibu kemana? " Tanya Bintang.
" Papa kesini mau jemput kamu dan Bulan, karena ada yang mencarimu Bintang. " Pak Jafar to the point saja.
" Siapa yang cari Bintang pa? Kenapa harus ajak ustadzah juga. " Bintang bingung.
" Ada Fanya, kamu harus selesaikan hari ini. " Pak Jafar tampak kesal.
" Oke pa, Bintang paham. Sayang, kamu bisa ikut mas ke ruangan Bunga. " Pinta Bintang.
" Ada apa mas? Harus saya ikut, kan tamunya buat mas? " Bulan bingung.
" Harus sayang, ini untuk meluruskan yang perlu di luruskan. Mau ya, pliiis. " Bintang memohon.
__ADS_1
" Nak Bulan, sini biar om bantu. Ini sudah om bawakan kursi roda, kamu ikut saja. Ini untuk masa depan kalian. " Pak Jafar langsung membantu Bulan naik ke kusi rodanya, Bulan pun tidak bisa membantah lagi.
Akhirnya mereka bertiga sudah menuju ke ruangan yang akan mereka tuju, yaitu ruang rawat Bintang.
" Assalamu'alaikum. " Salam Bintang.
" Wa'alaikumussalam. " Jawab semua yang ada di ruangan.
" Bintang, kamu dari mana? " Fanya langsung mendekati dan ingin memeluk Bintang, tapi dengan sigap Bintang menepis tangan Fanya.
" Fanya, terima kasih kamu sudah mau datang menjenguk saya. Tapi, saya mohon. Kamu jangan sembarangan peluk-peluk saya, karena kita ini bukan mahram. " Kesal Bintang.
" Bintang, aku kan juga sudah bilang. kalau aku sayang banget sama kamu, lihatlah aku sekarang. " Rengak Fanya.
Deg, jantung Bulan terasa sakit ketika mendengar Fanya mengungkapkan perasaan kepada Bintang.
" Bulan, kamu harus tenang. Kamu harus dengar dan perhatikan dulu, apa sebenarnya yang terjadi. Sabar Bulan, sabar. " Batin Bulan.
" Sayang, kamu harus dengarkan dulu apa yang akan Bintang jelaskan ya? " Ucap bu Juni.
" Iya bu. " Sahut Bulan sembari tersenyum.
" Fanya, tapi aku tidak pernah sekalipun punya rasa yang sama seperti kamu. Dan kamu harus ingat, kamu itu sudah punya Ciko. Dia itu sayang banget sama kamu, jadi jangan kamu sia-siakan dia. " Jelas Bintang.
" Kamu tahu dari mana tentang Ciko, aku sudah tidak ada apa-apa lagi sama dia Bintang. " Fanya berbicara dengan manja.
" Kamu tidak perlu tahu, saya tahu dari mana tentang dia. Tapi, yang perlu kamu tahu. Dia sayang kamu, sedangkan saya tidak Fanya. Saya sudah punya orang yang saya sangat saya sayangi Fanya, jadi maaf. Saya tidak bisa membalas perasaan kamu itu. " Jelas Bintang lagi.
" Siapa orangnya Bintang? " Tanya Fanya sedikit teriak.
" Dia " Bintang menunjuk Bulan, dan mamanya mendekatkan kursi roda Bulan ke dekat Bintang.
__ADS_1
" Dia, hahahahha. Kamu sudah gila ya Bintang, kenapa kamu sekarang suka dengan cewek seperti ini? Ini bukan selera kamu banget Bintang. " Ejek Fanya.
" Stoop Fanya, saya tidak butuh penilaian kamu. Memangnya kenapa dengan dia? " Bintang semakin kesal, dan mengepal tangannya.
" Mas, sabar. Kamu tidak boleh emosi seperti ini, kamu harus selesaikan dengan baik-baik. " Bulan mencoba menenangkan Bintang.
" Astaghfirullahal'dzim, makasih sayang. " Bintang beristighfar.
" Apa? Kamu panggil dia apa? Sayang? Kalian semua jangan membodoh-bodohi aku, pakai acara bilang kalau kamu sudah ada perempuan lain. " Fanya semakin tak terima dengan apa yang di lihat dan di dengarnya.
" Fanya, cukup. Dari tadi tante cuma diam saja. Tapi, karena melihat tingkah kamu yang seperti ini. Tante jadi muak dengarnya. Asal kamu tahu ya, dengan perubahan kamu yang seperti sekarang ini. Malah membuat saya ilfil saja, apalagi Bintang. Harusnya kamu bisa terima keputusan Bintang, dia kan sudah bilang sama kamu. Kalau dia itu tidak pernah ada rasa suka sama kamu, kamu itu hanya dianggap teman saja tidak lebih. Bahkan sebelum Bintang ketemu dengan calon istrinya ini, dia juga tidak pernah ada rasa apa-apa sama kamu. " Jelas bu Juni dengan berapi-api.
" Nak Fanya, sini kita duduk dulu. Kita bicara baik-baik, om yakin kok. Kalau kamu itu masih Fanya yang dulu, jadi mari kita bicara secara kepala dingin. Dan nak Fanya sadarkan, kalau kita semua ini lagi berada di Rumah Sakit. Kan kasihan yang lagi pada sakit, mendengar kita bicara dengan nada keras semua. " Pak Jafar berusaha bermurah hati kepada Fanya, karena dia tak enak dengan pak Soleh sekeluarga.
" Enggak ada om, enggak ada lagi yang perlu di bicarakan secara baik-baik. Aku kecewa saja, karena Bintang tak menganggapku. Bahkan dari dulu sampai sekarang. " Teriak Fanya.
" Astaghfirullah, cukup Fanya. Terus sekarang mau kamu itu apa? Kalau kamu tetap memaksakan perasaan kepadaku, maaf sekali lagi. Aku benar-benar tidak bisa, kamu tahu sendiri kan. Kalau hati tak ada yang bisa memaksa. Tolong fahami itu, kamu harusnya bersyukur. Karena Ciko itu beneran sayang sama kamu. " Bintang masih bisa menahan emosinya, karena Bulan.
" Aku maunya ya cuma kamu sayang,...." Fanya nekat memeluk Bintang dan berbicara dengan suara yang menggelikan semua orang.
Bu Juni mendorong Fanya dengan kencang, karena dia tidak tahan lagi melihat tingkah Fanya yang semakin menggila itu.
" Kalian semua jahat, tunggu saja pembalasan dariku. Dan untuk kamu ya, jangan harap kamu bisa mendapatkan Bintang. Karena Bintang itu hanya untukku, kalau aku tidak bisa dapat dia, kamu atau pun yang lain juga tidak bisa. Ingat itu. " Fanya berbicara sambil menunjuk-nunjuk wajah Bulan, dan dia juga langsung keluar dan membanting pintu.
Bulan hanya diam saja, karena dia bingung harus bersikap bagaimana.
*Bagaimana dengan lamaran Bintang?
Apakah Bulan dan orang tuanya masih bisa menerima Bintang?
Dan kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Fanya*?
__ADS_1
Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.