
Setelah Bintang memberikan beberapa alasan dan pengertian kepada Bulan, akhirnya Bulan mau menerima tawaran Bintang untuk di bantu makan dan minumnya.
Dengan telaten dan hati-hati Bintang mulai menyuapi Bulan, di dalam hati Bintang merasa bahagia sekali. Karena dapat menyuapi orang yang sangat dia sukai 😍.
Dan pada akhirnya, makanan Bulan habis juga berkat bantuan dari Bintang.
" Alhamdulillah " Bintang senang, karena Bulan mau menghabiskan makanannya.
" Mas Bintang, sekali lagi terima kasih atas semua bantuannya. Dan maaf, karena sudah merepotkan. Mas Bintang jadi harus nungguin dan ngurusin saya, mas juga enggak jadi pergi kerja. Dan lagi, baju mas Bintang jadi kotor karena darah saya. Nanti kalau saya sudah sehat, saya akan cucikan bajunya. Atau enggak, akan saya ganti bajunya. " Bulan berbicara kepada Bintang seperti sedang menjelaskan pelajaran kepada muridnya, yaitu panjang kali lebar 😀.
" Ustadzah tidak perlu minta maaf, berterima kasih atau bahkan mau cuci dan ganti baju saya segala. Ini sudah menjadi kewajiban sesama saling membantu. Justru saya yang mau meminta maaf sama ustadzah. " Balas Bintang.
" Minta maaf kenapa mas? " Bulan mulai penasaran.
" Karena tanpa seizin ustadzah, saya sudah berani gendong ustadzah tadi. Walaupun itu darurat, saya merasa tidak sopan saja. " Jelas Bintang.
" Oh soal itu, tidak apa-apa mas. Kan seperti kata mas tadi, kalau itu semua dalam keadaan darurat. Justru mas Bintang sudah menyelamatkan hidup saya, coba tadi kalau enggak ada mas Bintang. Mungkin saya sudah tidak ada. " Jelas Bulan juga.
" Dan saya juga mau minta maaf, karena tadi tanpa sengaja telah melihat rambut ustadzah. " Bintang ingin berusaha jujur, dia tidak mau menutupi apapun.
" Rambut? " Bulan kaget.
" Iya ustadzah, kan tadi jilbab yang ustadzah pakai sudah sobek dan kotor kena darah. Jadi, pas ustadzah mau di pindahkan ke ruang rawat. Tak sengaja saya melihatnya. Padahal saya sudah membawakan jilbab penggantinya tadi. Tapi saya berani bersumpah ustadzah, kalau saya tadi langsung memalingkan muka saya setelah tak sengaja melihatnya. " Bintang merasa semakin bersalah kepda Bulan.
Bulan diam, tidak menanggapi omongan Bintang. Akan tetapi, dia berkata di dalam hati. " Masya Allah, kamu luar biasa sekali mas. Meski sebenarnya aku tak rela mas, karena kamu sudah memegang dan melihat yang mestinya tidak boleh. Tapi apa daya, ini semua dalam keadaan darurat. Dan kamu bahkan dewa penolongku. Kamu lelaki baik mas, andai..... Astaghfirullah, Bulan sadar Bulan. " Bulan menggeleng-gelengkan kepalanya, dan sontak saja membuat Bintang panik.
" Ustadzah kenapa? Marah ya sama saya? Kalau mau marah silahkan ustadzah, saya benar-benar tidak sngaja. " Bintang tampak cemas sekali.
__ADS_1
" Bukan mas, saya bukan mau marah. Soal itu, sudahlah mas. Semua juga sudah terjadi, dan dalam ketidak sengajaan juga. Kita bisa berbuat apa, kita sekarang beristighfar minta ampun sama Allah saja mas. " Jelas Bulan dengan bijak.
" Astaghfirullah, sekali lagi maaf. Ustadzah sekarang lebih baik istirahat saja, biar cepat pulih. Dan kepala ustadzah juga pasti sakit sekali, karena mendapat banyak jahitan. " Bintang memberikan saran agar Bulan beristirahat.
" Baiklah mas, saya juga merasa sedikit pusing. " Jawab Bulan.
" Pusing? Saya panggilkan Dokter saja ya? Takutnya nanti ada apa-apa. Sebentar ya. " Bintang langsung bergegas memencet tombol yang berada di dinding dekat tempat tidur, untuk memberi signal kepada petugas jaga.
Bulan hanya diam saja melihat tingkah Bintang yang terlihat panik sekali.
" Kenapa mas Bintang terlihat sangat cemas, apa mungkin? Enggak, enggak. Aku enggak boleh berfikir yang aneh-aneh, wajar dia cemas melihat orang yang sakit. Sadar Bulan, istighfar, istighfar. Astaghfirullah, maafkan hamba Ya Rabb. " Bulan berperang argumen di hatinya sendiri.
Beberapa menit kemudian Dokter dan para suster masuk ke ruangan Bulan. Dan sang Dokter langsung memeriksa Bulan.
" Bagaimana keadaannya Dok? " Bintang yang masih berada di dalam pun menanyakan keadaan Bulan.
Bintang pun langsung menuruti perkataan Dokter untuk menunggu di luar. Baru saja Bintang keluar, Bunga dan kedua orang tua Bulan baru saja sampai.
" Assalamu'alaikum nak Bintang, bagaimana keadaan Bulan? " Bu Nisa langsung menodong Bintang dengan pertanyaan.
" Wa'alaikumussalam bu, pak. Keadaan ustadzah Bulan sekarang ini sudah sadar, tapi di dalam sedang ada Dokter yang memeriksa untuk memastikan kondisinya. " Jelas Bintang sambil menyalami kedua orang tua Bulan.
" Alhamdulillah kalau sudah sadar, bagaimana kejadiannya nak Bintang? Kok bisa nak Bintang yang membawa anak kami ke sini? " Sekarang giliran pak Soleh yang memberi pertanyaan.
" Mari kita menunggu kabar dari Dokter sambil duduk, sembari saya jelaskan kronologi kejadiannya. " Ajak Bintang, dan setelah semua duduk. Barulah Bintang memulai ceritanya dengan detail.
Dan mereka mendengarkan cerita Bintang dengan serius, selagi mereka sedang mengobrol. Dokter keluar dari ruangan Bulan. Dan bu Nisa langsung menghampiri Dokternya.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan anak kami Dok? " Bu Nisa pun bertanya pada Dokter yang baru saja memeriksa anaknya.
" Jadi ibu dan bapak adalah orang tua pasien? " Tanya balik Dokter tersebut.
" Iya Dok " Menjawab di sertai anggukan.
" Jadi begini semuanya, keadaan pasien saat ini semakin membaik. Tapi, pasien harus banyak beristirahat dengan cukup. Agar luka di tubuhnya segera pulih, terlebih lagi luka yang ada di kepela pasien yang banyak menerima jahitan. Jadi, saya sarankan. Pasien akan tetap berada di Rumah Sakit ini untuk beberapa waktu ke depan, agar kami bisa memantau sampai keadaannya membaik. " Jelas sang Dokter.
" Saya rasa juga begitu Dok, yang penting pasien segera pulih dan membaik. Bukan begitu pak, bu? " Bintang yang menjawab penjelasan dari Dokter.
Orang tua Bulan hanya menanggapinya dengan anggukan saja.
" Baiklah kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu. Silahkan masuk, dan saya harap pasien jangan terlalu banyak di ajak bicara. Takutnya nanti akan pusing lagi. Permisi. " Dokter pun pergi meninggalkan mereka semua.
Dan mereka semua masuk untuk menemui Bulan didalam.
" Assalamu'alaikum nak. " Bu Nisa langsung menyapa anaknya dan mencium keningnya. Begitu juga dengan pak Soleh.
" Wa'alaikumussalam, pak, bu. " Sahut Bulan lirih.
" Ustadzah, aku khawatir tau. " Kini giliran Bunga yang bersuara, dan langsung mencium pipi ustadzahnya.
" Terima kasih Bunga, ustadzah enggak apa-apa kok. Untung saja ada kakak kamu yang nolongin ustadzah. " Bulan tersenyum ke arah Bunga.
" Nak Bintang, kami sangat berterima kasih sekali atas semua bantuannya. Untuk biaya Rumah Sakit, nanti secepatnya akan kami kembalikan. " Pak Soleh menjabat tangan Bintang, tanda ucapan terima kasih.
" Bapak ini bicara apa, jangan di pikirkan masalah biayanya. Itu urusan belakangan, yang terpenting yang harus dipikirkan sekarang ini adalah kesembuhan ustadzah Bulannya dahulu. " Bintang berbasa-basi, dia tidak mungkin langsung bilang tak perlu dikembalikan biayanya. Takutnya nanti, mereka akan berpikir yang macam-macam.
__ADS_1
Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.