Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Malu-malu Tapi Mau


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, Bulan sudah bangun dari istirahatnya. Sedangkan Langit baru saja sampai ke Rumah Sakit dengan angkutan umum, baru saja Langit mau memasuki area Rumah Sakit ada seseorang yang memanggil namanya.


" Langit tunggu. " Panggil seseorang, Langit pun menoleh ke arah suara tersebut.


" Mas Bintang ya? " Sahut Langit setelah melihat orang yang memanggilnya.


" Iya Langit, ini saya Bintang. Perkenalkan ini mama saya dan ini kamu sudah kenal kan? " Bintang memperkenalkan mamanya kepada Langit.


Tanpa bersuara, Langit langsung menyalami mereka semua.


" Perkenalkan tante, saya Langit adiknya mbak Bulan. Iya saya tahu, ini mbak Bunga kan. " Jawab Langit ramah.


" Kamu baru pulang sekolah ya? " Sapa Bunga.


" Iya mbak, kalau mbak Bunga, mas Bintang dan tante mau jenguk siapa? " Karena Langit tidak tahu menahu siapa penolong mbaknya kecelakaan tadi, jadi dia pikir mereka akan mengunjungi kerabat atau teman.


" Kami mau menjenguk ustadzah Bulan lah, yuk kita masuk sama-sama. " Sahut Bunga.


" Oh gitu, maaf saya tidak tahu. ayok kalau gitu, mari. " Langit mempersilahkan mereka yang lebih tua duluan dengan kode tangan ramahnya.


Akhirnya mereka berempat memasuki Rumah Sakit dan menuju ke ruangan Bulan di rawat. Sesampainya di depan ruangan, Bintang yang mengetuk pintu dan memeberi salam.


" Assalamu'alaikum. " Ucap Bintang.


" Wa'alaikumussalam, masuk saja tidak di kunci. " Sahut bu Nisa dari dalam.


Mereka berempat pun masuk dengan teratur.


" Langit, kok kamu bisa bareng dengan nak Bintang? " Kata bu Nisa.

__ADS_1


" Iya bu, tadi Langit ketemu mereka di depan. Jadi kita barengan masuknya. " Jawab Langit sambil menyalami kedua orang tuanya dan mbaknya. " Mbak, enggak kenapa-kenapa kan? " Langit tampak cemas melihat kondisi mbaknya.


" Mbak enggak apa-apa kok dek. " Jawab Bulan diiringi dengan senyuman.


" Nak Bintang dan nak Bunga kok ke sini lagi, enggak capek apa? Kan tadi baru saja pulang? Kami jadi merasa merepotkan kalian. Dan ini kan mama kalian kalau enggak salah? Kan pernah ketemu beberapa bulan yang lalu. " Pak Soleh merasa tidak enak dengan Bintang, dan mengingat-ingat mamanya Bintang.


" Enggak ada yang merasa di repotkan kok pak, bu. Saya ke sini mau mengantarkan tas ustadzah Bulan yang ketinggalan di mobil saya tadi pagi, soalnya saya lupa kalau ada tas di mobil. Pas sampai rumah baru tahu ada tas ketinggalan, jadi saya antarkan. Sekalian saya mengantarkan mama saya untuk menjenguk ustadzah, perkenalkan pak, bu ini mama saya. Bener pak, dulu kita pernah ketemu di Rumah Sakit juga. " Jelas Bintang dengan panjang, dan memberikan tasnya kepada bu Nisa.


" Perkenalkan semuanya, saya Juni mamanya Bintang dan Bunga. " Bu Juni menyalami bu Nisa.


" Saya Nisa ibunya Bulan dan Langit, sebentar-sebentar kamu Juni yang pernah tinggal di desa XX kan? Kita dulu tetanggaan kan? " Bu Nisa mencoba mengingat masa-masa itu.


" Jadi, kamu Annisa ya? Teman masa remaja ku dulu. " Bu Juni pun mencoba mengingat kembali dan langsung memeluk bu Nisa denga erat.


" Masya Allah, enggak nyangka loh aku kita bisa ketemu lagi Jun. Kamu kemana aja kok ngilang waktu itu, aku kangen tahu. " Bu Nisa juga sama memeluk bu Juni dengan erat.


Sedangkan yang lainnya hanya menyaksikan dengan bengong dan penuh kebingungan, dengan yang mereka lihat saat ini.


" Alhamdulillah baik bu, terima kasih sudah mau datang. " Bulan berusaha dengan susah payah mencium tangan bu Juni.


" Alhamdulillah kalau baik nak, mana yang sakit? Tidak perlu berterima kasih, saya senang bisa datang melihat kamu. " Bu Juni memeriksa bagian tubuh Bulan yang luka.


" Sekarang sudah tidak sakit lagi kok bu, ya meski kadang sakitnya datang tiba-tiba. " Jawab Bulan dengan senyuman.


" Sudah ma, giliran aku lagi. " Bunga berusaha menggeser mamanya.


" Sebentar Bunga, baru saja mama duduk. Kamu kan sudah tadi pagi. " Mamanya tidak mau mengalah.


Semua yang melihat kejadian itu pun ikut senyum-senyum, mereka merasa lucu saja dengan adegan antara ibu dan anak itu.

__ADS_1


" Alhamdulillah, senang sekali rasanya melihat kamu tersenyum Bulan. Semoga kamu selalu bisa tersenyum seprti ini, dan aku juga senang ternyata mama dan ibu kamu sudah saling kenal. Semoga ini bisa menjadi jalan untuk aku bisa mendekatimu ya, pliiis kamu buka hati buat aku ya. " Bintang berkata-kata dalam hati melihat keadaan yang ada di depan mata.


" Nak Bintang, sekali lagi bapak ucapkan terima kasih atas semua bantuannya. " Pak Soleh membuyarkan semua lamunan Bintang, dengan menepuk pundaknya.


" Sama-sama pak, saya juga senang melakukan semuanya. " Jawab Bintang.


" Ustadzah, cepet sembuh ya? Nanti kalau sekolah enggak ada ustadzah, aku jadi sedih. " Tutur Bunga sambil memegang tangan Bulan.


" Aamiin, ustadzah juga pengen cepet sembuh Bunga. Enggak enak berada disini, bau obat. " Canda Bulan.


" Oh ya Nis, bisa nih kita jadi besan? Bolehkan pk Soleh? " Tiba-tiba kata-kata bu Juni mengagetkan semua orang, apalagi Bintang dan Bulan.


" Kamu bisa saja Jun, tanyain saja langsung sama mereka yang bersangkutan. Bukannya begitu pak? " Goda bu Nisa sambil senyum-senyum.


" Memangnya nak Bintang belum punya pacar? Kan orangnya ganteng dan sukses, pasti banyak cewek yang mengantri dong. " Pak Soleh ikut andil menggoda sekaligus ingin tahu.


" Modal ganteng dan sukses saja enggak cukup pak Soleh, mesti ada keberanian dong ngungkapin perasaan ke cewek. Iya kan Bintang? " Bu Kuni meledek putranya.


Bunga yang melihat kakaknya di serbu pertanyaan dan di sudutkan hanya tertawa kecil sambil berdehem-dehem.


Sedangkan Bulan, dia merasa kasihan melihat Bintang yang seperti di ledekin itu.


" Ma, apaan sih. Pak, bu, maafkan mama saya, karena sudah ngomong ngelantur. " Bintang merasa, bahwa mamanya terlalu buru-buru. Karena, menurutnya tidak pantas saja membicarakan urusan hati di saat seperti ini.


" Enggak apa-apa nak Bintang, ibu tahu kok mama kamu orangnya suka bercanda. " Bu Nisa menanggapi Bintang.


" Aku enggak bercanda Nis, kalau Bulan memang belum ada yang mengikat. Aku mau punya menantu sepeti putrimu ini, kamu mau kan Bulan? " Bu Juni tampak semakin serius.


" Ibu bisa aja. " Bulan bingung harus menanggapinya seperti apa, dia takut salah ngomong.

__ADS_1


" Saya serius Bulan, semenjak pertama ketemu kamu waktu itu. Saya sudah suka sama kamu, apalagi Bunga sering sekali cerita tentang kamu. Kalau soal Bintang, saya yakin pasti dia tidak akan menolak. " Bu Juni berbicara serius sambil memegang tangan Bulan.


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.


__ADS_2