
Selesai makan malam, dan sebagian orang sudah beranjak dari meja makan. Tetapi Bulan bergegas ingin membereskan meja makan tersebut.
" Sayang, kamu mau ngapain nak? " Sapa sang mertua.
" Mau beresin meja makan ma. " Jawab sang menantu.
" Sudah enggak usah, kan ada bibi yang beresin sayang." Sang mertua melarangnya.
" Enggak apa-apa ma, Bulan sudah terbiasa seperti ini. " Sang menantu masih bersikukuh untuk membantu sang bibi.
" Jangan sayang, mending kamu ikut mama ke ruang keluarga yuk. Kita ngobrol-ngobrol santai sambil minum teh hangat. " Ajak sang mertua.
" Baik ma. Tapi, biar Bulan yang siapin minuman hangatnya dulu ya. Boleh ya ma. " Ucap sang menantu memohon.
" Ya sudah sayang boleh, bi tolong bantuin Bulan ya. " Sang mertua meminta bantuan sang bibi.
" Baik nyonya,.. " Jawab sang bibi.
" Kalau gitu, mama ke ruang keluarga duluan ya sayang. " Pamit sang mertua.
" Iya ma. " Jawab sang menantu.
Bu Juni pun sudah sampai ke ruang keluarga dan ikut berkumpul dengan yang lainnya. Sedangkan keluarga Bulan sudah pulang dari sore tadi.
" Ma, mana Bulan? " Tanya pak Jafar.
" Masih di dapur pa. " Jawab sang istri.
" Ngapain masih di dapur ma? Kenapa enggak diajak kesini sekalian? " Ucap pak Jafar lagi.
" Tadi sudah mama ajak kesini, tapi dianya mau buat minuman hangat dulu katanya. Sebenarnya mama sudah larang, tapi dia memelas gitu. " Jelas bu Juni.
" Istri kamu itu memang luar biasa Bintang, enggak salah kamu cari istri. Papa seneng punya menantu seperti Bulan. " Puji pak Jafar.
" Papa bisa aja, tapi Bulan memang perempuan yang luar biasa pa, ma. Aku saja merasa beruntung sekali mendapatkannya. " Bintang pun turut memuji sang istri.
__ADS_1
" Apalagi aku, aku seneng banget punya kakak ipar seperti ustadzah Bulan itu. Pokoknya aku sayang banget sama kakak ipar, awas aja kalau kakak sampai nyakitin kakak ipar. " Bunga turut menimbrung obrolan orang tua dan kakaknya.
Tak berselang lama, Bulan muncul dari arah dapur dengan membawa nampan yang berisi beberapa gelas dan camilan.
" Sayang, kenapa kamu bawa sendiri? Kan bisa minta tolong bibi. " Bintang menyambut nampan yang di bawa susah payah oleh sang istri.
" Adek bisa sendiri kok mas, lagian ini enggak berat kok. " Sahut sang istri.
" Istri mas ini memang luar biasa sekali ya, terima kasih ya sayang. " Bintang memuji sang istri di depan orang tua dan adiknya, sedangkan Bulan hanya memberi senyuman manisnya saja.
" Pa, ma, mas dan Bunga. Silahkan diminum dan dinikmati camilannya. " Bulan mempersilahkan mereka semua untuk menikmati camilan dan minumannya.
" Terima kasih nak, " Sahut papa mertuanya.
" Sama-sama pa. " Jawab bulan.
" Nak Bulan, lain kali. Kamu enggak usah ngelakukan ini semua, biar bibi saja ya nak. " Ucap sang papa mertua.
" Enggak apa-apa kok pa, Bulan sudah biasa melakukan ini. Lagian, cuma membuat minuman saja enggak berat kok. " Bulan merasa tak terbebani dengan pekerjaan itu.
Sesampainya di kamar, Bulan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan muka dan sebagainya. Sedangkan Bintang langsung berbaring ditempat tidur dengan memainkan ponselnya.
" Siapa yang kirim pesan gambar nih? Mana nomornya enggak kenal lagi. Coba aku buka ah, astaghfirullah. " Bintang kaget dan langsung membuang ponselnya setelah melihat isi gambarnya.
" Kenapa mas? " Bulan yang baru keluar dari kamar mandi bertanya kepada sang suami.
" I-ini ada orang yang ngirim foto sama mas, tapi fotonya membuat mas jijik dan berdosa sayang. " Sahut sang suami.
" Memangnya gambar apa mas? Boleh adek lihat? " Bulan sedikit penasaran dengan foto yang dimaksud sang suami.
" Kamu yakin sayang? Kalau kamu beneran pengen lihat, buka aja sendiri. Tapi, setelah itu langsung di hapus ya. " Bintang mengizinkan sang istri untuk melihatnya.
Bulan dengan perlahan mengambil ponsel sang suami yang sempat di buang tadi, dan mulai membuka foto yang dimaksud sang suami.
" Astaghfirullah, inikan fotonya si cewek yang pernah datang ke Rumah Sakit mas. Ngapain dia kirim foto beginian sama kamu? " Bulan tak kalah terkejutnya sama Bintang setelah melihat fotonya.
__ADS_1
" Mas enggak tahu, tadi mas langsung lempar tu hp. Jadi, mas enggak begitu jelas lihat mukanya. Maksud kamu, itu fotonya si Fanya? " Jelas sang suami, karena dia takut sang istri salah paham.
" Kayaknya sih iya mas, mas mau coba lihat lagi? biar yakin. " Bulan menggoda sang suami dengan menyodorkan ponselnya kehadapan sang suami.
" Sayang, kamu apaan sih? Mas enggak mau lihatnya, dosa tahu. Mending mas lihat punya kamu saja, halal dan enggak dosa. Kalau sudah selesai lihatnya, tolong langsung di hapus ya. Mas enggak mau nyimpan foto haram kayak gitu. " Bintang sedikit kesal.
" Hahahaha, yakin mas enggak mau lihat lagi. Nanti nyesel loh kalau langsung di hapus. " Goda sang istri lagi.
Padahal foto tersebut sudah di hapus setelah ia memastikan itu foto Fanya.
" Enggak sayang, kamu seneng banget sih godain mas? Oh ya sayang, kamu marah ya? " Bintang mulai mendekati sang istri yang duduk di pinggir tempat tidur.
" Marah? Kenapa adek harus marah? Memangnya, mas yang minta dikirimin fotonya? Dan satu lagi, fotonya sudah adek hapus kok. Terima kasih ya mas, karena sudah jujur dan tidak menutupi apa-apa dari adek. " Ucap sang istri.
" Amit, amit sayang. Emangnya mas enggak ada kerjaan apa, sampai-sampai minta kirimin foto begituan. Terima kasih kembali sayang, karena kamu enggak marah sama mas. Jujur itu harus sayang, bahkan wajib menurut mas. " Sahut sang suami sambil memeluk dan mencium lembut rambut sang istri.
" Iya mas, adek juga setuju. Oh ya, gimana tanggapan mas soal Fanya yang ngirim foto kayak gitu? " Tanya sang istri.
" Mas enggak tahu sayang, mas langsung blok saja nomornya ya? " Ucap sang suami.
" Terserah mas saja. Tapi, kalau dia nanti sampai ngulangin lagi. Mas harus ngomong sama dia, adek justru kasihan sama dia mas. " Bulan merasa iba dengan Fanya.
" Kenapa kamu malah kasihan sama dia sayang? " Sang suami heran.
" Ya kasihan saja mas, dia rela mengirim foto seperti itu sama mas. Berarti dia terobsesi sekali sama kamu mas, adek malah merasa bersalah. " Raut wajah sang istri berubah.
" Merasa bersalah soal apa sayang? " Tanya sang suami.
" Karena sudah merebut kamu dari dia mas. " Jawab sang istri.
" Merebut? Mana ada seperti itu, mas dari dulu sampai sekarang. Cuma menganggap dia itu seorang sahabat saja, enggak lebih sayang. Kamu jangan berfikiran begitu lagi ya? Mas beneran sayang dan cinta sama kamu, dan enggak akan ada wanita lain sayang. " Jelas sang suami sambil menciumi wajah sang istri yang terlihat sedih.
" Maaf mas. " Ucap sang istri singkat.
" Sudah ya sayang, mending sekarang kita tidur aja yuk. " Ajak sang suami sambil memapah sang istri ke tengah tempat tidur.
__ADS_1
Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.