Ustadzah,I Love You

Ustadzah,I Love You
Tamu Songong


__ADS_3

📞 " Mama mau nanya soal kamu. " Tegas mamanya.


📞 " Soal Bintang? Memangnya Bintang kenapa? " Bintang bingung.


📞 " Kamu kan sudah mau melamar anak gadis orang, kamu sendiri sebenarnya ada punya cewek enggak? " Tiba-tiba mamanya menanyakan hal tak terduga.


📞 " Kok mama nanya gitu? Memangnya ada apa? " Bintang bingung.


📞 " Jawab saja pertanyaan mama, jangan malah ikut nanya. " Mamanya sedikit kesal.


📞 " Iya ma maaf, Bintang berani sumpah demi apapun ma. Kalau Bintang tidak lagi dekat dengan perempuan manapun ma, kecuali Bulan. " Terang saja Bintang langsung menjawab jujur.


📞 " Kamu jujur kan sama mama? " Mamanya masih penuh selidik.


📞 " Ya ampun ma, kok enggak percaya banget sih sama Bintang. Memangnya ada apa? " Bintang penasaran.


📞 " Soalnya, barusan ada cewek kesini. Dan dia ngaku cewek kamu. " Jelas mamanya.


📞 " Cewek? Siapa ma? Kurang ajar sekali dia. " Bintang marah mendengar berita itu.


📞 " Dia Fanya Bin, temen kuliah kamu dulu. " Ucap mamanya.


📞 " Fanya? Kapan ma dia datangnya? Berani-beraninya dia itu ya? " Bintang semakin marah.


📞 " Tadi, sebelum mama telepon kamu. Dia tiba-tiba datang, dan sok akrab gitu sama mama. Memang waktu kalian dulu kuliah kan mama memang senang sama dia, tapi kan kalian cuma temen aja ngakunya. Dan tadi dia kesini itu bilang, kalau dia itu suka sama kamu. Dan dia minta tolong mama untuk bujuk kamu, memangnya kamu mau sama dia? " Jelas mamanya panjang sekali.


📞 " Astaghfirullah, Fanya, Fanya. Kamu kok sampai senekat ini. Ma, sebenarnya kemaren dia juga nemuin Bintang. Dia bilang kalau dia suka, terus dia mau kalau Bintang jadi pacar dia. Katanya sudah dari dulu dia suka sama Bintang, tapi Bintang tak pernah punya rasa itu ma. Bintang cuma nganggap dia selama ini ya cuma teman, enggak lebih. " Jelas Bintang juga.


📞 " Jadi begitu ceritanya, terus apa langkah kamu selanjutnya? Mama cuma takut, dia akan berbuat yang macam-macam. Soalnya mama lihat, sekarang dia sudah berubah. Bukan seperti Fanya yang mama kenal dulu. " Mamanya khawatir, kalau Fanya akan berbuat macam-macam.


📞 " Bintang hanya perlu waspada saja lah ma. Terus, mama tadi nanggapin dia gimana? " Bintang penasaran.


📞 " Mama hanya mencoba menjadi pendengar yang baik saja, dan mama bilang. Kalau urusan hati itu, tidak bisa di paksakan. Mungkin dia merasa kecewa, karena setelah itu dia pamit pulang. " Jelas mamanya.


📞 " Ya sudah kalau gitu ma, Bintang lanjut kerja dulu ya. Ngobrolnya nanti di lanjut di rumah saja. " Saran Bintang.


📞 " Okelah kalau gitu, mama tutup dulu ya. Assalamu'alaikum. " Oamit mamanya.

__ADS_1


📞 " Wa'alaikumussalam. " Bintang langsung menutup teleponnya.


" Fanya, kenapa kamu berubah sekarang? Aku lebih suka Fanya yang seperti dulu. Apa yang membuat kamu seperti ini? Kamu pakai acara datang ke rumah segala. Aaarrgggh. Pusing aku. Semoga kamu tidak bertindak yang lebih lanjut lagi ya. " Batin Bintang.


Tok, tok, tok.


Suara pintu ruangannya di ketok seseorang.


" Siapa? " Ucap Bintang.


" Saya pak, Niko. " Sahut Niko dari luar ruangan.


" Masuk. " Sahut Bintang.


" Permisi pak, maaf kalau saya ganggu. " Niko masuk.


" Ada apa Nik? Bukannya hari ini kita tidak ada meeting? " Ucap Bintang.


" Benar pak, hari ini memang tidak ada meeting. Tapi, ada sesuatu hal yang penting. Yang perlu saya beritahukan kepada bapak. " Niko sedikit panik.


" Itu pak, di depan gedung perusahaan ada seseorang yang mencari bapak. Dia marah-marah didepan, karena di larang satpam untuk masuk. " Jelas Niko.


" Siapa memangnya yang datang? " Bintang ikut cemas.


" Saya tidak kenal pak, dia seorang laki-laki. Dia teriak-teriak memanggil nama bapak. " Ucap Niko.


" Ya sudah kalau gitu, ayo kita lihat saja langsung. " Bintang beranjak dari meja kerjanya, dan keluar ruangan untuk menuju lift. Dan Niko mengekor dibelakangnya.


" Bapak yakin ingin menemuinya? " Niko khawatir akan terjadi sesuatu pada bosnya.


" Sudah, kamu tenang saja. Makanya kita lihat dulu, siapa sih orangnya. " Sahut Bintang.


Mereka berdua sudah keluar dari lift, dan bergegas menuju pintu keluar gedung.


Terlihatlah seorang laki-laki yang tampak sedang marah dan teriak-teriak, sedangkan beberapa satpam berusaha mencegah dia masuk.


" Ada apa ini? " Tegur Bintang setelah sampai disana.

__ADS_1


pok, pok, pok, pok, pria itu bertepuk tangan setelah bertemu Bintang.


" Akhirnya loe keluar juga ya bos, punya nyali juga loe. " Ucap pria itu.


" Maaf, kamu siapa ya? Kenapa membuat ribut di kantor saya, kalau ada masalah mari kita bicarakan baik-baik. " Bintang mencoba sabar menghadapi pria tersebut.


" Oooh, jadi loe yang namanya Bintang? Luar biasa. " Pria tersebut bukannya menjawab pertanyaan Bintang, akan tetapi malah mendorong tubuh Bintang.


Terang saja para satpam langsung memegangi pria tersebut.


" Lepasin gue, jangan beraninya main keroyokan loe. " Pria tersebut semakin marah dan teriak.


" Sudah, lepaskan saja dia. Makanya anda beritahu saya siapa anda sebenarnya, kalau anda marah-marah dan teriak-teriak seperti ini. Mana saya tahu, kalau anda tidak memperkenalkan diri. " Bintang masih santai menanggapinya.


" Oke, kenalin. Nama gue Ciko, gue kesini mau buat perhitungan sama loe. " Dengan songong Ciko memperkenalkan diri sambil menunjuk-nunjuk muka Bintang.


" Oke nama anda Ciko, dan anda kesini mau buat perhitungan. Perhitungan apa? Memangnya kita punya masalah? Seingat saya, saya tidak pernah bertemu dan mengenal anda sebelumnya. Jadi, bagaimana anda tahu-tahu datang mau buat perhitungan. Tolong jelaskan lebih jelas lagi. " Bintang bertanya dengan tegas.


" Loe beneran enggak tahu siapa gue hah, atau loe pura-pura aja. " Ciko teriak-teriak lagi.


" Astaghfirullah, maaf ya mas. Kalau anda datang cuma mau buat keributan, saya akan laporkan ke polisi mau? Kalau anda tidak mau itu terjadi, mari kita ngobrol dengan kepala dingin. " Bintang sudah mulai kesal dengan sikap Ciko.


" Ooh, jadi anda ngancam saya. " Ciko marah dengan ucapan Bintang, dan dia langsung menonjok wajah Bintang dengan keras. Para satpam pun lagsung memegang Ciko lagi, dan membawa sedikit menjauh dari bosnya.


" Pak Bintang berdarah bibirnya, ayo pak kita masuk saja. Biar bapak ini di urus para satpam. " Niko panik melihat keadaan Bintang.


" Kamu tenang saja Niko, ini bukan apa-apa. Saya masih ingin tahu, sebenarnya apa maksud orang ini. " Ucap Bintang menunjuk Ciko.


" Gimana? Sakit? Itu belum seberapa tahu, mau gue tambahin? Ayo sini maju. " Ciko berhasil lepas dari pegangan satpam.


Bintang hanya senyum saja melihat tingkah laku tamunya tersebut, sambil mengusap bibirnya yang berdarah.


Ciko menyerang Bintang lagi, namun kali ini Bintang berhasil menepis tangan Ciko. Bahkan Bintang memelintir tangan Ciko dan menguncinya.


" Aw aw aw, sakit woi. Lepasin enggak.....


Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.

__ADS_1


__ADS_2