
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Sindy meronta meminta di lepaskan, tapi beberapa pria itu hanya diam seolah tuli tak menghiraukan nya.
"Kalian pasti suruhan si gendut kan! bilang pada Bos kalian aku tidak takut pada dia" kesal Sindy.
Dan ya tidak ada sahutan, hal itu membuat Sindy kesal karena mereka mengabaikannya, padahal Sindy sudah mencoba berteriak.
Sindy mencoba tenang, dia yakin dia akan bisa bebas apapun caranya. dan meski dia harus mati setidaknya Sindy akan membawa anaknya bersama nya.
Dia tidak akan membiarkan anak nya menjadi seperti dirinya, lebih baik mati sejak dalam kandungan dari pada lahir dan hidup berantakan.
"Hey pria-pria bodoh, bilang pada Joy si gendut itu kalau aku sebenarnya ingin membuatnya kehilangan wajah cantik nya, aku belum puas jika melihat dia cantik aku ingin dia menjadi jelek" Sindy berkata dengan tawa nya.
Yuda dan ketiga anak buah nya itu saling melirik, ketiga nya merinding melihat Sindy yang terlihat seperti wanita gila.
Kenapa perusahaan X bisa memperkerjakan wanita gila seperti dia, seperti orang pintar sudah habis saja. batin Yuda.
Tak lama kemudian Willy dan Dad Lian datang, Sindy di bawa ke rumah tempat perkumpulan tangan kanan Willy.
Plakk !!
Tak banyak bicara Willy yang baru datang langsung memberikan tamparan keras di pipi Sindy.
Awww !
__ADS_1
Sindy meringis, dia tidak bisa mengusap pipi nya karena sekarang tangan nya di ikat.
"Dasar wanita gila, kau telah menyakiti istri ku dan sekarang giliran ku yang akan menyiksa mu" Willy menatap tajam pada Sindy.
Bukan nya takut Sindy malah tersenyum kecut.
"Wah pelet apa yang di berikan si gendut pada anda tuan William sehingga kolongmerat seperti kalian bisa seperduli itu pada wanita gendut itu" Sindy malah meledek Joy.
Baginya Joy sama sekali tidak pantas mendapatkan kebahagiaan seperti sekarang ini, Joy tidak pantas mendapatkan keluarga kaya yang mau menerima nya.
Kali ini tangan Willy menjambak rambut Sindy, tapi saat dia akan memberikan pukulan tangan nya di tahan oleh Dad Lian.
"Dia hamil, jangan mengotori tangan mu dengan memberikan pelajaran pada wanita itu" kata Dad Lian.
Yuda membisiki nya, dan Dad Lian cukup kaget karena wanita yang menyakiti menantunya itu sedang hamil, dan itu tandanya di perut Sindy ada satu kehidupan baru yang sedang berkembang.
Willy tidak akan puas sampai Sindy bisa menangis sakit seperti yang Joy lakukan di rumah sakit tadi, hati Willy sakit saat mendengar isakan pilu Joy.
"Joy pantas mendapatkan nya, aku bahkan berniat untuk menusuk perut nya yang besar itu dengan kater ku, haha dia akan mati di tangan ku" Sindy memanasi.
Ayo bunuh aku, dan setelah itu aku akan mati dengan damai tanpa harus pusing memikirkan makan dengan apa, hidup esok nya bagaimana dan yang lain nya, aku ingin mati saja. batin Sindy.
Tanpa mau mendengarkan ucapan Daddy nya Willy mencee*ik Sindy, kata-kata yang di ucapkan Sindy membuat dia semakin marah.
"Sebelum itu kau dulu yang mati di tangan ku!" geram Willy sambil mencee*ik Sindy.
Dan Lian melotot melihat itu, dia langsung melepaskan tangan putra nya, tapi karena tenaga Willy yang kuat membuat Dad Lian tidak bisa sehingga dia memilih memukul perut Willy.
__ADS_1
"Dad!" Willy melotot ke arah Daddy nya.
"Jika kau membunuh dia maka kau sama saja membunuh dua kehidupan, Mom adik mu dan Joy. pikirkan perasaan mereka jika tau kau membunuh dua nyawa." kata Dad Lian lagi.
Willy yang mendengar itu seketika tangan nya terlepas, dan Sindy dia bahkan sekarang kesusahan bernafas sehingga membuat Dad Lian panik.
"Bawa dia ke dokter, pastikan semua nya selesai tanpa melibatkan polisi" kata Dad Lian.
"Baik tuan" Yuda di bantu dengan teman-teman nya langsung membawa Sindy keluar dari ruangan itu.
Meninggalkan Dad Lian dan Willy yang sama-sama diam.
"Dad apa aku sudah jadi pembunuh?" tanya Willy.
"Entahlah, tapi melihat mu yang seperti itu aku merasa jika kau adalah putra ku" sahut Dad Lian.
Membuat Willy melirik Daddy nya dengan wajah kesalnya.
"Aku memang putra mu"
"Ya, putra ku tapi kau lebih mirip Rania, bukan aku"
"Mommy meninggal karena melahirkan ku, bagaimana kalau wanita gila itu mati?" Willy menjadi panik sendiri.
Dad Lian tidak menjawab dia terlihat sedang berpikir, Willy memiliki sifat pemarah seperti dirinya sehingga dia selalu merasa takut jika putra nya melakukan hal gila, dan itu sebab nya Dad Lian ikut dengan Willy dari pada menemani Joy karena dia tidak ingin hal seperti ini terjadi.
🌹
__ADS_1
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏