
Prolog
Alvino Mahendra
Putra pertama dari Monica Alexandra dan Alfian, putra sambung dari Kenzie Lucatu. Seorang lelaki tampan yang tumbuh dengan kemewahan yang memfasilitasi dirinya. Alvino bebas menginginkan apapun dan akan mendapatkan apapun yang ia mau. Monica dan Ken selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya apalagi setelah mereka semua beranjak dewasa sekarang. Tapi itu semua tidak menajdikan Alvino menjadi orang yang angkuh dan melakukan apapun dengan semena-mena.
Famela Lucatu
Anak kedua dari Monica dan anak pertama dari Ken. Seorang wanita yang selalu saja manja dan meminta perlindungan dari kakaknya, Alvino. Gadis tangguh namun terkadang sangat menyebalkan. Meskipun begitu, Famela selalu mendapatkan cinta yang lebih terutama dari sang daddy.
Samuel Lucatu
Anak ke tiga dari Monica dan anak kedua dari Ken, lelaki yang lahirnya 5 menit lebih lambat dari Famela. Yaa, Samuel adalah saudara kembar Famela. Sam terkenal cukup tampan dan juga berkharisma. Setiap wanita yang melihat lelaki itu pasti tergila-gila dan rela melakukan apapun demi bisa bersama seorang Sam. Karena kesempurnaan yang ia miliki, lelaki itu tumbuh dengan segala pesona yang menjadikannya seorang playboy. Sam selalu hidup hedon dibanding kakaknya dan Sam selalu berganti-ganti wanita.
Cast pendukung ⬇️
Rose Hitler : Putri Emily, adiknya Ken.
Steve : Adik Rose. Putra Emily dan juga Johan.
Kita mulai sequel ini ya gaes, semoga kalian sukak. Untuk Visual foto nanti menyusul.
*
z
z
*
__ADS_1
Happy Reading...
*
z
z
*
Sudah tiga tahun Alvino hidup sendirian di kota A. Setelah mengenyam pendidikan di universitas terbaik dikota itu, Alvino enggan pulang dan memilih menetap dikota itu.
Hingga akhirnya Alvino di hadiahi Ken sebuah perusahaan di kota A, dan dia sukses membuktikan bahwa dia mampu memimpin perusahaan itu. Sudah hampir dua tahun Alvino memimpin perusahaan dan karirnya cukup gemilang dan mampu membuat Monica dan Ken bangga. Alvino kini sudah beranjak dewasa. Bocah kecil itu kini berusia 25 tahun dan terbilang cukup sukses di usianya yang masih muda.
"Aku sibuk mam, mungkin minggu depan aku akan kesana." Alvino mengapit ponsel diantara bahu dan telinganya sambil sibuk memakai jam tangan. Menjawab telpon dari sang mami yang tidak lain adalah Monica.
"Oh mam, please.. Satu minggu itu hanya sebentar bukan?" Alvino jengah. Ibunya itu selalu saja risih dan menganggapnya masih anak kecil. Selalu meminta Alvino ada disampingnya.
"Oke, hanya satu minggu. Jika kamu tidak datang mami akan kesana tanpa memberitahumu lagi."
"Iya mam okay, see you.." Alvino segera menjurus ke ujung pembicaraan. Ingin segera menutup telpon itu karena hari ini dirinya terlambat menuju kantor.
"See you."
Setelah telpon itu ditutup Alvino segera berjalan keluar kamar dan saat membuka pintu ia langsung mendapati James sudah berdiri didepan pintu.
"Selamat pagi, tuan." Sapa James, sekretaris pribadi Alvino.
"Sejak kapan kau berdiri disini?" Alvino menatap orang yang paling setia berdiri dibelakangnya itu
__ADS_1
"Tiga puluh menit, tuan." ujar James sambil menundukan kepala.
"Kau sudah bersamaku bertahun-tahun, jangan se-kaku itu James. Anggap aku teman." Alvino menepuk bahu James pelan.
"Meeting akan berlangsung 20 menit lagi tuan, kita harus segera bergegas menuju kantor." James malah mengalihkan pembicaraan tuannya. Bahkan tidak berani mengangkat kepala sedikit saja, James mengikuti protokol aturan para bodyguard Ken.
"Baiklah.. kita berangkat sekarang."
Sudah dikantor..
Alvino baru selesai meeting dan bergulat dengan setumpuk file dihadapannya. Lelaki itu sedang mengejar target untuk mendapatkan tender besar yang akan sangat menguntungkan bagi perusahaan. "James, tolong bawakan aku kopi panas. Kepalaku rasanya mau pecah." Alvino menjatuhkan tubuhnya ke belakang sandaran kursi putar sambil menghembuskan nafas lelahnya.
"Baik Tuan." James langsung bergerak memenuhi perintah tuannya dan beberapa menit kemudian James sudah kembali dengan secangkir kopi yang Alvino minta.
"Sepertinya Anda bekerja terlalu keras, Tuan. Anda perlu istirahat dan hiburan." Ujar James yang melihat tuan mudanya sangat lelah sekali, setiap hari lelaki itu hanya berkutik dengan pekerjaan, tidak pernah memikirkan hal yang lain termasuk tentang wanita.
"Apa yang kau katakan James? ini tanggung jawabku." Alvino menyesap kopi itu dengan hati-hati.
"Anda harus memiliki mood booster agar selalu semangat dan tidak mudah lelah." James menatap Alvino lagi.
"Kau selalu saja berbelit-belit. Tidak bisakah langsung mengatakan inti pembicaraanmu?" Alvino menyesap kopi itu lagi dan lagi, berharap ke-peningan dalam kepalanya sedikit berkurang.
"Wanita.. Anda perlu seorang wanita untuk mengisi hidup Anda yang hanya tentang pekerjaan, Tuan. Lupakan sejenak pekerjaan yang rumit ini dan bersenang-senanglah." James mulai mencuci otak Alvino yang memang awam soal wanita. Bahkan kabarnya Alvino masih perjaka sampai detik ini.
"Maksutmu memiliki kekasih?" tanya Alvino sambil menarik ujung bibir, kemudian menggeleng pelan dan kembali menatap layar dan tumpukan berkas.
"Nanti malam saya akan buat pesta khusus untuk Anda."
James memang bekerja dengan Alvino sejak Alvino masih remaja. James selalu ada disamping Alvino layaknya teman. James ditugaskan oleh Ken untuk selalu memastikan apapun berjalan sebagai mana mestinya untuk Alvino. Menjaga dan melindungi Alvino dari apapun yang membahayakan, juga, memastikan bahwa Alvino selalu senang dan bahagia. Maka dari itu, James berinisiatif untuk membuat sebuah pesta khusus untuk Alvino malam ini.
__ADS_1