Wanita Pekerja Malam

Wanita Pekerja Malam
Rindu


__ADS_3

Esok hari..


Ken membawa Monica ke rumahnya, rumah yang sebetulnya bukan rumah bagi Ken. Ia bisa singgah dimanapun dan kapanpun ia mau. Tapi disinilah.. disini semua tentang Ken terekam saat dirinya belum seperti sekarang. Saat ayah masih ada, ibu juga, dan adik perempuan Ken. Kenangan Ken sejak kecil ada ditempat ini..


Monica terperangah saat mobil yang ia tumpangi bersama Ken memasuki sebuah halaman. Rumah bercat putih yang sangat besar dan mewah.


"Ini rumahmu?" Monica bertanya-tanya. Mirip ibu yang kemarin terpaku saat melihat rumah baru mereka.


Dan Ken hanya mengangguk. Kemudian mereka berdua turun dari mobil. Terlihat pintu utama terbuka berbarengan dengan pelayan yang keluar dari sana. Ken dan Monica mulai berjalan masuk.


"Selamat datang, tuan.. nona..." pelayan itu menyapa dan membungkukan sedikit tubuhnya.


"Kau masih hidup ternyata." ujar Ken sambil menepuk pundak pelayan yang memang sudah berumur itu.


"Ahaha.. Lama tidak berjumpa, tuan.. Akhirnya tuan kembali setelah sekian lama.." pelayan itu nampak bergurau dengan Ken. Tapi apa maksudnya kembali setelah sekian lama? "Apa dia nona Emily, tuan?" tanya pelayan itu.


"Hushh!! apa yang kau katakan!! Dia wanitaku!!" Ken buru-buru meralat ucapan si pelayan.


Emily? siapa dia? apaaaa kekasih Ken sebelumnya? Dan Ken.. sepertinya akrab sekali dengan orang itu. Bathin Monica.


"Kenalkan.. Namaku Monica.." Monica mengulurkan tangan untuk berjabat.


"Eh.. maaf nona.. saya kiraaaaa......"


"Siapkan kamar utama!!" ucap Ken memotong ucapan pelayan sambil menarik tangan Monica yang akan berjabat tadi.


"Baik tuan.."


Detik selanjutnya Ken dan Monica masuk. Ruangan itu rasanya dingin sekali. Mungkin benar ketika ada pepatah yang mengatakan "Nyawa sebuah rumah adalah penghuninya..". Rumah sebesar ini hanya ditempati oleh Ken sendirian, dan Ken juga jarang pulang kerumah ini.


"Kau ingin tahu tentang diriku kan? mari kita mulai dari sini.." ucap Ken.


"Do u really live here alone?" tanya Monica. Mana mungkin rumah sebesar ini...


"No.. I'm not alone. many workers who live here, take care of this house when I'm not here." tutur Ken sambil beranjak menuju tangga dan menapakinya satu-persatu. "Ayo, kau ingin lihat kamarku?"


Monica masih menganga tapi mengangguk juga.

__ADS_1


"Aku jarang pulang kerumah ini, even in one year I can count it with a count of my finger." Ken menjelaskan lagi, seperti seorang guide yang memandu disebuah museum.


"Kenapa kau jarang pulang? jika kau tidak pulang kesini, lalu.. kau pulang kemana?!" Tanya Monica. Mana mungkin dia jarang pulang dan membiarkan para pekerja untuk tetap tinggal dan mengurusi rumahnya. Buang-buang uang saja!! Tapi apalah arti uang bagi Ken. Pria itu menghabiskan uang seperti menghabiskan sekotak cokelat.


"Aku mempertahankan rumah ini hanya karena ayah, karena cuma disini ribuan jejak kisah kami terukir. Aku datang kemari hanya untuk perayaan hari-hari tertentu." jawab Ken.


Perayaan? maksutmu pesta?


Krekk!! sebuah pintu kamar dibuka.


"Ini dia.. my old room.." ucap Ken sambil mempersilahkan Monica masuk.


Kamar yang cukup luas dan dengan segala kemewahan yang ada. Tidak ada kata yang mampu mewakilkan perasaan takjub Monica saat ini.


Semewah ini dan dia mengabaikannya? Monica menggeleng pelan.


Detik selanjutnya mata Monica tertuju pada sebuah potret didinding. Terlihat seorang bocah laki-laki kecil sedang berbagi cupcakes dengan bocah perempuan disampingnya. Senyum lima jari dengan seekor anjing cokelat ditengah mereka.


Monica menatap lekat dan menyentuh dengan jarinya.


"It's me.. with little Emily.." ucap Ken.


"Adik perempuanku." jawab Ken.


Owh.. jadi Nona Emily yang disebut pelayan tadi adalah adik perempuanya.. Gumam Monica. Ternyata meskipun dia membenci adiknya, ia tetap menaruh foto ini dikamarnya..


"How cute u two.." ucap Monica sambil tersenyum. "Apa kau tidak merindukannya?" tanya Monica. Seingatnya, Ken pernah bercerita mereka terakhir bertemu adalah saat ayah Ken meninggal.


Ken hanya menggelengkan kepala.


"And who is this?" tanya Monica saat melihat potret lain. Seorang pria berjas hitam yang berdiri dengan gagahnya. "Hmm..biar kutebak." ucap Monica lagi.


"Lets guess it.. if you're right you will get a prize." ucap Ken sambil melangkah mendekati Monica, kemudian memeluknya dari belakang.


"Dia pasti mendiang ayahmu kan.." ujar Monica, ia dengan begitu mudah menebaknya karena postur orang itu tidak jauh berbeda dengan Ken. "Kau mewarisi ketampanan dia ternyata." tambahnya.


Ahehe.. Ken hanya tersenyum kecil sambil membenamkan wajahnya dipundak Monica. Membuat Monica ikut tertawa karena geli.

__ADS_1


Mata Monica kemudian menyapu ruangan itu lagi, Tapi, dari sekian banyak foto disana.. Monica tidak menemukan satu potretpun yang menggambarkan ibu Ken. Apa dia begitu membencinya?


Biarlah... Monica tidak ingin bertanya dulu. Ia takut mengganggu suasana hati Ken. Yang terpenting ia bisa mengenal Ken lebih dalam dan dalam lagi.


Monica kemudian duduk disofa, ia juga menemukan sebuah album foto disana. Ken sepertinya sangat menyayangi ayah dan Emily. Terlihat dari banyaknya foto yang dia simpan dengan rapi. Tapi lagi-lagi tidak ada potret seorang ibu disana.


"Hahaha apa ini dirimu Ken?" tanya Monica saat menunjuk sebuah foto yang menggambarkan Ken kecil sedang tertidur dilantai.


"Yeah.. when I was little, I liked to fall asleep anywhere. when I was sleepy and my father always enshrined it." jawab Ken sambil ikut tersenyum melihat foto masa kecilnya.


Uuuuu..Manisnya... Sepertinya ayah dan Ken sangat dekat sekali.


Monica kemudian menunjuk beberapa foto dan Ken lagi-lagi menjelaskan tentang bagaimana foto itu diambil. Dari raut wajah Ken, Monica bisa menyimpulkan bahwa sesunguhnya Ken merindukan kehangatan sebuah keluarga. Semakin jelas ketika Monica selalu menunjuk foto Emily, memaksa Ken untuk bercerita tentang itu juga. Dan lagi-lagi Monica melihat gurat kerinduan dari seorang kakak untuk adiknya.


"Do u miss her?" tanya Monica sambil menatap Ken.


Dan Ken hanya menggelengkan kepala. Tapi sorot matanya tidak bisa berbohong.


"Apa kau begitu membenci ibu dan Emily? tapi mereka keluargamu, Ken. Kau merindukannya.. aku tahu itu." ucap Monica. Ingin membongkar apa yang hati Ken sembunyikan.


"Jangan membahas ini Monica!" ucap Ken dengan tegas.


"Katakan kau merindukannya, bukan? jelas-jelas matamu mengatakan itu."


Dan Ken malah berdiri. Tangannya terlihat mengepal.


"Kau sudah berjanji kemarin.." ucap Monica sambil meraih tangan Ken. "Kau berjanji akan menjadi manusia normal dengan hatimu yang hangat itu.." ujar Monica.


"Tapi tidak untuk ini Monica!! kebencianku kepada mereka sudah mendarah daging!!"


"Bohong!! jelas-jelas kau merindukan Emily."


"Monica!! Cukup!!"


"Tidak perlu marah, Ken. Cukup rasakan hatimu yang hangat itu.. Biar hatimu berbicara.. Dulu kau mengatakan membenci kaum wanita, tapi sekarang kau mencintaiku kan? Artinya kau juga bisa melupakan kebencianmu terhadap Ibu dan Emily.."


Ahaaaa.. Monica menemukan sebuah peluang untuk mengubah Ken. Membuatnya seperti manusia normal dan mematahkan kebenciannya. Monica akan berusaha untuk itu**!

__ADS_1


***


__ADS_2