Wanita Pekerja Malam

Wanita Pekerja Malam
SECRET


__ADS_3

Setelah Monica menerima panggilan darinya, akhirnya Ken benar-benar menemukan titik keberadaan Monica dengan akurat dengan segala kecanggihan dan kemampuannya. Tanpa menunggu lama lagi, lelaki itu langsung menuju tempat dimana Monica berada.


"Lebih cepat!" perintahnya kepada Alex yang sedang mengemudi.


Ken benar-benar gusar. Ia sudah mengetahui keberadaan Monica yang ternyata ada disebuah rumah sakit. Ia merasa tidak tenang karena belum melihat keadaan Monica dengan mata kepalanya sendiri. Apalagi terakhir kali Ken mendengar wanita itu meringis kesakitan, juga ada suara seorang pria disana.


"Cepat! Lebih cepat lagi!" Ken berulang kali melihat arloji yang melingkar ditangannya. Sudah 5 menit perjalan dan mereka belum sampai juga.


Pakek pintu kemana saja milik Doraemon sana!!


"Ini sudah kecepatan paling tinggi, mister."


"Buang mobil ini dan ganti yang baru. Aku tidak suka mobil yang lambat."


Jih, sultan mah bebas. Mending buat Author aja, mister.😁


Bukan karena mobilnya yang lambat, tapi karena ia yang sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan wanitanya. Alex hanya menggeleng kepala saat melihat tingkah boss nya, jika berurusan soal Monica terkadang boss nya itu menjadi tidak waras.


Tibalah mereka ditempat tujuan.


Burg!! Ken membanting pintu mobil kuat-kuat. Langsung berlari masuk dan mencari ruangan Monica. Membuat Alex buru-buru mengimbangi langkahnya


"Sebentar Mister, saya akan tanyakan ruangan nona."


Ck!! Ken berkacak pinggang.


"Ruangan 208."


Ken langsung melebarkan langkahnya, buru-buru menuju ruangan itu.


Brak!! pintu itu didorong seseukanya. "Monica.. sayangku... kau baik-baik saja.." Ken merentangkan tangan dan berjalan menuju Monica. Ia langsung menghambur memeluknya. "Sayaaaaaaang..." Ken memeluknya dalam dan menghirup aroma tubuh Monica, kemudian melepaskan nafas beratnya. Ia merasa sedikit lega sekarang.


"Uhuk.. Ken.. uhuk.. uhuk.." Monica mencoba melepaskan diri dari pelukan Ken yang sangat kuat, pelukan itu seperti cengkraman yang akan meremukan tulang-tulang didalam tubuh kecilnya. "Lepas, Ken. kau ingin aku mati?"


"Aku mengkhawatirkanmu.. apa yang terjadi? apa kau baikk-baik saja? dimana dokternya? ALex!!!" Ken tidak bisa berhenti. "Panggil dokter, cepat!!!"


Alex langsung mengangguk dan langsung memanggil dokter.

__ADS_1


"Stop, Ken. tidak perlu berlebihan. seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."


"Jangan berbohong, sayang. Malam itu kau meringis dan bahkan aku masih mengingatnya sampai sekarang."


Tak lama kemudian Alex kembali keruangan itu dengan seorang dokter disampingnya. Alex bernafas lega karena dokter yang memeriksa Nona nya adalah seorang wanita. Bisa panjang urusan jika dokternya adalah laki-laki.


"Permisi, tuan.. nona.."


"Haa..dokter.... katakan.. apa yang sebenarnya terjadi?" Ken berdiri dan menatap dokter.


"Bukan hal yang serius, tuan. Istri anda hanya sedikit lelah.." ujar dokter itu.


Dokter itu tidak mengatakan yang sesungguhnya karena Monica sudah mewanti-wantinya untuk tutup mulut. Ia berdalih akan memberikan kejutan pada suaminya dirumah. Cih, suami. Memangnya siapa suaminya?


"Istri?... hm.. yaa.. dia istriku." Ken berbohong. "kalau begitu, terimaksih sudah merawat istriku, kau akan mendapatkan hadiah untuk ini." tambahnya.


Kemudian Ken memberikan kode kepada Alex dan dengan sigap Alex menulis sebuah cek untuk dokter tersebut.


"Tuan apa anda benar-benar...." Dokter itu melongo menatap cek dengan deretan angka yang fantastis


"Terima kasih, tuan.. nona" Dokter itu menundukan kepalanya. "Semoga kalian bahagia selalu." tambahnya.


Detik selanjutnya dokter itu akhirnya pergi, disusul dengan Alex yang juga meninggalkan ruangan tersebut. Kini hanya tersisa Monica dan Ken.


"Aku ingin pulang." ucap Monica.


"Tentu kita akan pulang, sayang. Tapi bisakah kau menjawab satu pertanyaanku?"


"Apa? tanyakan saja."


"Siapa pria yang bersamamu malam itu?"


Aaaaaaa... aku harus menjawab apa!!!


"D-dia.. dia satpam supermarket, malam itu aku sedang dibasement supermarket. Dia mendengar aku berteriak, jadi dia menolongku." jawab Monica mengarang.


"Bohong! kau berbohong Monica! jelas-jelas pria itu menyebut namamu!" Bathin Ken. Tapi Ken harus menahan diri, ia tidak mau membuat Monica ketakutan lagi. Lebih baik ia mengaku percaya dan mencari tahunya sendiri.

__ADS_1


"Baiklah, sayang.. Mari kita pulang." ajak Ken.


Ken akhirnya bernafas semakin lega saat sudah berhasil membawa Monica pulang. Perasaanya sungguh kacau saat mengetahui Monica hilang semalam. Ia sudah benar-benar menggilai Monica.


***


Rumah baru Monica.


Setelah selesai mengantar Ken dan Monica, Alex diam-diam kembali ke klinik itu. Untuk melihat rekaman cctv, mencari tahu siapa orang yang bersama Monica malam itu tanpa sepengetahuan Monica.


Ken benar-benar menyesal membiarkan Monica melihat rekaman bagaimana ia menghukum dua tikus menjijikan itu. Gara-gara rekaman itulah Monica merasa ketakutan dan hampir pergi dari sampingnya. Tidak! ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia bersumpah tidak akan memperlihatkan sisi yang lain dalam dirinya lagi.


"Aku ingin bersitirahat.. tinggalkan aku sendiri.." ucap Monica.


"Beristirahatlah, sayang. Aku tidak akan mengganggumu."


"Aku ingin sendiri, Ken.."


"Kenapa seperti itu? apa kau merasa takut padaku sekarang?"


Bukaaaan... aku hanya benar-benar ingin sendiri. Aku butuh waktu untuk berfikir. Memikirkan segalanya!! Memikirkan kau, ibu, Alvino, dan dia.. Janin yang ada didalam perutku.


Monica memutuskan untuk merahasiakan tentang ini, termasuk kepada Ken. Kenapa ia bisa ceroboh melupakan tanggal konsultasinya bersama dokter kandungan. Sejak kapan? bahkan Monica lupa. Yang jelas seingatnya, ia terakhir berkonsultasi setelah dirinya diculik Alfian. Dan waktu itu, Ken sendiri yang menemaninya ke rumah sakit.


"Ya!! kau menghukum mereka begitu kejam, sangat tidak manusiawi. Kau bahkan menghukum wanita itu juga. Memangnya apa salah dia sampai dia ikut terkena hukumanmu?" Monica berdalih. Lebih baik dia membahas masalah ini daripada harus ketahuan sedang hamil. Lagipula ia juga memang ingin tahu apa sebenarnya kesalahan Chyntia.


"Itu hanya hukuman kecil, Monica. Mereka pantas untuk mendapatkan itu. Bahkan hukuman kemarin belum cukup untuk membayar semua kesalahan mereka."


"Tapi dia wanita, Ken. sama sepertiku.. Apa kau masih membenci kaum wanita? hah.. akujuga wanita, Ken. Apa kau juga membenciku? apa kau juga akan menghukumku seperti itu jika aku melakukan kesalahan?"


Ken beringsut. Ia langsung menatap Monica dengan tajam. "Jangan samakan dirimu dengan wanita j a l a n g itu!! Kau tidak seperti dia dan dia tidak sepertimu!!" Ken mendengkus kesal.


"Akulah wanita j a l a n g, Ken. Apa kau lupa bahwa aku adalah seorang pela.....


"Tutup mulutmu!!" Ken semakin marah.


Ayoo.. kau akan berkata apalagi?

__ADS_1


__ADS_2