Wanita Pekerja Malam

Wanita Pekerja Malam
Keinginan Fam


__ADS_3

Rumah bak istana milik Ken kini hanya ditempati Ken, Monica dan Fam. Beserta para pekerja yang menghuni rumah belakang. Rumah itu tampak kembali sepi apalagi saat anak-anak mulai tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Ditambah kepergian Isabella beberapa tahun yang lalu, menambah kesan sepi rumah itu semakin meningkat.


"Kenapa aku tidak diizinkan tinggal sendiri seperti Sam dan Kak Alvino, mam? ini tidak adil!!" Famela merajuk saat dirinya tidak diberi izin untuk tinggal di kota yang sama dengan Alvino. "Aku sudah dewasa mam, usiaku 20 tahun sekarang!"


Monica hanya mengulum senyuman lebar saat putri yang dimatanya tetap seperti anak kecil meskipun sudah dewasa itu. Bagi Monica, sampai kapanpun Famela akan tetap menajadi princess yang selalu meminta gaun baru seperti kebiasannya dulu. "Jika anak-anak mami semuanya pergi, lalu siapa yang akan menemani mami?" tanya Monica.


"Itu pertanyaan yang sangat menyebalkan, mam. Kau bisa ikut kemanapun daddy pergi.. Anggap saja itu traveling untuk memutar kembali masa muda kalian.. Lagi pula daddy akhir-akhir ini sering dirumah, so mami bisa berduaan terus kan. Atau kalian bisa stay vacation. Please mam, akujuga ingin hidup mandiri.." Famela masih merajuk sambil menggengam tangan ibunya.


"Mami gak bisa hidup tanpa kalian semua, Fam. Mami akan sangat kesepian jika kalian semua pergi." Monica masih santai menanggapi permintaan putri semata wayangnya itu.


"Kenapa mami pilih aku yang tinggal disini, kenapa bukan Sam? aku kakaknya Sam, jadi harusnya aku yang diperbolehkan tinggal di kota A seperti kak Alvino." Gadis itu kini melipat tangan di dada dengan wajah yang ditekuk dan bibir yang mengerucut, begitu kesal karena menurutnya Monica sudah pilih kasih.


"Baiklah.. Kau boleh tinggal di kota A seperti kakakmu Alvino." Monica menatap Famela sambil memberikan senyuman.


"Really? AaaaAaaa... thx u mam." Wajah yang ditekuk malas itu tiba-tiba langsung berbinar. Bahkan langsung menghambur memeluk Monica dan menghadiahi Monica dengan kecupan diwajahnya.


"Tapi, kau sendiri yang minta izin pada daddy."


"Mamiii..." Famela kembali merengek. Akan lebih sulit jika dirinya harus meminta izin kepada Ken. Hiksss..


Famela kemudian kembali kekamar dengan penuh kekecewaan. Sudah sekian kali dirinya meminta izin untuk mengikuti langkah Alvino. Namun lagi-lagi Monica selalu melarangnya.


Famela menjatuhkan diri ke atas kasur tanpa tenaga. Lalu segera meraih ponsel untuk memposting status dimedia sosialnya.


"😭😭😭" hanya itu yang Famela pajang di media sosialnya. Namun siapa sangka, satu menit kemudian puluhan pesan langsung masuk menanggapi status yang ia pasang. Lihatlah bagaimana si manja yang selalu mendapat perhatian dan cinta dari semua orang disekelilingnya.


Rose 🌹


📱Ada apa Fam? kenapa menangis?

__ADS_1


Aku ingin kuliah bersama kak Alvino di kota A 😭


📱Masih belum mendapat izin uncle Ken?


Sampai kapanpun dady tidak akan mengabulkan keinginanku yang ini 😭


📱Don't cry.. Aku akan ke rumah mu sekarang, kita akan menemukan cara.


Big brother


📱Kenapa menangis gadis manis?


B**antu bujuk dady agar aku tinggal disana bersamamu, ku mohon 😭


📱Hahaha.. Dady tidak akan setuju meskipun aku yang meminta itu Fam. Sudahlah, kau bisa berkunjung kemari jika mau.


Kau jahat! aku serius, jangan tertawa.


📱**Yang kau tahu hanya menangis sepanjang waktu. Dasar gadis cengeng 😛


Shut up stupid!! 😠


📱Look at this 📩


Dari semua pesan yang ia terima, selalu saja pesan dari Sam yang menyebalkan. Adiknya itu selalu mengejek dan mengolok-ngolok dirinya. Bahkan sering juga mengirim gambar bagaimana ia bersenang-senang diluar sana.


"Menyebalkan sekali!!" Fam melempar ponselnya saat membuka pesan gambar yang dikirim oleh Sam. "God help me please." Fam memeluk boneka kesayangannya sambil menyembunyikan wajah itu disana.


Krek!! pintu kamar Fam terbuka. Namun sedikitpun Fam enggan melihat siapa yang masuk.

__ADS_1


"What happen my little girl." Suara seorang lelaki itu sangat khas, dan siapa lagi kalo bukan Ken. Pintu itu terdengar ditutup kembali dan langkah kaki Ken semakin lama semakin terdengar jelas. "Heey.." Ken duduk disamping Fam yang sedang bersembunyi dibalik boneka kesayangan miliknya.


"Stop memanggilku little girl, dad. Aku sudah besar!" Gadis itu merajuk dari tempat persembunyiannya.


"Hehe.." Ken hanya mengulum senyuman lebar saat putrinya selalu merajuk seperti itu. "Katakan, kenapa kau menangis?"


"Daddy tidak perlu tau, toh daddy tidak akan pernah mengabulkan keinginanku kan."


"Bagaimana aku bisa tahu jika kau tidak mengatakannya?" Ken berujar seolah tidak tahu apa-apa, padahal Monica sudah memberi tahu bahwa gadis kecilnya itu merajuk karena apa.


"Dad, please. Aku ingin seperti kak Alvino dan Sam. Itusaja." Kali ini Fam keluar dari persembunyiannya dan membiarkan wajah kusut itu ditatap oleh Ken.


"Apa kau benar-benar menginginkan itu?" Ken mengusap wajah Fam sambil merapihkan anak rambut Fam yang berantakan.


"Please." Fam mengatupkan tangan memohon kepada ayahnya.


"Berapa usiamu sekarang?"


"Dua puluh."


"Kalau kau ingin seperti Alvino, sure why not." Ken memberikan senyuman untuk gadis kecilnya. "Kau akan kesana saat usiamu dua puluh dua tahun. Saat usiamu sama seperti Alvino yang pertama kali tinggal disana."


"Dad, tapi Sam? usia dia sama denganku bahkan aku lebih tua lima menit darinya." Fam kembali merajuk, terus memaksa dengan segala cara agar keinginannya dikabulkan.


"Kau bilang ingin seperti Alvino dan aku sudah mengabulkannya." Ken mencetuskan ultimatumnya dan beranjak dari kasur Fam. Sudah bosan dengan rengekan gadis kecilnya yang selalu minta tinggal jauh seperti kakaknya. Ken dan Monica hanya belajar dari pengalaman hidup saat mereka belum menikah.


"Dad.. kau tidak adil!" hiks.. Fam benar-benar menangis kali ini. Sudah kehabisan kata untuk meminta keinginan itu agar terkabul.


"Aku sudah memberikan penawaran, jangan mendebatku!" Bugh!! Ken benar-benar pergi dari kamar Fam dan sampai membanting pintu.

__ADS_1


Huwaagh!! Fam semakin menangis menjadi-jadi. Melempar apapun yang ada dihadapanya.


"Jika tidak diizinkan, aku akan pergi tanpa izin!" teriak Fam disela tangisan.


__ADS_2