Wanita Pekerja Malam

Wanita Pekerja Malam
Ibu


__ADS_3

Monica sedang berada dirumah lama, menemui Isabella dan juga putranya__Alvino. Memberi kabar bahwa mereka punya rumah baru dan mereka akan pindah kerumah itu hari itujuga.


"Apa kita sungguh-sungguh akan meninggalkan rumah ini Mon?" ibu baru selesai packing pakaian, ia duduk disamping Monica sambil menilik sudut-sudut ruangan. "Rumah ini meskipun kecil, tapi semua kenangan kita ada dirumah ini." ibu nampak menghela nafas.


"Yang terpenting kenangan itu tidak pernah hilang dari pikiran dan hati kita bu, aku ingin ibu hidup lebih layak di masa tua." ucap Monica menimpali.


"Ibu jadi ingat saat pertama kali kita pindah kerumah ini.. Saat kita memulai kisah baru kita bertiga disini.. Tanpa ayahmu dan tanpa suamimu.. Hanya ada kita dan tangisan nyaring Alvino setiap malam.." Ada senyum getir diwajah ibu, sepertinya ibu sedang merindukan ayah.


Monica semakin lekat memandangi wajah ibu, wanita yang tidak lagi muda yang selalu ada disampingnya. Wanita yang selalu berdiri paling depan membela Monica saat dirinya melakukan kesalahan dan menghadapi hukuman ayah.


Monica langsung memeluk ibu, Merengkuhnya cukup dalam. Betapa ia merasa sangat berdosa jika ibu tahu tentang segalanya, tentang bagaimana ayah menjemput kematiannya. Hikss... Bahkan Monica juga tidak sanggup untuk sekedar membayangkan.


"Aku ingin ibu hidup lebih baik, aku ingin ibu bahagia.. Maaf untuk segala kesalahanku yang selalu memberatkan pundak ibu.." Monica masih memeluk ibu.


Ehehe.. ibu hanya tersenyum kecil sambil mengelus pundak Monica. "Melihat kau dan Alvino tersenyum, mendengar tawa kalian sudah cukup membuat ibu bahagia, Mon.." ibu berujar dengan senyuman tulusnya.


Aku bersumpah untuk terus membuatmu tersenyum bahagia bu.. Setidaknya untuk menebus bencana yang telah aku hadirkan dalam keluarga kita.. Bathin Monica.


***


Detik selanjutnya mereka bertiga, Alvino, Ibu dan Monica, tiba dirumah baru mereka. Betapa ibu sangat tertegun melihat istana mewah yang katanya kini menjadi tempat tinggal mereka. Berkali-kali lipat dari tempat tinggal sebelumnya, bahkan melebihi rumah saat ibu dan ayah masih bersama.

__ADS_1


Beberapa asisten yang sudah disiapkan terlihat membantu membawa koper-koper milik majikannya, membawa masuk koper dan melewati siempunya yang masih terpukau.


"Ini sungguh-sungguh rumahmu, Mon?" tanya ibu masih tidak percaya.


"Bukan rumahku, bu. Ini adalah rumah kita.." ucap Monica sambil tersenyum. "Ayo sayang.. biar mami tunjukan kamarmu." Tambah Monica sambil menuntun Alvino.


Dan Monica berlalu dari lantai utama itu, menunjukan kamar baru Alvino yang sudah siap dengan berbagai mainan mahal yang ia beli bersama Ken. Dan saat memasuki ruangan itu, Alvino tampak berlari antusias. "Do u like it, my sweetheart?" tanya Monica sambil tersenyum melihat tingkah putranya.


"Wohooo.. Lihat ini, mamii.. Mainan yang sangat kuinginkan!! Ini juga, ini juga!! Wow." Alvino terlihat excited sambil meraih mainan-mainan disana. Alvino kemudian berlari kearah Monica. "Thxyou, mamii.." Alvino tidak lupa memeluk Monica dan berterima kasih. Manis sekali..


"Do u happy, darling?"


"Sangat, sangat, sangat bahagia.." senyum Alvino bahkan semakin merekah.


Monica kemudian kembali kelantai utama, tempat dimana sepertinya ibu masih terpukau dan bertanya-tanya tentang realita ini. Dan benar saja, ibu masih berdiri dan room tour disana.


"Ibu.." Panggil Monica. "Mari kutunjukan kamar ibu." tambahnya.


"Monica.. sesungguhnya pria seperti apa yang kau kencani? kau tidak habis menjual ginjalmu kan?" tanya ibu tanpa mengalihkan pandangan dari hiasan-hiasan yang terlihat uwwu sekali.


Hahaha.. Monica hanya tertawa kecil sambil menghampiri ibu. "Tidak, bu. Ini semua Ken yang berikan.. ibu ingat? pria yang membawa Alvino pulang setelah menghilang?" Monica berujar, mulai bercerita sedikit demi sedikit tentang lelaki yang kini mengisi hatinya.

__ADS_1


"Aaahh.. pria itu.." Ibu mengangguk-ngangguk. "Sepertinya dia bukan orang biasa." tambah ibu menerka-nerka.


"Ibu pasti mengenalnya, dan ibu pasti pernah bertemu dengannya dulu." Monica coba memberikan clue.


"Kami pernah bertemu? bagaimana mungkin?" Ibu mencebik tidak percaya.


"Dia adalah...... penerus Lucatu." ucap Monica jujur. Ia rasa ini sudah saatnya membuka tentang Ken kepada Ibu.


"Lucatu?" Ibu terlihat kaget dan langsung menatap Monica.


Jeng..Jeng..Jeng..!!!!


****


Hallo para pembaca Wanita pekerja malam. Terimakasih untuk apresiasi kalian yang setia membaca dan berkomentar tentang novel ini.


Author senang kalian banyak yang tertarik tentang cerita ini..


Tapi untuk masalah Up, mohon pengertian karena Author juga manusia normal yang punya aktifitas, tidak melulu tentang menulis novel.


Author juga butuh imajinasi yang lebih uwwu dan cerita yang harus dikembangkan, karena menulis sebuah alur cerita tidak semudah itu gaes.

__ADS_1


Semoga kalian ngerti dan tetap berkomentar positif. πŸ˜‰


Satu lagi, mending harian atau mingguan dengan beberapa episode?


__ADS_2