
*Apartemen Monica
Monica merasa kesal saat menyadari bahwa Johan memanfaatkan situasi. Tapi salah dirinya juga, kenapa sampai mabuk separah itu.
Semua gara-gara Alfian!
Sampai detik ini Monica belum tahu dimana keberadaan Nino. Ken juga, kemana perginya mereka?
Entahlah!
Meskipun tidak intens dalam merawat Nino, tapi tetap saja Monica memiliki naluri seorang ibu. Ia merasa kehilangan Nino, ia merindukan bocah kecil itu.
Kring!! *Ponsel Monica berdering.
✉️ Temui aku di hotel XX, datang sendiri jika ingin anak kita selamat..
Cih! anak kita!
Monica melempar ponselnya ke atas kasur setelah membaca pesan masuk itu. Ia memang merindukan Nino, tapi apa harus dia pergi ke hotel itu? Entah jebakan apa yang sudah dirancang oleh Alfian disana.
Gimana ini? Monica mengacak rambutnya sendiri.
Gue gak boleh pergi sendiri.. Gue harus ajak seseorang! supaya.. kalo gue dalem bahaya, jadi ada yang nolong. Yaa, sebuah ide yang muncul begitu saja.
Namun ada yang harus diberi tanda kutip, siapa seseorang itu? seseorang yang akan Monica ajak?
Ken! Harusnya Ken! Dimana badjingan itu? Sial!
Dan tiba-tiba, nama yang selanjutnya muncul dikepala Monica adalah Johan.
Johan! Mungkin dia bisa bantu meskipun sebenernya masih ada kesel sama itu orang!
__ADS_1
*Dan awas kamu Ken! awas kalo kamu tiba-tiba muncul dan berbuat semaumu lagi!
Gue harus bilang apadong nanti sama Johan? apa gue harus ceritain semuanya sama dia?
Nggak! cukup gue cerita sama Ken aja tentang hidup gue! Gue bukan tukang curhat dan minta belas kasihan orang!
Lihat buktinya! Saat gue udah mulai percaya seseorang, orang itu malah meguap entah kemana*!
Monica menggerutu sendiri. Menguapkan kekesalan yang ada dihati dan pikirannya. Dan detik selanjutnya, Monica pun menghubungi Johan kemudian bergegas bersiap untuk pergi menuju alamat yang tertera di pesan yang ia terima itu.
"Jadi nanti, gue masuk kesana. Dan kalo gue kasih kode merah, lo harus kesana bawa security.. Oke?" Jelas Monica saat sudah tiba di parkiran bersama Johan.
"Hey.. tunggu dulu! Sebenernya lo mau ngapain sih?" tanya Johan.
"Lo udah sepakat yaa, mau bantu gue tanpa banyak tanya!" jawab Monica.
"Iya, tapi gimana kalo ternyata lo jebak gue? gue takut lo masih dendam gara-gara malam itu.." ucap Johan sambil menghentikan mobilnya, karena mereka sudah sampai.
"So?"
"Oke...." Monica menghela nafasnya. Ia tidak ingin bercerita, tapi ia takut jika Johan jadi tidak ingin membantunya. "Gue gak bisa cerita banyak. Yang jelas.. didalem gue mau ketemu musuh. Gue mau buat kesepakatan. Dan kalo gue dalem bahaya, gue harap lo bisa bantu gue, paham?" jelas Monica lagi.
"Kalo lo ngerasa nyawa lo terancam, kenapa lo gak bawa police aja sekalian?" tanya Johan.
Uuugghhh! Bawel banget sih! mulutnya kayak perempuan! Andai aja gue gak butuh bantuan ini orang!
"Lo mau bantu gue gak sih? kalo nggak, yaudah! gue turun dan lo pulang aja sana!" ucap Monica yang sudah mulai kesal terhadap pria itu.
"Ia gue mau bantu, tapi kan gue cuma takut aja.. Gimana kalo ternyata didalem lo ketemuannya sama sindikat Narkoba?" tanya Johan lagi.
"Johan!! Sekali lagi gue tanya, Lo mau bantu gue apa nggak? Sesimple itu dan lo gak usah banyak tanya lagi." Mode galak Monica semakin On jadinya.
__ADS_1
"Iya..iya..iya.. Oke, gue nurutin arahan lo." jawab Johan pasrah, Monica punya sisi garang juga ternyata. Namun wanitu itu jadi semakin manis, pikir Johan.
Johan pun menuruti intruksi Monica, untuk berdiam diri dimobil atau dimanapun itu asalkan masih diarea hotel. Sambil 2 menit sekali harus mengecek ponsel, apa ada pesan masuk dari Monica atau tidak.
Sementara Monica, ia langsung masuk menuju kamar hotel yang sudah diberitahukan sebelumnya.
***
103, Monica sudah tepat berada didepan pintu kamar yang diberitahukan lewat pesan. Dan yang pasti pengirimnya adalah si luck nut Alfian.
Detik selanjutnya, Monica dengan takut-takut memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
Tok..tok..tok.. tidak ada respon.
Tok..tok..tok.. Mengulangi ketukan pintu dengan dada yang semakin berdebar.
Tok..tok..tok.. tidak ada respon juga.
Hufftt.. Monica menghembuskan nafasnya dan coba mengusir rasa tegang yang berkecamuk dalam dirinya.
Setelah menunggu beberapa detik,
Klekk!! Suara pintu terbuka.
Monica menatap pintu yang terbuka itu, kemudian meneguk saliva sebelum akhirnya kaki Monica yang mempunyai keberanian terlebih dulu, untuk memasuki ruangan itu.
Tap..tap..tap.. Monica benar-benar merasa tegang, hingga rasanya setiap gerakan dan langkah kakinya sampai terdengar begini.
Blamm!! suara pintu dibanting.
Seketika Monica tercekat kaget mendengar dentuman pintu. Dan Monica lebih terkejut lagi saat melihat siapa orang yang membanting pintu tersebut.
__ADS_1
"Haloo, sayaaangg.."