
"Bee.. Dimana Nino? dia sama siapa sekarang? kamu memang ayahnya. Tapi aku pengen lihat dia, aku pengen mastiin kalo dia baik-baik aja.." Kini Monica berbicara lebih lembut, menganti siasatnya untuk menghadapi Alfian yang mungkin sudah berubah jadi monster sekarang. Monica bahkan memanggilnya dengan sebutan sayang, saat mereka masih bersama.
*****
Alfian membulatkan kedua bola matanya sambil menatap Monica, disusul oleh senyum kemenangan juga. Dia memanggilnya apa? Bee? panggilan sayang untuk dirinya.
"Akhirnyaaa..." ucap Alfian sambil merentangkan tangan dan meminta Monica untuk masuk kedalam pelukan nya.
Monica terdiam sesaat, menatap pria tersayang di masa lalu nya itu. Pria yang menyakitinya juga, pria yang menjadi ayah dari anaknya, pria yang melecehkan nya seperti sex slave kemarin.
Entah kata apa yang bisa mewakili se-brenksek apa Alfian bagi Monica.
Namun kali ini ia harus berakting. Berpura-pura menuruti keinginan bedebah itu. Demi mendapatkan informasi tentang Alvino.
Demi, ini demi Alvino.
Tap..
Tap..
Tap..
Kaki Monica mulai melangkah mendekati Alfian. Semakin dekat, semakin dekat, hingga akhirnya tubuh keduanya saling menynetuh, dan detik selanjutnya Monica membiarkan badjingan itu merengkuhnya.
"Hmmm.. aku sangat merindukan mu, sayang.. Beri aku kasih sayang itu lagi, aku janji, aku tidak akan menyia-nyia kan itu.." Bisik Alfian sambil mengisap aroma apel hijau dari parfume yang Monica kenakan.
Monica terpejam, sesaat ia melawan rasa jijik dan bencinya. Namun sekali lagi, ini demi Alvino. Dan lagi-lagi, Monica membiarkan Alfian melakukan apapun yang ingin ia lakukan.
"Stop, bee.. Kita belum selesai bicara.. Dimana Alvino?" tanya Monica sambil menepis kegiatan Alfian yang semakin jauh.
"Bersabarlah.. biarkan aku menikmati ini, aku benar-benar gila merindukanmu.." Bisik Alfian lagi, tepat ditelinga Monica.
Cup.. Cup.. Cup..
Alfian mengecupi batang leher dan juga daun telinga Monica. Semakin bergerilya, semakin jauh, hingga dengan sendirinya ia mendorong tubuh Monica hingga menempel dinding.
__ADS_1
Sungguh, meskipun dia melakukan foreplay tergila, aku tidak akan terangsang! pih!
Tangan Alfian mulai ikut mengindahkan kegiatan nya, tangan itu mulai bergerilnya di bagian dada Monica. Satu persatu membuka kancing yang menutupi bongkahan sintal milik Monica dengan lihainya.
"Aku mohon berhenti! aku sedang datang bulan!" ucap Monica sambil mendorong tubuh Alfian.
Geup!!
Tanpa menjawab, Alfian hanya menatap Monica. Tangannya langsung menuju bagian inti, memeriksa apakah benar jika Monica sedang datang bulan.
"Jangan berbohong, sayang!" ucap Alfian sambil memijat gemas bibir vagiina Monica dengan jari nya dari luar Cd. Dan ia tidak mendapati Monica sedang memakai pembalut, dan artinya Monica berbohong!
"Aku serius!" jawab Monica sambil coba mencegah tangan Alfian yang menyusup semakin jauh.
Kring..
Kring..
Kring..
Kring..
Kring..
Kring..
"Shit!!"
Dering panggilan kedua berhasil membuat Alfian berdecak, membuatnya harus meninggalkan mainan kesukaannya.
"Ken?" ucapnya pelan, saat melihat nama yang tertera dilayar adalah nama Alex, tangan kanan Ken.
"Damn!!" Alfian merematkan tangan nya.
Kenapa Boss nya itu kembali secepat itu? padahal permainan yang sudah ia rancang, baru saja akan dimulai. Seharusnya Ken menyelesaikan urusan nya di luar negri akan selesai berbulan-bulan lagi, atau mungkin satu tahun kemudian.
__ADS_1
Satu sisi..
Sebuah nada kembali berdering, buka dari ponsel Alfian lagi. Kini, Ponsel Monica juga ikut berdering dari dalam tas yang Monica bawa. Dengan pandangan mata yang saling bertemu, Monica mengambil ponselnya dengan takut-takut.
Sungguh! ini lebih dari adegan film yang sangat menegangkan!!
"Ken?" ucap Monica sambil tersenyum saat melihat nama lelaki yang ia rindukan itu muncul. Meskipun ada rasa kesal karna kepergian Ken seperti embun yang menguap, namun rasa rindunya lebih besar.
"Apa?!" tanya Alfian.
"Ken menelponku." jawab Monica.
"Jangan berani untuk menerima panggilan darinya, apalagi dihadapanku!" ucap Alfian dengan nada teriak yang tertahan.
Beberapa detik, ponsel mereka kembali bungkam. Keduanya tidak menerima panggilan yang masuk. Namun detik selanjutnya, ponsel mereka kembali mendapatkan panggilan, bersamaan.
"Sialan!" umpat Alfian lagi.
"Aku mau ke toilet." ucap Monica sambil berlari kecil, tanpa menunggu jawaban dari Alfian.
Dan keduanya, sama-sama menerima panggilan. Dengan percakapan yang berbeda, namun bermaksut pada satu orang yang sama. Ken.
.
.
.
.
.
Makasih ya, para pembaca Novel ku. Banyak yang komentar memberi author ke syenang an tersendiri. Sengaja digantung lama, pengen tau respon para pembaca hehe.
Dosa gak sih kalo bulan puasa lanjut ini cerita? soalnya bakal banyak adegan horror nya🤣
__ADS_1