
Alvino terbangun dengan sekujur tubuh yang rasanya sakit sekali. Lelaki itu mengaduh saat pertama kali membuka mata, kepalanya sangat sakit sekali. Bahu dan punggungnya juga begitu, seperti ada luka lebam dan cakaran disana.
Apa yang telah terjadi? Uwgh. Alvino menggeliat pelan.
Tunggu! kenapa badanku terasa dingin sekali! Alvino kemudian menyibak selimut yang semalaman menghangatkannya dan saat itujuga Alvino terkejut ketika melihat dirinya tanpa busana.
Astaga!! Apa yang sudah aku lakukan!!
Alvino kemudian buru-buru mengambil ponsel. Bermaksut untuk menelpon James dan menanyakan apa yang telah terjadi pada dirinya semalam. Namun saat telinga itu sudah ditempeli ponsel, tiba-tiba saja gendang telinga Alvino mendapati suara tangisan yang samar bersamaan dengan percikan air.
Alvino mengurungkan niatnya menelpon James. Lelaki itu semakin menajamkan pendengaran untuk memperjelas suara rintihan itu.
Iya! itu suara orang menangis! tapi siapa?
Alvino kemudian memungut celana yang teronggok disembarang tempat. Mengenakannya kemudian pelan-pelan mendekati sumber suara. Dan saat berada didepan pintu kamar mandi, Alvino benar-benar mendengar suara tangisan itu dengan jelas.
"Siapa didalam?" Alvino berteriak sambil berkacak pinggang. Dan tiba-tiba saja suara tangisan itu menghilang. Hanya ada suara percikan air shower saja. "Siapa didalam? buka pintunya!" Alvino berteriak lagi.
Lama Alvino berdiri didepan pintu itu. Hingga ia sudah tidak sabar lagi dan akan segera memutar handle pintu. Namun disaat bersamaan pintu itu langsung terbuka dan nampaklah seseorang dari balik pintu tersebut.
"B i a n c a?" Alvino terperangah melihat gadis dengan mata sembab itu sedang basah kuyup. Apa yang terjadi pada gadis itu? Apa yang gadis itu lakukan dikamar tempat Alvino tidur.
Bianca hanya diam membisu. Gadis dengan wajah pucat, bibir semu biru dan mata sembab itu kemudian berlalu dari hadapan Alvino.
Alvino menatap punggung Bianca. Iya, dia masih ingat saat gadis itu menari dan duduk disampingnya. Tapi ia tidak mengingat sama sekali semua yang terjadi dikamar hotel itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" Alvino melangkah mendekati Bianca yang sedang memakai pakaian. "Hey! jawab aku!"
Sakit. Hati Bianca sangat sakit sekali. Setelah apa yang Alvino perbuat semalam, pria itu malah bertanya apa yang sedang Bianca lakukan dikamar mandi itu. Hiks. Dunia Bianca rasanya benar-benar hancur sekarang.
"Jawab aku Bee! apa yang terjadi semalam? aku mabuk dan tidak mengingat apapun." Alvino berterus terang dan benar-benar bingung dengan keadaan itu.
Mabuk? apa Alvino benar-benar mabuk semalam?
Hati Bianca langsung bergetar hebat, begitupun lututnya yang kini tidak tahan lagi untuk berdiri. Gadis itu kemudian ambruk diatas lantai, menjatuhkan diri tanpa tenaga kemudian menangis lagi. Hiks..hiks..hiks
__ADS_1
"Hey.. ada apa? kenapa kau menangis?" Alvino ikut duduk disamping gadis itu.
"Puas hah! puas kau menghancurkan hidupku! kau memang punya banyak uang, tapi bukan berarti kau bisa melakukan apapun sesuka hati!" Bibir Bianca semakin rintih menahan isakan tangis saat mengucapkan kalimat itu.
"Memangnya apa yang aku lakukan?" Alvino berujar dengan wajah tanpa dosa. Ia memang tidak mengetahui apa yang sudah dia perbuat hingga menghancurkan hidup gadis itu.
Gadis itu tidak menjawab. Ia langsung bangkit dan menyambar tas miliknya. "Aku tidak ingin bertemu dengan b a j i n g a n sepertimu lagi!" Bianca kemudian pergi begitu saja dari kamar itu. Meninggalkan ribuan tanda tanya untuk Alvino. Bianca memang mengagumi Alvino juga saat diuniversitas, tapi bukan seperti ini yang dia mau. Bianca bukan wanita pemuas nafsu!
"Tunggu!" Alvino mencoba mengejar dan menghentikan gadis itu. Namun Bianca terlihat segera berlari semakin cepat.
Kring.. Disaat bersamaan ponsel Alvino berbunyi. Alhasil Alvino hanya bisa diam dan menatap kepergian Bianca. "Apa yang sudah kau lakukan James!" Alvino mengumpat kemudian meraih ponsel yang ia lempar tadi.
"Universitas H." ujar Alvino saat melihat ID penelpon itu. "Sam! apa lagi yang kau perbuat!" Kekesalan Alvino rasanya bertambah, Adiknya itu pasti ber-ulah lagi. Sudah marah kepada James kini Alvino juga harus marah kepada Sam. Kepala Alvino rasanya semakin sakit.
~
Sam sedang menunggu Alice diparkiran kafe tempat Alice bekerja. Lelaki itu nampak bersemangat menemui gadis yang sudah mencuri perhatiannya hanya dengan sebuah senyuman saja. Sam bersiul sambil duduk di kap mobil dan mengedarkan pandangannya dikafe itu, berharap Alice akan segera keluar.
Dewi keberuntungan memang selalu berpihak kepada Sam, apapun yang ia inginkan pasti akan terkabulkan. Lihatlah.. Gadis itu sudah keluar dan sedang berjalan menuju dirinya.
"Sudah selesai?" Sam berbasa-basi dan Alice hanya mengangguk dan lagi-lagi tersenyum tipis.
Aaaa~ Kenapa senyuman itu memabukan sih.
Sam kemudian membuka pintu mobil untuk Alice, mempersilahkan gadis itu untuk masuk kemudian segera mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi. "Aku akan mengajakmu berjalan-jalan, tidak masalahkan?" Sam menatap Alice sebelum pedal gas itu diinjak.
"It's okay Sam."
Keduanya saling melempar senyuman. Dan mobil itu kini mulai melesat meninggalkan tempat mereka pertama kali bertemu. "Sejak kapan kau bekerja disana? kenapa aku baru melihatmu yaaa." Sam mulai berbasa-basi.
"Baru beberapa bulan, aku pelayan baru." jawab Alice.
"Owh.. kau ingin kita makan, menonton atau apa?" Seperti biasa, jurus seorang Sam adalah memberikan penawaran.
"Sebenarnya aku lelah, Sam. Aku ingin beristirahat. Tubuhku sudah bekerja keras seharian ini." Alice memang terlihat lelah sekali. Wajar saja, gadis itu barusaja selesai bekerja.
__ADS_1
"Bagaiman kalo kita ke tempatku saja. Aku punya flat dikawasan sana, kita bisa movie time dan kau bisa sambil beristirahat. Bagaimana?"
Tidak akan ada yang mampu menolak seorang Sam. Meskipun Alice sedikit berfikir dan menimang-nimang penawaran Sam, namun pada akhirnya gadis itu menyetujuinya.
Sudah berada diApartemen Sam..
Flat yang cukup luas itu kini mirip sebuah bioskop. Ruangan gelap dan hanya mengandalkan cahaya dari layar tv yang sedang memutar sebuah film, beberapa camilan dan soda juga sudah terjejer rapi di atas meja. Alice dan Sam tampak duduk menikmati suasana itu.
"Aku ingin merebahkan tubuhku Sam." pinta Alice yang punggungnya memang minta diluruskan.
"Oke. Biar ku ambilkan bantal untukmu." Samm kemudian bangkit dan mengambil bantal yang berada didalam kamarnya. Entah kenapa Sam memperlakukan wanita itu dengan special padahal ada bantal sofa disana. Biasanya Sam yang akan dimanjakan dan dilayani wanita yang berhasil ia bawa ke flat itu. "Ini." Sam memberikan bantal itu kepada Alice dan Alice langsung menerimanya.
"Terimakasih Sam!" bibir Alice lagi-lagi mengulas sebuah senyuman. Gadis itu langsung memposisikan bantal dibalik kepalanya dan kembali menonton film yang sedang diputar.
Bibir itu.. bibir milik Alice nampak menggoda sekali. Sangat menggiurkan seorang Sam yang sudah mencicipi bibir puluhan wanita yang ia temui. Sedetik kemudian Sam ikut merebahkan diri dibelakang tubuh Alice dan memeluk gadis itu dari belakang.
Alice tidak menolak. Gadis itu membiarkan Sam memeluknya. Meskipun baru kenal tapi sebagai remaja yang hidup di kota bebas, hal itu sudah sangat lumrah. Sam menjadi pria pertama yang tertarik kepada seorang Alice, gadis itu tidak pernah berkencan dengan seorang pria sebelumnya.
Merasa mendapat lampu hijau dari Alice, Sam mulai melakukan aksi nakalnya. Hidung mancung itu sengaja mengitari kulit bagian belakang milik Alice. Membuat gadis itu meremang namun tidak menolak
Cupp!! Cupp!! Sam membubuhkan beberapa kecupan ditengkuk Alice, semakin menjalar ke bagian samping leher dan kini mengerayangi bagian daun telinga.
Alice meremang. Belum pernah sekalipun ia merasakan hal yang seperti ini. Alice tidak bisa menolak, tubuhnya seperti menginginkan ini bahkan yang lebih dari ini.
Tanpa sadar Sam sudah merubah posisinya, sedikit bangkit dan setengah mengungkunh tubuh Alice. Bibir milik Sam terus saja gencar beraksi hingga akhirnya bibir mereka sama-sama bertemu.
Tidak ada basa-basi lagi. Sam segera ******* dan meresapi bibir yang sudah membuatnya terpesona itu. Bibir yang begitu manis dan kenyal itu benar-benar memabukan saat Sam berhasil merasainya. Alice juga nampak membalas ciuman dari Sam meskipun masih sedikit kaku. Hingga semakin lama ciuman itu semakin memanas.
Kreekk!! Pintu flat Sam dibuka. Ada seseorang yang masuk ke dalam sana. Namun karena mereka sedang dibuai rasa nikmat, Sam dan Alice sama-sama tidak menyadari itu.
"Light On!"
Cring✨
Ruangan gelap bak bioskop itu tiba-tiba langsung terang. Sam yang sedang me-nindih Alice dan mencumbu gadis itu langsung gelagapan dan segera bangkit. Begitupun Alice, gadis itu terlihat langsung sibuk merapihkan kancing kemeja yang sudah dibuka oleh Sam juga merapihkan rambut yang sudah pasti berantakan.
__ADS_1
"Kakak?"