
Monica menangis sejadi-jadinya. Sungguh, skenario author yang ditulis untuknya begitu kejam, hehe. Bagaimana mungkin Monica bisa menerima kenyataan ini? bagaimana ia bisa berdiri diatas luka kehilangan seorang ayah yang bahkan sampai saat ini belum sembuh sepenuhnya. Dan kenyataan ini kembali membuka luka itu.
Alfian si b a d j i n g a n sungguh sangat menghancurkan hidupnya. Bagaiman mungkin dulu ia sangat memuja lelaki itu? Monica merasa berdosa dulu menentang ayah demi menikah muda dengan pria brengsek itu!! Tiada kata yang bisa mewakilkan betapa luck nut nya Alfian!!
Dia meninggalkan Monica saat sedang mengandung, dan bahkan iajuga tega menghabisi nyawa ayah!! Dia adalah penyebab Monica hancur!! Dia adalah penyebab Monica jatuh dalam kubangan lumpur yang hina itu!!
Huaaaa... Monica tidak bisa berhenti menangis.
"Sayaaang.." Ken memeluk Monica. Ini kali pertama Ken meraasa hati dan matanya pedih saat melihat orang menangis.
Monica hanya diam, tidak membalas atau menolak pelukan itu. Ia hanya bisa menangis dan menangis.
"Menangislah sayang.. tumpahkan semua sakit dihatimu.. Biarkan air matamu membasuh hatimu." Ken semakin merengkuh Monica. Kini ia baru sadar bahwa Monica telah berhasil menghangatkan hatinya yang sekeras batu. Nyatanya, Ken ikut meneteskan airmatanya dibalik punggung Monica.
"Mengapa dunia begitu kejam padaku!! Mengapa kebahagiaan tidak pernah berpihak kepadaku.." Lirih Monica berucap disela tangisannya.
"Tenanglah, sayang.. Aku akan menyembuhkan segala luka-mu, seperti kau menyembuhkan
hatiku.." Lirih Ken menjawab. Sifat arogan dan menakutkannya seakan menguap.
"Hatiku sakit, Ken.. sakiiiiit sekali.. Luka ini teramat pedih bagiku.. Aku tidak yakin mampu berdiri diatas luka ini.." Monica terisak, duduk dan melepaskan diri dari pelukan Ken.
"Cinta.. kita akan menyembuhkannya dengan cinta.." Ken berujar seperti ia mengerti tentang apa itu cinta. Jelas-jelas ini kali pertama ia jatuh cinta. Tapi Ken yakin, perasaan yang ia rasakan terhadap Monica memang benar-benar cinta yang tulus. Karena rasa itu hadir dengan sendirinya, tanpa dipaksa dan dibuat-buat.
"Ken?" Monica memandang Ken dengan mata sembabnya yang masih berair. "Kenapa kau ikut menangis?" tambahnya sambil menatap mata Ken yang kemerahan dan berair juga.
"Entah.. hatiku pedih melihatmu seperti itu." ucap Ken jujur.
"Jangan menangis.. kau tidak seharusnya ikut bersedih meratapi takdirku.."
"Air mataku jatuh sendiri.. bukan aku yang mau. Hah, mengapa aku seperti wanita sekarang.." Ken menghembuskan nafas sambil menghapus jejak diujung matanya.
Heh.. mengapa dia bersikap seperti itu.. Monica bergumam dan ikut menghapus airmatanya.
"Kau sudah selesai menangis?" tanya Ken.
"Percuma aku menangis, semuanya sudah terjadi." jawab Monica berlaga tegar, padahal hatinya masih tidak menerima.
__ADS_1
"Jangan pernah menangis seperti itu lagi, aku tidak tahan melihatnya.." ujar Ken sambil meraup dagu Monica. "Berjanjilah untuk selalu tersenyum.. Aku mencintaimu, Monica." tambahnya dengan senyuman hangat yang tulus.
"Apa kau sungguh mencintaiku, Ken?" tanya Monica.
"Aku bukan seorang pembohong dan aku selalu bersungguh-sungguh dalam berkata." jawab Ken.
"Baiklah, lupakan dulu itu.. Karena sekarang aku lapar.." Monica malah mengalihkan obrolan. Sepertinya hormon ibu hamil mulai menyerangnya, dari yang menangis sejadi-jadinya, berhenti begitu saja dan sekarang dia berujar lapar dengan polosnya. Mari kita lihat apalagi yang akan ia lakukan.
kruk..kruk..kruk..!!! Perut Monica berbunyi.
Hahaha.. Ken malah tertawa
"Kau ini seperti anak kecil saja." Ken mencebik gemas. "Kau ingin makan apa?" tambahnya.
"Hmm.. aku ingin makan tuna sandwich, buritto, pie apple dan segelas susu hangat." ucap Monica sambil menunjuk jarinya seolah berhitung.
"Wow, kau sungguh akan menghabiskan semuanya?" Ken heran dengan makanan yang Monica minta. Banyak sekali, pikirnya. Biasanya Monica hanya makan sedikit.. Tapi tak apalah, yang penting wanitanya senang.
"Tentu saja."
"Tuna sandwich, buritto, pie apple and milk." ucap Monica sambil plating makanan yang dibeli oleh Alex untuknya. "Apa kau tidak lapar juga, Ken?" tambahnya. Karena sepertinya yang Alex beli hanya pesanan Monica saja.
"Tentu saja, aku belum memakan apapun sejak semalam mencarimu." jawab Ken sambil menyingsingkan lengan baju dan bersiap untuk mengambil sepotong tuna sandwich.
"Eiiittz, it's mine!!" ucap Monica sambil menepis tangan Ken yang akan menyentuh sandwichnya.
"But this food is a lot, baby.." ucap Ken.
"Iya, tapikan ini makanan punyaku. Mengapa kau tidak membei saja sendiri." ucap Monica sambil meraih piring-piring makanan dan meletakan semua didekatnya.
"Are u really not going to share it?" ucap Ken saat melihat Monica benar-benar menguasai makanan itu tanpa memberinya sedikitpun.
"Panggil Alex and tell him to buy food for you. Mudah bukan?" jawab Monica sambil perlahan menyantap sepotong sandwich.
Rumit sekali!! pikir Ken. Kenapa wanita itu jadi berubah. Tapi Ken hanya bisa mengalah dan kemudian kembali menghubungi Alex untuk membeli makanan yang lain.
Dan pada akhirnya mereka berdua makan bersama-sama namun dengan makanan yang berbeda.
__ADS_1
"Pelan-pelan, sayang. I won't ask for ur food again.." ucap Ken melihat Monica yang makan dengan lahap dan sedikit berantakan.
"Hehe.. ini enak, sayang.. Eh maksutku, makanan ini sangat enak, Ken." ucap Monica sambil tertawa kecil, malu menyebut lelaki itu dengan panggilan yang salah.
"When will u call me like that permanently?" tanya Ken, sudah sejak lama ia menunggu Monica memanggilnya dengan sebutan itu.
"Eh.. Sandwich ini enak lho, kau boleh mencobanya sekarang." ucap Monica sambil memberikan sepotong sandwich yang padahal masih banyak sekali dipiring itu.
Monica kenapa mengalihkan mulu sih!! π€
"Kau terlihat aneh hari ini.. apa kau baik-baik saja?"
"Tentu saja. I'm fine at all."
"R u sure? apa kau masih bersedih tentang uncle Ben? do u need psychiatrist?"
"Hei!! aku tidak gila Ken!!"
"Maaf.. tapi bagiku kau bersikap aneh, aku takut emosionalmu terganggu."
"Tidak. Aku sungguh baik-baik saja.."
"Baiklah.. mungkin hanya perasaanku saja." Ken tersenyum simpul. Namun seperti ada yang mengganjal dihatinya.
"Can u tell me about my father? saat dia bekerja atau cerita apapun tentang dirinya yang kau tahu."
"Uncle Ben, hmm he is a good person. Dulu dia pernah bercerita memiliki seorang anak perempuan dan ternyata itu kau.."
"Sungguh? apa ayah benar-benar membicarakanku?"
"Tentu, ia juga sering memujimu. Dan artinya dulu aku pernah menggendongmu saat kau masih kanak-kanak. Hahaha betapa lucunya bagian itu, aku yang beranjak dewasa dan kau baru lahir."
Hahaha.. Mereka berdua tertawa padahal tadi mereka berdua sama-sama menangis.
***
Enjoy aja yaaa, biar gak tegang mulu hehe. π€
__ADS_1