
Monica menginap disebuah klinik dan masih ditemani oleh Johan. Meskipun Monica sudah berulang kali meminta lelaki itu untuk pulang tapi tetap saja lelaki itu tidak bergeming dan bersikeras untuk tetap tinggal,menemani Monica disana.
Monica terkulai diatas sebuah brankar, ia merasa perutnya masih sedikit nyeri. Entah apa yang terjadi pada dirinya, karna sebelumnya ia tidak pernah merasakan hal seperti ini.
Seorang perawat baru saja selesai memeriksanya, menangani apa yang Monica keluhkan. "Beristirahatlah nona, hasill pemeriksaanya akan keluar besok. Dan untuk obat pereda nyeri, bisa anda minum sekarang." ucap perawat itu sambil memberikan resep obat yang harus Monica tebus.
"Baik sus, terimakasih." ucap Monica.
"Eh..maaf tuan apa anda suami nona Monica?" ucap perawat itu saat menyadari ada seorang lelaki yang menemani Monica disana. "Bisa tolong anda tebuskan obat untuk nona diapoteker?" tambahnya.
"Dia temanku." Monica buru-buru meluruskan.
"Maaf nona, saya kira dia adalah suami anda." perawat itu tersipu karna sudah salah sangka.
"Tidak masalah suster.. berikan resep itu agar saya segera membawa obat itu kemari." Johan menimpali.
Dan detik selanjutnya Johan memabawa obat yang baru saja ia tebus dari apotek. Ia memberitahukan kepada Monica anjuran minum obat itu dan kemudian membantu Monica untuk meminum obat. Perhatian sekali.
"thx Jo, gue udah ngerepotin lo banyak banget hari ini." ucap Monica tulus.
"Gak perlu sungkan...Gue sama sekali gak ngerasa repot.. ini semua gak sebanding dengan kesalahan yang udah gue lakuin ke elo." jawab Johan. Ia benar-benar menyesal saat tidak bisa menahan diri ketika Monica mabuk malam itu.
"Udahlah Jooo... jangan bahas itu.. Lupain aja.. Toh, waktu itu gue mabuk, dan gue gak inget apapun, sama sekali." Lagipula Monica bersyukur Johan membawanya pulang saat itu, jika tidak, ia mugkin sudah semakin menggila menari dibar Red apple.
"Gue ngerasa malu aja, Mon!! b r en g s e k banget gue." Johan menundukan kepalanya.
Monica meraih tangan Johan, membuat siempunya mengangkat kepala dan menoleh kearahya. "Lupain.." ucap Monica sambil mengulas senyuman dibibir pucatnya.
"Pokoknya gue bakal lakuin apapun buat nebus kesalahan gue, kasih gue kesempatan untuk itu." Johan meraih tangan yang masih digenggam Monica, ikut menggemgam tangan Monica yang lain. Menatap mata Monica yang sangat mendamaikan baginya.
"Eh..ini udah hampir pagi, lo harus balik.." ucap Monica sambil melepaskan tangan yang tanpa ia sadari saling bertautan.
"Sorry..'' ucap Johan saat melepaskan tangan mereka. "Gue bisa libur kok besok." tambahnya.
"Nggak, Jo!!! Lo harus balik, lo gak boleh ninggalin kerjaan lo cuma karna gue."
"Serius, gakpapa. Gue yang bawa lo kesini, jadi gue bakalan nunggu sampe lo bisa balik."
"Jangan bikin gue ngerasa semakin ngerepotin elo! Please elo balik aja." Monica mengusir Johan secara halus. Entah mengapa bayangan Ken tiba-tiba muncul saat tangannya dipegag Johan. Monica tahu Ken sedang mencarinya saat ini, dan semuaya akan menjadi benang rumit yang baru jika ia medapati Johan sedang bersamanya.
__ADS_1
"Lo beneran gakpapa disini sendirian?" tanya Johan.
Monica mengangguk mengiyakan.
"Yaudah, kalo lo mau gue pulang.. tapi lo janji harus kabarin gue kalo ada apa-apa... yaaa!!"
"Abis hasil lab keluar, gue mau pulang. Jadi lo gak perlu khawatir gitu, gue juga baik-baik aja kok."
Johan akhirnya pulang, berpamitan namun dengan rentetan pesan yang bejibun. Layak seorang kawan yang akan pergi jauh meniggalkan sahabatnya.Sungguh, Johan merasa sangat senang bisa membantu Monica apalagi ia bisa sedekat itu dengan Monica. Johan bahkan tidak bisa berhenti tersenyum disepanjang perjalanan pulangnya.
***
Monica kembali membuka matanya. Ia tidur lumayan nyenyak tadi malam.. Mugkin karena dibantu obat yang ia minum. Monica kemudian mencari dimana ponselnya berada, ia benar-benar melupakan benda kecil itu. Dan ia sudah menduga apa yang akan ia temukan dalam ponselya nanti, ribuan pesan dan juga paggilan dari Ken, pasti sudah menumpuk.
Dan benar...... Baru saja layar ponselnya menyala, sudah bertubi-tubi notifikasi yang membanjiri. "Astaga!! apa kau menghubungiku setiap detik?" gumam Monica sambil memperhatikan notifikasi yang terus-terusan masuk.
"Selamat pagi, nona.. sepertinya nona tidur sangat pulas." suara seorang perawat menyapa Monica sambil medorong alat pemeriksaan. "Apa anda merasa lebih baik hair ini?" tambahya sambil memeriksa cairan inpusan yang menggantung.
"Lebih baik sus." Monica menaruh ponselnya. "Apa saya bisa pulang hari ini?"
"Tunggu dokter menjelaskan hasil pemeriksaan.. Setelah itu baru diputuskan anda boleh pulang atau tetap tinggal." jawab perawat itu.
Monica diizinkan pulang hari ini setelah Dokter menjelaskan bahwa Monica hanya mengalami kram perut biasa, bukan penyakit serius yang menakutkan.
"Jadi saya sudah boleh pulang, Dok?" tanya Monica, memastikastikan lagi.
"Tentu saja, nona. Apa suami anda sudah tiba.?
"Suami? mengapa bertanya seperti itu?"
"Tidak apa, nona. Saya hanya merasa suami anda juga harus mendengar ini."
"Apa maksudmu, Dokter?" Monica merengut semakin tidak mengerti.
__ADS_1
"Selamat, nona.. Anda hamil!" jawab dokter itu sambil tersenyum dan mengulurkan tangan.
DUAAAAARRRRR!!!! Bagai disambar petir Monica langsung melongo tidak percaya.
Hamil? Apa ia tidak salah mendengar ucapan dokter itu?
"A-apa? sa-saya....
"Iya, nona. Anda benar-benar sedang mengandung. Ini hasil pemeriksaannya." Dokter itu menyerahkan selembar kertas yang mengatakan Monica memang benar hamil.
"Aku..hamil...?" Monica berbisik pelan sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Dan bersamaan dengan rasa terkejutnya yang masih menyelimuti, ponsel Monica berdering.
"Waktu yang tepat. Sepertinya suamimu menelpon." Ujar dokter itu so tau.
Suami.. Monica bahkan masih melongo. Terpaku tidak percaya dengan apa yang sedang menimpa hidupnya. Separuh roh dalam tubuhnya seperti menghilang.
Monica kemudian menggeser tombol hijau, menerima panggilan tersebut.
"AKHIRNYA KAU MENERIMA PANGGILANKU!!! DIMANA DIRIMU, SAYANG?? AKU MENCARIMU.." Suara diseberang sana terdengar frustasi.
"Hallo.." Monica menjawab lemah.
"Apa aku menakutimu, sayang? kembalilah.. Maafkan aku." Ken menunjukan sisi lemahnya.
"A-aku...
Kita mendapatkan lokasi nona, Mister. Sahut Alex yang sibuk menatap layar computer.
__ADS_1