Wanita Pekerja Malam

Wanita Pekerja Malam
Keluarga


__ADS_3

Hallo Gaes..


Buat cerita Forbidden Love sama Wanita Pekerja Malam tuh kalian bayanginnya ini diluar negri yaa.. Karena semua culture dalam cerita ini ceritanya orang barat. Okeeeeee..


Let's check it out!!!


~


Sedang Makan Malam..


Meja makan besar dirumah itu kini penuh dengan makanan-makanan kesukaan, bahkan sebelum makan malam dimulai rasa kenyang itu sudah memabukan mata saking banyaknya makanan yang dihidangkan disana. Ditambah kursi-kursi meja makan juga terisi oleh anak-anak Monica dan Ken yang sudah sangat jarang sekali makan bersama. Hanya Sam yang masih absen dari sana.


"Adikmu lama sekali datang Al." Monica bertanya disela kunyahan pertama. Sudah berjam-jam namun anak bungsungnya itu tidak juga menampakan batang hidungnya.


"Biarkan saja sayang.. Sam anak muda." Malah Ken yang menyahuti istrinya.


"Aku tahu dad, tapi,,,,"


"Mungkin Sam sedang ada keperluan dulu Mam, tapi ku pastikan dia akan datang.. Mungkin sebentar lagi dia ada disini.." Alvino menyela ucapan Monica, tahu bahwa ibunya itu sudah khawatir dan juga rindu kepada si kecil Sam.


"Dia pasti selalu seperti itu kan kak jika berada disana, pasti menyebalkan dan selalu keluyuran." Kini Fam yang menyahut, berujar dengan nada tidak suka dan juga menuduh.


"Siapa yang keluyuran?" Suara seorang lelaki tiba-tiba menggema. Dengan senyum smirk dan segala pesona miliknya Sam terlihat mendekati meja makan yang sedang menjadi tempat perkumpulan keluarga itu.


"Sam.." Monica yang pertama berdiri dan merentangkan tangan menyambut anak bungsunya itu. "I miss u so mad.." Ucap Monica saat berhasil merengkuh tubuh Sam.


"Miss u too Mam.." Sam membalas pelukan Monica sambil mengelus punggung Monica. "Long time no see, kau terlihat semakin cantik." Puji Sam. Jika urusan merayu dan menggombal Sam memang jagonya.


"Bisa saja.." ujar Monica sambil mengulum senyuman lebar.


"Hallo Dad.." Sam kini menyapa Ken.

__ADS_1


"Welcome home, Sam." Kedua lelaki itu saling berpelukan sebentar. "Kau sangat tampan seperti saat aku masih muda."


"Iya tapikan sekarang kau sudah benar-benar menjadi pak tua! Jangan terlalu percaya diri." Monica selalu menghardik suaminya itu. Namun meskipun begitu ekspresi Monica selalu dibubuhi meledek yang menggemaskan. Itu semua hanya cara mereka bercanda sekarang.


"Dady masih sangat tampan Mam, gagah juga.. Aku setuju jika kalian kembali berbulan madu dan memberiku adik lagi." Sam menimpali sambil tertawa kecil. Lumayan lama juga si bungsu tidak bercanda dan bermanja dengan orang tuanya.


"Aaahaaa.. Ide bagus." Ken malah terlihat antusias.


"Bulan madu hahaha.. Kami sudah tua, sekarang saatnya kalian yang berbahagia." ujar Monica. Jika diingat bagaimana ketika ia dan Ken masih muda, Monica kadang selalu tersenyum sendiri.


"Tidak ada salahnya Mam, meskipun tidak lagi muda kalian memang perlu Quality time berdua." Kini Alvino menyahut.


"Hello big brother.. Maaf aku terlambat." Sam menghampiri kursi Alvino dan meninjukan tangan sebagai tanda bersalaman.


Sementara Fam hanya menatap malas. Selera makan gadis itu sepertinya hilang. Semenjak kedatangan Sam, Fam hanya menekuk wajah dan juga mengaduk-aduk makanan yang berada dipiring.


"Sibuk sekali dengan mata kuliahmu ya." Heh.. Sam tidak merasa dibanggakan, justru ia tahu apa yang dikatakan kakaknya hanya berupa sindirian. Tapi tak apalah, Alvino memang selalu mendukung aktingnya dihadapan Ken dan Monica. Alvino me-wajarkan semua yang Sam lakukan dimasa muda. Menurutnya Sam hanya sedang mencari jati diri.


"Ekhem.." Rose berdehem dan membuat Sam dan juga Alvino menoleh. "Asyik sekali ya obrolan kalian sampai lupa menyapa kami." ujar Rose dengan senyuman manisnya. Masih ingat saat dulu dua lelaki itu selalu bermain bersamanya dimasa kecil.


"Hi Rose.. Apa kabar?" Sam melambaikan tangan dan tersenyum.


"Baik Sam.. Lama tidak bertemu." Rose balas tersenyum.


"Hoho how r u my sister.." Sam segera menghampiri saudara kembarnya. "Lihatlah bagaimana bibir kakak ku yang paling cantik ini selalu mengerucut.. Nanti cantikmu hilang Fam.."


"Dibilang cantik olehmu itu tidak penting!" Fam berujar culas dan menatap adiknya dengan tatapan tidak suka. Sudah sebesar ini mereka masih saja selalu bertengkar seperti itu. Namun puncak masalah kali ini bukanlah mainan, kali ini karena Fam iri terhadap Sam yang diizinkan tinggal mandiri bersama Alvino.


"Fam!!" Monica menatap anak gadisnya. Tidak suka dengan gaya bagaimana Fam menyambut Sam.


"Duduklah Sam.. Kita makan malam bersama." Alvino menyahuti.

__ADS_1


Keluarga itu kemudian mulai bercengkrama, lumayan hangat meskipun Fam selalu menciptakan gesekan antara dirinya dan juga Sam. Hingga akhirnya malampun tiba. Masing-masing mereka sudah kembali ke kamar. Bersiap untuk tidur karena rencananya besok mereka akan family time.


Monica sudah berada dikamar dan sedang berada diatas kasur. Ken sudah terlelap namun dirinya masih saja terjaga. Membuat Monica akhirnya keluar dari kamar itu untuk melihat anak-anak yang pasti sudah tidur dikamar masing-masing.


Detik pertama Monica menuju kamar Sam dan putra bungsunya itu terlihat sudah tidur. Lalu Monica menuju kamar Fam, Fam juga terlihat sudah tidur bersama Rose. Dan yang terakhir Monica menuju kamar Alvino. Monica berjalan pelan-pelan sekali karna hari memang sudah sangat malam.


Kreekk!! Pintu dibuka.


Ternyata Alvino juga masih terjaga. Alvino sedang duduk diranjang sambil menatap sesuatu. Monica bisa melihat dengan jelas meskipun ruangan itu cukup gelap dan hanya lampu tidur yang menyala.


"Belum tidur Al?" Monica kemudian masuk dan menutup pintu kembali. Berjalan menghampiri Alvino kemudian ikut duduk diranjang. "Sedang apa?"


"Mam.." Alvino menatap sang ibunda. Tidak bisa dipungkiri bahwa Alvino sedang tidak baik-baik saja. "A-ku..."


"Kau masih merindukan Eve yaaa?" Monica dengan mudah menebak karena Alvino memang sedang memegang foto dirinya bersama Eve sewaktu kecil.


"Iya.. Aku belum bisa menemukan Eve, Mam." Alvino membuang napas frustasi. Sudah berusaha semampunya mencari Eve namun belum juga berhasil.


"Mungkin Papi-mu membawa Eve dan istrinya pindah Al.. Jika merindukan Eve kau kan bisa memeluk Fam, dia juga sama adik perempuanmu.." Monica sebenarnya malas membahas bagian ini. Ia selalu kembali mengingat masa lalu yang menurutnya tidak patut untuk diingat. Tapi mau bagaimana lagi, Eve dan Alvino memang ada hubungan darah dan sampai kapanpun tidak akan bisa dilupakan atau dihilangkan.


"Aku hanya ingin memastikan Eve baik-baik saja, Mam. Sudah puluhan tahun aku tidak bertemu dengan dia.."


"Jangan berfikir terlaku keras Al.. Lebih baik sekarang kau tidur.. Anak buahmu tidak berhenti mencari Eve bukan? berdo'a saja." ujar Monica sambil menyimpulkan sebuah senyuman.


"Maaf selalu mengungkit soal ini, Mam.." Alvino meraih tangan Monica. Menatap wanita itu penuh ketulusan. Meskipun tidak tahu seluruhnya tentang masalalu Monica, tapi Alvino tahu bagaimana kisah Monica dan Alfian____Ayah Alvino dimasa lalu. Bagaimana kisah saat Alfian meninggalkan Monica sendirian. Alvino mengetahuinya dari Isabella, sang Nenek.


Monica hanya tersenyum simpul dan menganggukan kepala pelan.


"Kau juga beristirahatlah Mam.. Besok kita harus memanfaatkan waktu dengan baik."


"Okey big brother.. Nite.. have a nice dream Nino.." Cupp!! Monica mengecup kening Alvino. Kemudian menyelimuti putra sulungnya. Menatap lagi kemudian keluar dari kamar Alvino dan segera tidur.

__ADS_1


__ADS_2