
Malampun tiba..
Alvino dibawa James ke sutu tempat dimana James sudah menyiapkan sebuh kejutan untuknya. Sebuah kejutan berupa pesta kecil yang dikhususkan untuk Alvino. Malam ini Alvino akan disuguhi beberapa wanita untuk menghibur dan membuat lelaki tampan itu senang tentunya.
"Apa yang kau lakukan James? kau mau bawa aku kemana?" Alvino melirik sekilas tempat yang tidak terlalu aneh dihadapannya.
"Hiburan kecil Tuan. Mari.." James sudah membukakan pintu mobil untuk Tuan Muda-nya itu. Lalu mempersilahkan Alvino untuk segera turun dari mobil.
Alvino hanya menurut, ikut turun kemudian merapihkan jas yang menempel ditubuhnya. Lelaki yang dingin terhadap wanita itu terlihat sangat gagah sekali. Bukan tidak pernah jatuh hati, hanya saja Alvino menganggap wanita adalah makhluk yang sangat rumit. Alvino kemudian dibawa masuk oleh James menuju tempat mirip ballroom yang sudah didesain sedemikian rupa.
"Tempat apa ini James?" Alvino memicingkan mata saat memasuki tempat itu. Hotel. Tempat itu hanya sebuah hotel. Tapi untuk apa James membawanya kesana.
"Kita sudah sampai Tuan. Silahkan duduk. Ini hanya pesta kecil dan semoga Anda terhibur."
Sejurus kemudian tempat lebar seperti Aula itu langsung menjadi gelap gulita. Namun selang beberapa detik muncul cahaya putih ditengah-tengah disertai musik yang mulai menggema. Hadir pula beberapa gadis dengan pakaian sexy yang mulai memamerkan lekuk tubuh mereka, seirama dengan musik yang dimainkan. Alvino bak seorang raja yang sedang dihibur para selir.
Ekspresi Alvino masih datar. Belum menunjukan ia tertarik ataupun menolak apa yang sedang ia saksikan itu. Alvino bahkan dilayani dua perempuan untuk membawakan dirinya beberapa minuman. Yaa, Alvino tidak se-awam itu. Ia suka minum juga meskipun bukan pecandu.
"Apa Anda menikmati ini Tuan?" tanya James dan Alvino mengiyakan dengan anggukan kecil, membuat James langsung menyunggingkan senyum simpul. "Apa ada yang Anda sukai? Anda tinggal menunjuknya saja."
Alvino tidak menjawab. Ia masih menikmati pertunjukan itu. Hingga mata itu tertuju pada seorang gadis yang menari namun dengan wajah tidak ceria. Siapa gadis itu? pikirnya. Dan sepertinya Alvino mengenal gadis tersebut. Gadis itu nampak tidak asing dalam pandangannya.
"Siapa gadis dengan gaun merah itu?" Alvino bertanya dengan mana yang tidak bisa berhenti menatap.
"Maksud Anda gadis dengan rambut ikal itu? Gadis itu bernama Bianca, Tuan."
Bianca? Benar Kan. Alvino tidak salah mengenali. Gadis itu pernah ia kagumi saat masih di universitas dulu.. Gadis pendiam yang sangat sulit didapatkan oleh semua pria yang mengaguminya.
Alvino tidaklah seperti Sam yang dengan mudah bergonta-ganti wanita karena paras tampan dan banyaknya uang yang ia miliki. Alvino lebih ke seorang pejuang yang akan bekerja meras mendapatkan apa yang ia mau.
__ADS_1
"Bawa gadis itu kemari." Titah Alvino dan sedetik kemudian James langsung mengangguk menuruti perintah Tuannya.
Gadis itu sudah berada dihadapan Alvino. Untuk beberapa detik Alvino hanya memandangi gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Gadis itu tampak menunduk dan merematkan jari-jarinya.
"Tidak perlu takut. Kau mengenalku bukan?" Alvino membuka suara sambil menyunggingkan senyuman tipis.
"I-iya Tuan." Gadis itu menjawab dengan gugup.
"Jangan memanggilku Tuan. Namaku Alvino, apa kau lupa? panggil saja namaku. Al." Alvino kembali menyesap minuman yang disuguhi untuknya itu.
"Layani dia dengan baik!" bisik James kepada gadis bernama Bianca itu.
"Baik Tuan."
Detik selanjutnya Bianca mulai melayani Alvino. Duduk disamping lelaki itu dan memperlakukan Alvino bak seorang raja. Menuangkan minuman dan juga menyuapi beberpa makanan dan buah yang ada disana.
"Kau sangat manis." Tutur Alvino. Sepertinya lelaki itu mulai teler dan kehilangan kendali.
"Aku pernah mengagumi mu, kau tahu?" Mata Alvino bahkan sudah berat dan masih terbuka namun terlihat seperti garis saja.
"I-iya." Gadis itu menjawab dengan takut-takut.
"Jangan gugup, Bee."
Bee.. siapa Bee? Namaku Bianca!
"Maaf Tuan,, Eh,, maksutku maaf Al."
Semakin lama Alvino semakin teler karena pengaruh minuman. Dan saat Alvino sudah benar-benar dikuar kendali, James mengarahkan Alvino untuk dibawa ke kamar.
__ADS_1
"Temani dia. Lakukan apapun yang Tuan Muda inginkan." titah James kepada gadis yang memang sejak tadi menemani Alvino di ballroom.
"Ta-tapi.."
"Jangan membantah! aku sudah membayarmu mahal!" tatapan James mengardik gadis itu. Dan sedetik kemudian James keluar dari kamar hotek dan membiarkan Alvino bersama Bianca didalam sana.
Bianca..
Seorang gadis yang harus menanggung beban yang lumayan berat dibahunya. Mungkin bisa dibilang Bianca adalah anak yang broken home. Karena gadis itu ditinggal sendirian oleh kedua orang tuanya. Bianca hanya tinggal bersama sang nenek sekarang.
Semula hidup Bianca normal dengan keluarga yang utuh. Namun semuanya berubah setelah ayah Bianca selingkuh, meninggalkan Bianca dan sang ibu begitu saja. Belum cukup sampai disitu, ibu Bianca juga ikut-ikutan pergi bersama lelaki lain yang menjadi pilihannya. Bianca terpaksa menjadi penari untuk manfkahi dirinya sendiri. Untuk menyambung hidup dan menanggung biaya sang nenek yang sekarang sedang sakit-sakitan.
"Kepalaku sakit.." rintih Alvino yang sudah setengah terpejam. Lelaki itu tampak memijat pangkal hidungnya.
"Kau baik-bajk saja Al?" tanya Bianca dengan suara yang lembut.
"Sakit.. kepalaku sakit!" jawab Alvino yang sudah tidak karuan.
"Biar aku bantu."
Sejurus kemudian Bianca meletakan tangan miliknya ditengkuk leher Alvino. Memberikan sedikit pijatan agar pria itu rileks. Sungguh, hati Bianca rasanya berdebar-debar. Untuk pertama kali ia melakukan ini. Meskipun sudah menggeluti profesi sebagai penari yang selaku memamerkan lekuk tubuh, tapi Bianca bukan pe-la-cur yang pernah disentuh atau menyentuh seorang pria.
"Uwh.." Alvino mendesah kecil. Piajtan tangan lembut itu lumayan menenangkan. Namun tiba-tiba saja Alvino juga meraih tengkuk Bianca tanpa aba-aba. Membuat bibir mereka langsung bertabrakan begitu saja.
Bianca membulatkan mata atas apa yang Alvino lakukan. Gadis itu berontak dan melepaskan diri. Apa-apaan ini!! Bianca memang sudah dibayar, tapi hanya untuk menari saja. Meskipun Bianca mengenal Alvino tapi yang Alvino lakukan tidak bisa dibenarkan.
Semakin Bianca berontrak justru Alvino semakin erat menarik gadis itu. Alvino memaksa gadis itu untuk memberikan apa yang dia mau. Sebuah ciuman. Ciuman yang sebenarnya adalah yang pertama bagi Alvino. Begitupun Bianca.
"Lepas Al, apa yang kau lakukan!" Bianca masih berontak dan mencoba lepas dari jerat Alvino.
__ADS_1
Namun Alvino adalah seorang pria, walaupun ia mabuk tetap saja tenaganya lebih kuat daripada Bianca. Hingga akhirnya Bianca kalah dan membiarkan Alvino menghisap bibirnya.