
Beberapa hari kemudian....
"A L V I N O...."
Kata pertama yang keluar dari mulut Monica sambil berteriak dan berlari menghambur pada bocah kecil yang Ken bawa kerumahnya. Ternyata Ken benar-benar menepati janjinya dan Putra nya itu kini kembali.
"Mamii..." ucap anak itu sambil merentangkan tangan dan berlari menuju Monica.
Monica langsung memeluk dan membawa Alvino kedalam dekapan nya. Ia mengecupi putranya, sambil berputar-putar saking senangnya.
"Kamu baik-baik aja kan, sayang? Akhirnya..... terimakasih tuhan.. Anakku sudah kembali." ucap Monica sambil merengkuh putranya, Monica sampai menangis haru dibuat nya.
Monica menghirup dalam ceruk leher Alvino. Menghancurkan rasa rindu yang menggunung dengan dekapan itu.
"Ken?" panggil Monica. "Makasih banyak." tambahnya sambil tersenyum haru dan mata yang berembun. Sungguh, Monica merasa sangat bahagia.
"Enjoy your time." ucap Ken sambil tersenyum dan meraih tangan Monica. "Aku pergi dulu yaaa, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." tambahnya sambil mengelus puncuk kepala Monica.
"Thx you so much.. See you.." ucap Monica. Dan kemudian Ken mengusap Alvino dan Monica bergantian. Tidak lupa Ken menganggukan kepala nya sekali, tanda pamit kepada Isabella.
"Terimakasih tuan.." ucap Isabella.
Dan kemudian Ken pergi, meninggalkan Monica, Alvino dan Isabella dalam keharuan dan rindu.
Entah bagaimana dan kata apa yang mampu mewakili perasaan Monica saat ini, ia sungguh bahagia bisa kembali memeluk Alvino dan mendengar tawa Alvino yang menggemaskan.
Namun ada juga yang membuat Monica merasa sedih, saat ini Alvino terlihat lebih kurus. Entah bagaimana hari-hari yang dilewati Alvino kemarin, apapun itu.. yang penting Alvino sudah kembali.
Bagai seorang narasumber, Alvino langsung diserbu oleh pertanyaan-pertanyaan dari Monica dan juga Isabella.
"Nino sudah makan?"
"Nino sama siapa kemarin?"
"Nino kangen mamii sama ibu?"
"Papi baik gak?"
"Nino diapain sama papi?"
Bahkan Monica sampai membuka pakaian Alvino, takut-takut anaknya terluka.
Meskipun putranya itu baru berusia 3 tahun, tapi Alvino sudah bisa diajak berbincang. Seperti saat ini, setiap satu pertanyaan pasti anak itu selalu bisa menjawab.
__ADS_1
..Anak itu hanya tersenyum dan mengatakan.
"Nino baik.."
"Nino main sama papii, sama tante cantik, ada dedek bayi juga."
"Nino sayang adek bayi.."
"Nino beli bumble bee dan mainan."
Dan lain sebagainya.. Anak itu bahkan masih bisa tersenyum dan tertawa, seolah kemarin tidak terjadi apa-apa.
***
Selesai kangen-kangenan dan uyel-uyelan, kini tiba saatnya Alvino untuk minum susu dan juga tidur siang. Anak itu tampak lelah sekali, badannya kurus, tidak ada istilah pipi tumpah dan tangan roti sobek lagi.
Monica yang biasanya mengandalkan sang ibu, kini turun tangan sendiri untuk mengurusi Alvino.
Monica memberikan sebotol susu hangat, dan mengarahkan Alvino agar tidur dipangkuanya.
Ada rasa sedih dan haru yang tiba-tiba menyelimutinya. Saat Monica menatap Alvino yang perlahan terlelap.
*Alvino Mahendra, Anak mami yang lahir waktu mami harusnya masih menikmati masa muda. Yang lahir waktu mami belum siap jadi seorang ibu, Kamu tumbuh disaat remaja seusia mami sedang asyik berpetualang didunia.
Orang bilang mami yang mendidik kamu, nyatanya kamu yang didik mami. Orang bilang mami yang merawatmu, nyatanya kamu yang melakukan itu. Kamu yang merawat jiwa mami sampai mami bisa kuat bertahan didunia yang keras ini.
Mami minta maaf kalo mami gak bisa jadi kebanyakan ibu didunia ini, Mami minta maaf kalo mami terlalu egois melangkah tanpa memikirkan kamu. Semua yang Mami lakukan, semuanya semata hanya untuk kita. 🤗*
Pluk!! Berbulir-bulir air mata yang mengembun itu mengalir melewati pipi Monica dan pecah begitu saja saat mengenai tangan Monica yang sedang mengelus Alvino, membantu Alvino agar lebih nyenyak dalam tidurnya.
Rasa sakit tiba-tiba menusuk hatinya, entah datang darimana. Monica sampai tidak bisa membendung air matanya.
Monica kemudian merebahkan Alvino ke atas bantal, kemudian dirinya menjauh dari Alvino. Ia langsung duduk sambil memeluk lututnya diujung ruangan.
Tangisannya pecah, bibirnya terisak. Monica membiarkan semua beban dihatinya keluar, Meniti semua kisah perjalanan hidupnya.
Yatuhaan.. Kenapa aku harus menjalani hidup seperti ini.. 😭😭😭
.
.
.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian..
Isabella masuk ke dalam kamar Monica. Ia mendapati Alvino sudah tertidur, sementara Monica sedang terisak dipojok sana. Isabella menghela nafas.
"Kenapa Mon?" tanya Isabella sambil duduk disebelah Monica.
Monica tidak menjawab, ia masih saja menangis.
"Alvino sudah kembali, kenapa kamu masih bersedih?" tanya Isabella lagi, kali ini sambil mengusap Monica. Merapihkan rambut Monica yang basah ke belakang daun telinga.
Monica menghela nafas, mencoba menahan air matanya agar tidak mengalir lagi. Dan detik selanjutnya ia berusaha untuk tenang.
"Aku cuma lelah aja bu.." ucapnya sambil masih terisak.
"Ibu tau.. kamu pasti lelah.. Dengan semua persoalan yang hadir dan harus kamu lewati, diusia kamu yang masih semuda ini.." ucap Isabella. "Menangislah.. karena memang dunia tak melulu memberikan kisah indah." tambahnya sambil masih mengelus rambut Monica.
Dan.. Aaaaaa.. Monica kembali menangis..
****
Malam hari..
Dengan mata sembab karena menangis berjam-jam tadi, Monica merasa lapar sekarang. Ia kemudian bergegas mengambil ponsel untuk membeli makanan via gfood.
Dengan cekatan, ponsel pintar nya langsung terbuka hanya dengan sentuhan ibu jari. Monica melihat ada beberapa panggilan tak terjawab, siapa lagi kalau bukan Ken? tidak. Ada dari Johan juga.
Monica mengabaikannya, dan memilih untuk membeli makanan terlebih dahulu.
Laper gak bisa di entar-entar!
Setelah selesai memesan makanan, Monica memilih untuk menyegarkan diri sambil menunggu orderannya itu datang.
Cling..Cling..Cling..
Selesai mandi✓
Makanan datang✓
makan✓
dan kenyang✓
Hahaha
__ADS_1
Monica kemudian mengambil ponselnya lagi. Mengecek panggilan tak terjawab dan juga beberapa pesan yang masuk. Hanya ada panggilan dan pesan dari dua orang, yaitu Ken dan Johan. Monica hanya membuka dan membacanya. Belum tertarik untuk membalas pesan keduanya.
Namun saat nama Ken kembali terlintas, ia jadi bertanya-tanya. Bagaimana Ken bisa membawa Alvino? dan apa yang terjadi pada Alfian sekarang? Monica bahkan tidak sempat untuk menanyakannya tadi.