
Hari ini Monica dan Ken akan kembali ke tanah air setelah satu minggu liburan di jepang, bukan liburan tapi lebih mirip seperti honeymoon.
Waktu mereka habis untuk terus bergulat di dalam kamar, bedanya mereka bukan lah pengantin baru. Bukan juga suami istri, pacar juga bukan. Ah entahlah, Monica bingung mengartikan hubungan nya dengan Ken.
Terkadang Monica terpesona oleh ketampanan Ken juga terenyuh oleh setiap kejutan dan pemberian Ken, bahkan setiap sentuhan Ken begitu Monica nikmati.
Tapi Monica juga menahan diri agar tidak mengartikan lebih, dirinya dan Ken hanya sebatas simbiosis mutualisme. Yaaa.. Saling menguntungkan.
Tidak boleh ada cinta atau apapun itu, disini hanya tentang Ken yang puas dan Monica dapat uang dan jangan lupa, ada kesepakatan hitam di atas putih tentang itu.
******* mungkin? bukan, dia bukan *******. Dulu memang sematan itu pantas untuk Monica karna dia bergonta ganti pria dan tujuanya untuk uang.
Namun apa bedanya dengan tujuannya sekarang? sama-sama uang kan? beda nya sekarang dia hanya melakukannya dengan Ken.
Pikiran Monica terus saja berlarian saat dirinya naik taksi dari bandara menuju rumahnya.
"Sudah sampai, Nona.."
Ah, suara driver itu membuyarkan pikiran Monica yang bercabang kesana kemari memikirkan sesuatu yang tak kunjung ada titik temu.
Monica turun dari taksi, driver itu membantu menurunkan barang bawaan Monica yang bejibun. Oleh-oleh mungkin? Ah, pantaskah di sebut oleh-oleh?
Sudahlah Monica, jangan terlalu berfikir keras. Kamu cukup terima saja, memang ini yang kamu mau kan?
"Mommy.." Suara teriakan di ambang pintu membuat Monica menoleh dan tersenyum. Monica menunda semua pikiran yang sejak tadi berputar di otaknya.
Monica meminta driver itu membantu membawa bawaanya ke dalam rumah sementara Monica sudah berlari menuju Alvino, Ah Monica sangat merindukan permata hatinya.
__ADS_1
"Ninoooo.." Monica merentangkan tanganya dan langsung menyambar tubuh mungil Alvino. Bibir nya menempel di pipi chubby Alvino kemudian mengangkatnya dan berputar putar.
"Mommy kangeen.. mwahh mwaahh.." Kecupan kecupan itu mendarat di pipi Alvino. "Apa kabar sayang? kangen mommy gak?"
"Monica, kamu sudah pulang?" Sapa wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya.
"Hai, bu.." Monica mendekat dan menyalimi ibu nya sambil mengecup pipi kanan kiri.
Ah, rasanya seperti sudah tak bertemu bertahun-tahun.
Monica memberi lembaran uang dan mengucapkan terimakasih kepada driver taksi. Driver itu menerima uang sambil tersenyum senang karna uang yang dia dapat lebih dari apa yang harus dia terima, ia ingin mengembalikanya karna terlalu banyak. Namun Monica bilang itu tip. Nyum.. dengan senang hati driver itu menerimanya kemudian pergi.
Monica menurunkan Alvino kemudian membawa barang-barangnya masuk, dibantu Isabella juga.
Isabella hanya diam melihat apa yang Monica bawa tanpa berkomentar. Hingga akhirnya mereka sama-sama duduk di sofa.
"Kamu gak habis ngerampok Bank kan? kamu habis dari mana Monica? apa yang kamu lakukan? jangan buat ibu khawatir." Tanya Isabella dengan nanar cemas.
Monica hanya tersenyum dan menatap ibu nya. "Haha mana mungkin bu, ini cuma oleh-oleh buat ibu sama Nino. Aku dapet ini dari..." Sesaat Monica terdiam.
"Dari siapa?" Isabella menatap Monic dengan tatapan tajam. "Gak mungkin kamu dapet ini dari tip? gak mungkin! lagian kalo punya uang mending kita lunasin hutang daripada kamu hambur-hamburin kaya gini!"
(Isabella memang tidak mengetahui detail pekerjaan Monica, ia hanya tau bahwa Monic adalah seorang penyanyi)
"Aku capek, bu. Aku mau istirahat dulu. Kita ngobrol lagi nanti malem, yaa.. Ayo Nino.." Monica memangku anak nya menuju kamar juga membawa beberapa papper bag.
.
__ADS_1
.
.
Monica sampai di kamar nya, Ia menurunkan Alvino juga mainan dan baju-baju dalam papper bag itu.
Dengan antusias Alvino menyambut mainan baru dari Monica, ia tampak begitu bahagia.
"Nino suka? mmhh gemesshh.." Kecupan dan cubitan gemas berulang kali mendarat di wajah Alvino.
Rasa lelah dan capek Monica langsung di bayar kontan dengan senyum bahagia putra nya. Sejenak Monica menatap Alvino yang sedang asyik dengan mainanya. Raut bahagia tak lepas dari wajah mungil itu.
Kenapa kamu mirip banget sama ayah kamu sih? aku yang ngandung, aku yang lahirin, aku yang berjuang. tapi sebrengsek apapun ayah kamu, mommy tetep sayang banget sama kamu. Kalo udah gede jangan kaya ayah ya, kamu harus jadi orang hebat. Bathin Monica sambil mengusap puncuk kepala Nino.
.
.
.
.
Setelah membersihkan diri Monica langsung bergelung dengan bantal dan guling di atas kasur bersama Alvino yang juga tengah terpejam nyenyak.
Mata Monica tak henti henti menatap bocah itu dengan tatapan yang sulit di artikan sambil terus membelai pipi chubby nya.
Drdd.. Drdd.. Ponsel Monica bergetar..
__ADS_1
Sayang, gunakan uang ku. Beli mobil atau apapun yang kamu mau.. Tiga hari lagi kita bertemu.. Ken❤️