
Rumah mewah bak istana yang semula dingin dan mencekam kini terasa hangat, sehangat hati pasangan yang akan segera menikah itu. Yaaa, Ken dan Monica akan segera menikah.
Dirumah yang jarang ditempati itu kini nampak sebuah kehidupan, hangatnya kasih sebuah keluarga mulai tercipta meskipun mereka sesungguhnya tidak utuh. Dirumah itu mulai ramai oleh teriakan Alvino dan Rose___putri Emily, acara lari-larian mereka yang heboh dan juga Isabella dan Emily yang terkadang sibuk mengejar.
Dan dalam hitungan bulan, akan hadir lagi seseorang yang akan menambah keharmonisan keluarga yang saling memeluk itu. Yaaa, tangisan baby yang masih ada didalam perut Monica akan menambah suasana hangat dirumah itu.
"Sudah selesai dengan vendornya sayang?" tanya Ken sambil memeluk Monica dari belakang, yang sedang melihat-lihat majalah. Mengecup wanita itu meskipun diruangan itu sedang ramai panitia pernikahan.
"Hai, sayang.. aku sedang melihat-lihat konsepnya.. coba lihat, kau suka yang mana?" tanya Monica sambil menoleh.
"Pilih semua yang kau suka, aku akan suka dengan apapun yang membuat kau senang." Cuuupp!! Ken mengecup pipi Monica lagi.
"Dunia serasa milik berdua yaaaa.." sahut Emily sambil tersenyum melihat kakak dan calon kakak iparnya itu yang selalu romantis dan menempel seperti prangko.
"Ada yang iri ternyata.. lihat ini.." Cup!! Cup!! Cup!! Ken semakin menghujani Monica dengan kecupan.
"Hei.. geli.." Monica mendelik dan orang-orang disana hanya tertawa menyaksikan adegan yang tidak pernah terbayang akan terjadi itu.
***
Malam hari..
"Kakak ipar.." panggil Emily kepada Monica yang baru saja keluar dari kamar utama. Emily mengayunkan tangan, meminta Monica untuk mendekat.
"Panggil aku Monica saja, kau tidak perlu sungkan memanggilku kakak. Umurku malah dibawahmu, nona Emily." ujar Monica sambil berjalan menghampiri Emily yang tengah duduk disofa.
__ADS_1
"Kau akan resmi menjadi kakakku sebentar lagi, kau akan menjadi orang ter-special didunia ini, jadi aku harus menghormatimu." ucap Emily.
"Begitukah nona Emily?" tanya Monica.
Hahaha.. Mereka berdua tertawa bersama.
"Jadi aku harus memanggilmu apa, wanita paling beruntung?" tanya Emily.
"Panggil namaku saja, tidak perlu sungkan." ucap Monica.
"Tidak, sepertinya aku harus memanggilmu tuan putri, aku bisa dihukum monster dingin itu jika ketahuan tidak hormat." ucap Emily.
dan Hahaha.. Mereka tertawa lagi. Calon kakak adik ipar itu tampak akrab dan sering melontarkan candaan.
"Eh kak, apa tips mu meluluhkan hati Ken sampai seperti itu?" tanya Emily dengan nada setengah berbisik. Ia masih tidak percaya dengan kenyataan ini, tentang Ken yang berubah dari monster dingin menjadi penuh cinta terhadap wanita dihadapannya ini.
"Tidak mungkin, kak. Setelah bertahun-tahun akhirnya keajaiban ini terjadi, aku benar-benar masih tidak percaya.. Kau benar-benar hebat." ucap Emily memuji Monica.
Hehe.. Aku juga merasa ini adalah sebuah keajaiban Em.. Aku juga masih tidak percaya dengan semua ini. Gumam Monica.
"Mamiii..." Alvino berteriak dan menghambur menuju Monica, begitupun Rose yang menghambur menuju Emily. Dua anak kecil itu sudah akrab sekarang.
"Hello kiddos.." sapa Monica dengan senyuman. "Sudah puas bermain?" tanya Monica kepada dua anak itu.
"Iya.. aku senang bermain dengan Rose.." ucap Alvino.
__ADS_1
"Aku juga senang bermain denganmu, Nino.." sahut Rose.
"Anak manis.. kalian harus tetap rukun sampai dewasa yaa.. Kau harus saling menyayangi satu sama lain." Monica mengusap-usap putranya yang akan segera menjadi seorang kakak itu.
"Kapan adikku akan keluar dari perut mami?" tanya Alvino.
"Tidak lama lagi, sayang.. Nanti kalian akan mengajaknya bermain bersama-sama." ujar Monica lagi.
"Apa aku juga akan memiliki adik seperti Nino, mam?" tanya Rose kepada Emily.
"Hahaha.. kau bicara apa sayang, tidak ada apapun diperutku. Nino, itu dia adikmu." ucap Emily, mengusap Rose.
"Hmm.. sepertinya kau juga harus segera menikah Em, memberikan Rose adik dan menambah anggota keluarga kita.." sahut Monica.
"Aaah.. kakak.. Aku baru menikmati moment ini, aku belum mau menikah." ucap Emily.
"Bohong.. dari raut wajahmu, sepertinya kau memikirkan seseorang saat menyebut pernikahan." goda Monica.
Aaaahhh.. sudahlah jangan membahas ini.. Gumam Emily.
Hidup yang tidak utuh itu, terasa hangat. Mencoba menyempurnakan ketidak sempurnaan. Menjadi dua keluarga yang sama-sama pincang itu, disatukan untuk saling mengisi, satu sama lain.
***
Enjoy aja ya genks sebelum tamat hehe. Thank's udah selalu suport karya abal-abalku ini..🤭
__ADS_1
Follow my IG : @Cameys19