Wanita Pekerja Malam

Wanita Pekerja Malam
Almost


__ADS_3

Brakhh!!


Pintu ruang rawat inap itu didorong dengan sangat keras hingga mengejutkan dua orang didalam sana. Itu Ken. Dengan wajah keras, dengan tatapan nyaris seperti seorang pembunuh, melangkah cepat mendekati brankar tempat Monica berbaring. Wajah Monica ditangkup oleh tangan kekar yang sekarang bergemetar.


"Sayaaang.. aku gakpapa.. sump----" ujar Monica yang menatap airmuka Ken yang penuh amarah.


Belum selesai mengucapkannya, tubuh ringkuh itu langsung didekap erat sekali. Monica bisa merasakan nafas memburu Ken yang berhembus tidak beraturan. Monica mengusap punggung Ken walaupun tenaganya masih lemah. "Aku nggak papa.." Bisik Monica.


Ken mengecup puncuk kepala Monica lama. Satu-satunya wanita yang sangat ia cintai, yang Ken rela melalukan apa saja untuk wanita itu. Monica yang ceria dan selalu membuatnya jatuh cinta dan bersemangat, Monica yang menghangatkan hati Ken, tempat Ken menyandarkan kepala dan membuka diri yang sangat tertutup.


Jiwa Ken terasa melayang saat mendapatkan kabar wanita itu pingsan dan hampir diculik seseorang. Ken tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa seorang Monica.


"Bagaimana ini bisa terjadi!!" Ken menekan kata-katanya sambil menatap Emily yang langsung menunduk takut. Tangan Ken mengepal namun Monica mendekapnya semakin erat.


"Sayang.. Emily tidak bersalah." Monica mengelus punggung lelaki yang masih mendekapnya itu.


Ken melepaskan tangan Monica kemudian menatap wajah pucat itu lembut, disertai seulas senyum tulus. Ken mengusap wajah polos itu.


Monica terus memperingati Ken lewat tatapannya, namun sepertinya amarah Ken sudah tidak terkendali. Lelaki itu memutari brankar menuju Emily yang sedang duduk.


"JAWAB!!" Ken berteriak didepan wajah Emily.


Emily semakin bergetar, tangannya sudah berkeringat dingin sejak tadi. Kini lidahnya juga terasa membeku, ia tidak bisa berucap sama sekali.


"Bagaimana bisa ini terjadi!!" Ken berteriak lagi dengan wajah keras dan urat yang hampir putus saking kerasnya ia berteriak dan menumpas amarahnya.

__ADS_1


"Adikmu tidak bersalah, bung." Seorang lelaki masuk, membuat tiga orang diruangan itu menoleh ke sumber suara.


Johan.. Dua wanita itu sama-sama bergumam.


"Siapa kau?" Tanya Ken menatap lelaki itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aaaaahhh.. dia kekasihmu kan?" tanya Ken pada Emily.


Gulp!! Emily masih tidak menjawab. Ia sangat takut sekali.


"Jadi kau sedang berpacaran saat Monica dalam bahaya?" Ken semakin marah.


"Tidak begitu, Monica sedang ditoilet saat---"


"DIAM!!" Kali ini Ken berteriak pada orang asing itu.


"Bohong!! Alex bilang ada yang menyerangmu ditoilet itu. Aku sudah melihat cctv mall itu, Monica. Kau tahu siapa pelakunya? atau kau akan berbohong lagi?" Ken menatap malas pada Monica, tidak tahu kah bahwa Ken hampir mati mengkhawatirkan dirinya.


"Aku tidak akan memaafkanmu lagi jika terjadi sesuatu pada Monica dan bayiku!!" Ken kemudian berlalu dari tempat itu, menemui Alex untuk menggali neraka lebih dalam untuk dua tikus yang masih bertingkah dan tidak jera itu.


Hiks.. Emily langsung menangis. Hatinya sangat hancur mendapati Ken yang sangat marah karena kebodohannya itu.


Johan menghampiri Emily, mendekap wanita yang sedang menangis itu.


"Maafkan aku, Em.. aku yang salah, aku yang tidak berhati-hati.." Monica merasa bersalah melihat Emily menjadi korban kemarahan suaminya.


"Memang aku yang salah kak, aku membiarkanmu pergi sendirian tadi." Emily semakin terisak.

__ADS_1


"Aku bukan tuan putri yang harus dikawal kemanapun aku pergi, Em.. Kau tidak bersalah."


"Tidak perlu takut, Em.. aku dan Monica akan membelamu karena kau memang tidak bersalah." Johan ikut berujar sambil mengelus kepala Emily.


Monica menatap sepasang kekasih yang sepertinya memang saling mencintai satu sama lain itu. "Jo.." panggil Monica. Dan sepasang kekasih itu menoleh bersamaan. "Lo beneran sayang sama Emily kan?" tanya Monica.


Johan mengangguk. Tatapannya memang menunjukan lelaki itu mencintai wanita disampingnya. "Tentu, Mon.. Andai gue tahu alesan dia dulu ninggalin gue, gue gak akan pergi dan ngebiarin dia hidup menderita." ucap Johan.


***


Flashback


Johan dan Emily memang sepasang kekasih yang sudah saling menyayangi satu sama lain. Bahkan, dulu mereka sudah hampir menikah. Namun karena Ibu yang sering menjual Emily kepada rekan-rekannya, Emily mengandung Rose.


Emily merasa bersalah karena secara tidak langsung mengkhianati Johan, ia sangat amat malu dan berdosa terhadap lelaki itu. Emily memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu dan menghilang pergi jauh dari hidup Johan.


Johan merasa patah hati sendirian, ia ditinggalkan wanita yang sangat ia cintai tanpa sebab yang jelas. Johan memendam cintanya untuk Emily selama bertahun-tahun, hingga akhirnya Johan bertemu dengan Monica.


Johan mulai tertarik dan ingin kembali membuka hati. Namun takdir berkata lain, Emily justru kembali lagi. Menceritakan beban yang ia pikul sendirian.


Mengetahui Monica juga memiliki kekasih, Johan mencoba melupakan wanita yang sempat membuatnya tertarik itu, kemudian ia memilih untuk menabur benih cinta yang mati beberapa tahun lalu. Kembali menerima Emily yang memang sangat ia cintai.


***


Syukurlah.. Monica lega mengetahui Johan memang benar-benar mencintai Emily.. Rasa takut yang bersarang dihati Monica kini menguap begitu saja.. Mereka juga layak bahagia! Gumam Monica.

__ADS_1


__ADS_2