Wanita Pekerja Malam

Wanita Pekerja Malam
Pulang


__ADS_3

Berhari-hari Famela mogok makan. Menunjukan bahwa dirinya benar-benar marah kepada orang tuanya. Famela bahkan tidak mau sekedar menyapa dan berbicara. Membuat Ken dan Monica mulai menepuk jidat dan menggelengkan kepala.


"Fam.." suara Monica memanggil lirih saat Famela sedang bersembunyi dibalik boneka kesayangannya. Yang gadis itu lakukan hanya seperti itu setiap hari. "Kau masih marah?" Monica duduk ditepi ranjang. Kemudian mengelus rambut putri satu-satunya itu.


"Kau bilang kau sudah dewasa, tapi lihat.. sikapmu masih seperti anak kecil." Monica berujar lembut sambil masih mengelus Fam.


"Mam please.. Aku sedang tidak mau diganggu!" sahut Fam dari tempat persembunyian.


Huh.. Monica membuang nafas jengah. "Liat siapa yang datang.. Kau tidak malu terlihat kusut seperti ini?" Fam kemudian mengintip dan dilihatnya Rose yang masuk kedalam kamar.


"Apa kabar Fam?" sapa Rose ramah.


"Baik!" Jawab Fam datar.


"Lihatlah gadis kecil Onty, Rose.. Berhari-hari dia melakukan ini." Monica mengulum sebuah senyuman diwajahnya yang masih cantik meskipun tidak muda lagi.


"Astaga!! apa kau tidak mau menyambut kak Alvino pulang?" Rose ikut-ikutan menggeleng kepala melihat tingkah gadis yang memang manja itu.


"Kak Alvino pulang? kenapa tidak memberitahu aku sih!" Fam keluar dari persembunyian dan menampakan wajah yang kusut berantakan.


"Salah siapa tidak mau diajak bicara." ujar Monica.


"Aaaa Mami selalu saja menyebalkan!" Fam kembali menjatuhkan diri tanpa tenaga.


"Ayolah Fam.. sebentar lagi kak Alvino datang!" Rose menarik tangan Fam agar gadis itu bangun.


~


Alvino sudah tiba..


"Ninoo.." Monica merengkuh putra sulungnya saat baru saja memasuki ruang tengah. "Mami sangat merindukanmu."


"Aku juga merindukanmu Mam." Alvino balas memeluk wanita yang baginya tercantik didunia. "Stop memanggilku Nino, Mam. Aku sudah besar." Bisik Alvino dan kemudian mereka tertawa bersama. Nino memang panggilan kesayangan khas Monica, hanya Monica yang memanggilnya sama dengan nama masa kecilnya.


"Dad.. Apa kabar?" Alvino juga memeluk pria yang menyambut kedatangannya.


"Fine.. how r u big brother?" Ken balas memeluk kemudian meninju bahu Alvino pelan.


"Bagaimana? kau sudah punya kekasih sekarang?" Tanya Ken dan itu sukses membuat sang istri membulatkan matanya.

__ADS_1


"Hehe.." Alvino hanya tertawa kecil.


"Dasar pak tua! yang kau tanyakan selalu saja tentang wanita! Tidak bisakah menanyakan hal lain?" Gadis nakal Ken mengerucut sebal. "Dimana Sam?"


"Sebentar lagi dia sampai.. Kami berangkat dimobil yang berbeda." Alvino tersenyum simpul karna berbohong kepada Monica. Alvino tidak tahu dimana Sam berada karena sejak semalam adiknya itu sulit dihubungi.


"Baiklah.. Kita bisa menunggunya sambil berbincang."


Mereka bertiga kemudian duduk. Saling bertukar cerita dan juga menanyakan hal-hal seputar keseharian mereka saat berjauhan. Alvino terlihat selalu dipuji oleh Ken dan Monica atas keberhasilannya.


"Tidak perlu berlebihan.. Aku hanya melakukan tugasku." Alvino tersenyum. Tidak terlalu suka saat dipuji berlebihan. "Dimana Fam? aku tidak melihatnya sejak tadi." Alvino mengalihkan pembicaraan karena memang ia merindukan adik kecilnya itu.


"Dia masih saja merengek, Bro. Memaksa ingin mengikutimu." Ken berujar seolah Alvino adalah teman. Selalu seperti itu terhadap anak-anak lelakinya.


"Dia bersama Rose, mungkin sebentar lagi mereka turun." Monica ikut menimapali. "Nah itu mereka."


"K A K A K!!" Gadis manja itu sudah merentangkan tangan dari kejauhan. Meminta sebuah pelukan kepada Alvino.


"My little Famela.." Alvino ikut merentangkan tangan menyambut pelukan Fam. "How r u?"


"I'm not okay!" Famela bahkan masih merajuk. Meminta isyarat agar Alvino mau membantunya untuk membujuk Ken dan Monica. Karena selama ini apapun yang dikatakan Alvino selalu saja dituruti orang tuanya itu.


"Hallo.. Long time no see you big brother.. Kau terlihat semakin tampan saja." Puji Rose sambil cipika-cipiki.


"Kau juga semakin cantik." Alvino balas memuji. "Tidak seperti si manja-ku yang selalu menekuk bibirnya." Alvino menyindir Fam.


"Aaaaa kakak.." Fam masih berujar dengan sangat manja. Memang menunjukan bahwa gadis itu benar-benar masih anak kecil. Membuat orang diruangan itu selalu saja gemas dengan tingkah Fam.


"Sambil menunggu Sam, aku ingin beristirahat di kamar lama ku. Tidak apa kan?" pamit Alvino setelah selesai menyapa orang-orang disana.


"Baiklah.. kau memang terlihat lelah.. Beristirahatlah dulu." ujar Monica.


"Biar aku yang mengantar kakak ke kamar." Sahut Fam.


Cih, pasti ada udang dibalik batu!


"Ayo.."


Alvino kemudian berjalan bersama Fam menuju kamar yang sudah lama tidak ia tempati. Meninggalkan Ken, Monica dan Rose diruangan sana.

__ADS_1


"Kak Alvino sangat tampan ya Onty! Semakin lama Kak Alvino semakin berkharisma." puji Rose saat melihat kedua punggung kakak beradik itu mulai menghilang dari pandangan.


"Alvino tertular penyakit tampanku Rose." Malah Ken yang menimpali.


"Dasar pak tua. Selalu saja genit!" Monica menatap malas pada suaminya yang masih saja seperti dulu.


"Hehe.. Kau menggemaskan jika sedang bereskspresi seperti itu.. Jangan membuatku menciummu dihadapan Rosa, sayang."


"Hei uncle! Jangan mengotori mataku dengan melihat kalian berciuman. Pergi saja ke kamar sana!" Rose menyahut sebal. Sebagai seorang jomblo Rose merasa tersindir secara halus.


"Wah.. Rose sepertinya mendukung, Ayo sayang."


Ampun dah Pak tua!


Sementara Fam dan Alvino


"Kak.." panggil Fam saat mereka berdua sudah sampai dikamar lama milik Alvino. "Aku..."


"Aku tahu Fam.. Kau memintaku untuk membujuk daddy kan?" Alvino langsung menebak tanpa menunggu Fam selesai dengan kalimatnya. Sudah sejak lama gadis manja itu merengek soal ini. "Memangnya apa yang membuatmu ingin jauh dari Mami dan Daddy? kau tidak nyaman berada disamping mereka?" Alvino merebahkan diri diatas kasur yang sudah sejak lama tidak melelapkannya.


"Bukan seperti itu kak,, Tapi.." Hm Fam menimang-nimang jawaban. Tidak boleh salah berucap atau impiannya itu menguap tiada celah. "Kau tahu aku sangat manja bukan? aku hanya ingin hidup mandiri.. Tidak terus menerus bersembunyi dibalik ketiak Mami. Please kak, ku mohon.. Aku ingin menjadi gadis dewasa."


Hehehe.. Alvino hanya tertawa kecil. Jawaban itu sepertinya bukan jawaban sebenarnya. Alvino tahu Fam ingin hidup bebas tanpa diikuti para bodyguard yang setia mengikuti dirinya kemanapun dia pergi.


"Biar Mami dan Daddy juga banyak waktu berdua, Kak. Biar mereka kembali memutar kenangan saat mereka masih muda. Kau ingat bukan, dulu mereka sangat romantis sekali.."


"Nanti aku pikirkan Fam.. Tapi sekarang aku benar-benar ingin beristirahat." Alvino bahkan sudah memejamkan mata.


"Baiklah.. tapi kau berjanji kan untuk ini?"


"Faaaaammm.."


"Iya Kak.. Selamat beristirahat."


Huh, Diminta untuk berjanji saja apa susahnya sih! tapi semoga kakak benar-benar memikirkannya dan benar-benar mau membujuk Mami dan Dady.


Famela sudah pergi. Kini Alvino tinggal sendiri dikamar itu. Lelaki itu tidak benar-benar mengantuk. Hatinya hanya sedang sedikit gusar. Alvino kemudian mengirim pesan kepada James untuk mencari Sam. Dan sejurus kemudian Alvino berjalan menuju sebuah lemari yang terkunci rapi.


Dibukanya lemari itu dan diambilnya sebuah kotak darisana. Alvino membawa kotak itu ke tepi ranjang. Membukanya kemudian mengambil sesuatu didalamnya.

__ADS_1


"Dimanakah dirimu sekarang, Eve.." ujar Alvino sambil memandang sebuah foto lawas saat dirinya masih kecil.


__ADS_2