
Sam terlihat sangat berantakan. Siapa sangka gadis yang ia kagumi itu tiba-tiba berubah. Gadis yang baru pertama kali bercinta itu seperti kecanduan. Entah ada kelainan sex atau apa yang jelas Alice tiada puasnya dalam bercinta. Dan kini malah Sam yang kewalahan.
"Ayo Sam aku mau lagi!" pinta gadis yang sedang berbaring disamping Sam. Padahal mereka baru saja selesai bercinta beberapa menit yang lalu.
"Kau gila Alice! kita sudah bergulat sejak tadi." Sam bahkan masih mengatur nafasnya yang berantakan.
"Ayolaaah.." Alice mulai menggoda Sam dengan memasukan jari Sam kedalam mulutnya.
"Alice aku benar-benar sudah....."
Ting.. Tong.. Suara bell apartemen Sam berbunyi. Membuat Sam tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Siapa sih.." Sam bahkan tidak bergairah untuk bangkit. Tubuhnya benar-benar lemah.
"Biar ku lihat." ujar Alice sambil melilitkan sebuah handuk ditubuhnya. Gadis itu beranjak tanpa menunggu persetujuan Sam.
Alice sudah didepan pintu. Dilihatnya sebuah layar yang menunjukan aktifitas loby dan juga aktifitas diluar pintu itu. Alice terdiam sesaat saat mendapati seorang wanita berkacak pinggang dan lagi-lagi menekan tombol.
"Siapa dia?" Alice termangu sendirian. Kemudian Alice segera kembali kekamar dan mengatakan kepada Sam apa yang dilihatnya tadi. "Ada seorang wanita diluar.. Apa dia kekasihmu?"
"Wanita?" Sam kembali membuka mata meskipun sebenarnya ingin sekali tidur. Wanita yang Alice maksut pasti Laura, kekasihnya. "Kau harus bersembunyi!" titah Sam sambil memungut pakaian yang berantakan dan segera memakainya. Merapihkan kasur yang berantakan dengan terburu-buru. Mengumpulkan pakaian Alice kemudian menyembunyikannya dibawah ranjang. "Cepat sana!" Sam meminta Alice untuk masuk ke lemari pakaian.
Alice menurut tanpa mendebat. Lalu Sam segera berlari menuju pintu utama untuk menyambut wanita yang sudah pasti adalah kekasihnya. "Hai beb.." Sam membuka pintu dan benar saja, wanita itu adalah Laura. Sam menatap Laura penuh canggung. Nafas Sam bahkan berantakan karena berlari terburu-buru.
"Lama sekali sih!" Wanita itu mengerucut sebal.
"Aku sedang tidur sayang, maaf." Sam meraih tangan Laura dan kemudian membawa wanita itu masuk. "Tugas kuliahku sedang menumpuk, aku sangat lelah."
"Bohong! bukannya kau sering bolos." Laura merajuk dengan wajah yang masih ditekuk. Kemudian menjatuhkan diri diatas sofa tanpa tenaga. Diikuti Sam yang duduk disamping Laura dan memainkan rambut milik Laura.
"Kakak sudah memperingati aku kemarin, mana mungkin aku berani seperti itu lagi." Laura sudah bersama Sam kurang lebih satu tahun, wanita itu sudah tahu banyak tentang Sam. Bahkan soal Sam yang segan kepada Alvino pun Laura tau.
"Baguslah kalo begitu.. Kau jadi rajin dan tidak perlu berkeluyuran seperti biasanya." Laura langsung mengulum sebuah senyuman kecil meskipun masih sebal. Merasa senang atas apa yang ia dengar. Jika Sam rajin kuliah maka kekasihnya itu tidak akan sering-sering bepergian yang kadang tidak ia ketahui.
__ADS_1
"Hehe.." Sam ikut tertawa kecil ketika melihat Laura sudah menunjukan senyumannya. Padahal tanpa perlu berkeluyuran, sudah ada seorang wanita yang beberapa hari ini selalu menani Sam saat Laura tidak ada. "Tumben tidak menelponku dulu?" Sam berbasa-basi. Biasanya jika akan datang ke flat, Laura selalu mengabari terlebih dahulu. Minta dijemput atau sekedar memastikan bahwa Alvino sedang tidak berkunjung kesana.
"Heeeeyy... berhari-hari ponselmu itu tidak aktip! Memangnya kau sibuk sekali yaa sampai melupakan aku. Tidak menjawab telpon atau membalas pesan.. Menyebalkan sekali sih!"
"Iya sayang.. Kau tahu kan akujuga sibuk diajari bagaimana cara bekerja dikantor." Pih, Sam berdalih dengan seribu alasan yang dibuat-buat. Padahal kenyataan yang membuatnya sibuk adalah Alice.
"Iya iya aku mengerti." Laura kemudian menjawil pria yang paling tampan miliknya itu. "Aku merindukanmu sayang." Cupp!! Laura tanpa aba-aba langsung menyambar bibir milik Sam. Sementara Sam yang mendapat serangan hanya bisa berusaha mengimbangi kekasihnya itu.
Treek!! Tiba-tiba terdengar suara yang tidak tahu darimana sumbernya. Membuat ciuman mereka berhenti dan refleks melepaskan diri masing-masing.
Gawat! itu pasti Alice! batin Sam.
"Suara apa itu?" tanya Laura sambil menajamkan pendengarannya. Namun gendang telinga Laura tidak mendengar apapun lagi. " Suara itu berasal dari kamarmu Sam!" Laura kemudian refleks berdiri.
"Bukan apa-apa sayang.." Sam menarik tangan Laura agar kembali duduk disampingnya.
"Jelas-jelas ada suara darisana! Awas! biar kulihat." Laura kemudian benar-benar beranjak dari sofa dan bergegas menuju kamar Sam.
Sialan! Setelah ini aku pasti menyaksikan perang dunia ke dua. Batin Sam.
Haduh!! Sam hanya bisa menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangan. Laura pasti sudah mengetahui keberadaan Alice disana.
"Kamarmu berantakan sekali sih!" Laura berteriak lagi. Hah? Sam menoleh. "Jorok!!"
Apa Laura tidak melihat Alice ya? "Eh iya sayang. Aku benar-benar sedang malas. Sengaja tidak mendatangkan pekerja untuk membersihkan flat hari ini. Aku benar-benar ingin beristirahat." ujar Sam berbohong lagi.
Dasar buaya! banyak banget boongnye *Author😅
"Kemarilah.. aku ingin kau membuatku rileks."
Laura kemudian kembali ke sofa. Duduk dan mempersilahkan Sam menjadikan pahanya sebagai bantal. Kemudian mengelus lelaki itu dengan lembut. "Rambutmu berantakan sekali Sam."
Hehe..
__ADS_1
Sam tidak menjawab dan hanya membiarkan Laura mengelus kepalanya berulang.
Ting..tong.. Bel berbunyi lagi. Membuat Sam yang sudah berada diposisi nyaman kembali terusik.
"Apa itu kak Alvino?" Laura menatap pintu dan Sam bergantian. Laura tidak berani menghadapi Alvino karena Alvino sudah terang-terangan menentang hubungan mereka. Laura dianggap sebagai sumber masalah Sam yang sering bermasalah diuniversitas. Meskipun iya dan begitu kenyataanya, tapi semuanya tidak seratus persen karena Laura.
"Biar ku lihat." Dengan malas Sam kembali bangun. Menuju pintu kemudian membukanya. "Ada apa James?"
"Selamat malam Sam." sapa James dengan ramah.
"Ada apa?" Sam menjawab malas.
"Tuan Muda meminta anda untuk segera datang ke rumah Mister Ken." James to the poin.
"Kenapa kak Alvino ada disana?" Sam menatap heran.
"Saya tidak tahu. Saya hanya diminta mencari anda kemudian membawa anda kesana."
Sial! Apalagi ini? Tubuhku benar-benar lelah. Masa iya harus dipaksa tetap bergerak. Umpat Sam dalam hati.
"Baiklah.. aku akan menyusul kakak besok."
"Tuan Muda meminta malam ini."
"James.. Aku sedang lelah.. Kau bisa mengatakan tidak menemukanku dimanapun kepada kakak. Yaa?" Sam mencoba bernegosiasi dengan sekertaris Alvino yang sangat setia.
"Baiklah.." ujar James dan itu sukses membuat Sam bernafas lega. Namun sejurus kemudian James mengambil ponsel dan menelpon seseorang.
"Selamat malam Tuan Muda.. Saya berada diflat milik Sam dan Sam meminta saya untuk mengatakan bahwa saya tidak menemukan dia dimanapun."
"Sialan Kau!!" Sam merampas ponsel itu dan untungnya James hanya berakting barusan. Tidak benar-benar menelpon Alvino. "Tunggu dibawah, aku akan bersiap." Sam menutup pintu itu tanpa permisi. Kemudian berjalan malas menuju sofa.
"Ada apa?" tanya Laura.
__ADS_1
"James." jawab Sam.
Sam kemudian meminta Laura untuk pulang karena dirinya akan pergi bersama James menuju rumah Ken. Sementara Alice, gadis itu sudah keluar dari persembunyian. Dan Sam mengatakan hal yang sama kepada Alice. "Kau boleh menungguku disini.. Aku hanya pergi satu atau dua hari."